Hari ini saya benar-benar sial, tepatnya tanggal 18 Oktober 2018. Saya baru menyadari saya telah menghabiskan waktu yang begitu banyak yang pada akhirnya membuat saya tidak wisuda tahun ini. Saya bukan ingin menyombongkan diri, saya tidak termasuk mahasiswa yang IQ nya dibawah rata-rata. Justru IQ saya adalah IQ tertinggi nomor urut kedua ditempat saya bekerja. Namun, saya sungguh sama sekali tidak tertarik mengerjakan yang namanya SKRIPSI.

Justru saya lebih menikmati dunia saya yang bebas bergerak kemana saja, dibanding teman-teman saya yang sudah sangat menikmati hidupnya sebagai mahasiswa tingkat akhir.

Advertisement

Sebut saja saya Fey. Saya adalah mahasiswa SALJU yaitu SALAH JURUSAN. Saya mengambil perkuliahan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program studi BAHASA INGGRIS. Dari pertama sekali saya masuk kuliah semester satu saya masih merasa baik-baik saja tanpa merasakan adanya gangguan pada sistem saraf berpikir saya. Akan tetapi saat berada di semester tiga saya bertemu dengan mata kuliah yang sangat saya tidak mengerti mengapa itu harus dipelajari.

Alhasil sayapun belajar antara mau dan segan untuk mempelajarinya. Sulit, benar-benar sulit karena saya harus mempelajari yang pertama adalah bahasa asing yaitu bahasa Inggris walaupun sudah tidak asing lagi, yang kedua saya berpikir hanya belajar berbicara, menulis, membaca dan mendengarkan namun harus belajar yang namanya Syntax, Morpholgy, dan lain-lain.

LUAR BIASA! Ketiga saya bertemu dengan teman-teman yang bukan tipe saya, mereka semua memang layak jadi guru kecuali saya dan yang terakhir saya harus belajar bagaimana menjadi guru yang baik dan benar.

Advertisement

Jujur saja selama kurang lebih dari 4 tahun saya menjalani rutinitas sebagai mahasiswa seperti yang lainnya bedanya saya datang untuk menjalani apa yang tidak saya inginkan. Saya tidak suka bukan berarti saya tidak menikmati prosesnya pembelajaran, saya tetap menjadi mahasiswa yang sangat ditakuti jika memberi pertanyaan dan argumen. Berkali-kali saya bisa memenangkan dan memecahkan masalah dan bisa menarik kesimpulan yang teman-teman saya rasa sulit untuk menjawabnya.

Saya golongan mahasiswa pekerja, selain kuliah saya juga bekerja di Yayasan Pendidikan bukan sebagai guru melainkan sebagai Operator sekolah. Dunia saya selalu berbicara tentang yang namanya PENDIDIKAN dan GURU. Dua hal yang tidak terpisahkan dari bagian hidup saya saat ini. Walaupun saya tidak tau dengan jelas akankah saya akan benar-benar menjadi seorang Guru atau…. entahlah biarkan waktu yang menjawab.

"Fey, kamu udah siap sampai bab berapa?" Tanya teman-temanku.

"Bab 1 halaman pertama." Jawabku.

"Dasar lu SALJU, hobinya mengarang dan menggambar kuliahnya disini" ejek mereka.

"Brisik lu! Tuhan yang atur semuanya, yang penting gua usaha dan mengerjakan bagian gua sebagai mahasiswa" Jawabku.

Di akhir semester ini saya banyak bingungya harus memulai dari mana, saya mendapat dosen pembimbing yang tidak saya harapkan. Jujur saja, saya hanya mengerjakan apa yang saya ketahui walaupun dosen saya sering meminta hal yang membuat saya merasa malas untuk mengerjakannya.

Berkali-kali saya membuat judul dan berkali-kali judul itu harus ditolak, berkali-kali saya menyelesaikan BAB 1 hingga BAB 3 sama saja banyak yang salah. Terakhir kali aku kesal dan memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Tapi, aku mengingat perjuangan orang-orang yang sudah memberiku kesempatan untuk bisa kuliah. Aku coba lagi, namun GAGAL dan GAGAL.

Saat itu aku merasa adalah manusia terbodoh yang pernah Tuhan ciptakan. Disaat aku berada pada keadaan itu, saya meminta doa dari ibu saya. Setelah itu saya menjumpai dosen pembimbing saya. Disitu saya melihat mujizat BAB 1 sampai BAB 3 saya diterima dan saya lanjut ke seminar proposal.

Pada saat seminar proposal saya melakukan kebodohan terbesar saya, saya tidak mengundang dosen penguji saya. Saya hanya berdoa dan meminya ampun akan kebodohan yang telah saya lakukan.

"Fey, fey kamu yah bodohnya luar biasa! Bisa-bisanya kamu tidak memberi tahu dosen pengujimu. Berdoalah kamu mana tahu mujizat terjadi" Sentak dosen pembimbingku.

Saya hanya diam sembari berdoa didalam hati. Di saat itu saya tidak bisa berkata apapun selain pasrah kepada Tuhan. Karena jika dosen penguji saya tidak mau, maka saya akan menunggu lagi waktu yang cukup lama untuk melakukan seminar proposal. Saya dengan bingung dan malu mencari nomor yang bisa saya hubungi dan akhirnya ketemu.

Puji Tuhan hatinya dijamah Tuhan dan saya mendapat nilai B.

Walaupun nilai yang saya peroleh cukup bagus, tidak membuat saya bisa wisuda bersama-sama teman sekelas saya. Saya harus menunggu tahun depan. Saya sudah banyak mengecewakan orang-orang yang saya sayangi termasuk kedua orangtua angkat saya yang sudah berlelah-lelah mengkuliahkan saya.

Berbicara tentang hasil pasti yang ada dibenak kita bisa berupa karya, uang, pujian, dan lain-lain. Apakah kamu sudah siap untuk memperoleh hasil yang terbaik?

Saya bisa menikmati kuliah semua karena berkat Tuhan yang menitipkan saya pada orangtua angkat saya yang sama sekali tidak pernah saya kenal. Mereka yang dengan murah hati mau memberi saya kesempatan seolah-olah saya sedang mempermainkan mereka dengan saya tidak bisa wisuda d iwaktu yang tepat.

Kesimpulan yang saya mau sampaikan adalah jangan pernah melakukan hal yang tidak kamu suka karna hasil yang kamu peroleh tidak akan pernah maksimal. Belajarlah melakukan hal yang kamu senangi dan hal yang membuat jiwamu tertantang. Apabila suatu waktu kamu dipaksakan melakukan hal yang tidak kamu suka belajarlah mempersiapkannya dengan semaksimal mungkin.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya