Waktu itu, aku pulang ke Tanah Air di penghujung tahun. Aku pun berusaha menghubungi teman-teman kuliah ku, termasuk kamu. Tak ada niat apapun, tak lebih dari seorang teman yang ingin melepas rindu dan penat dari kericuhan hidup sehari-hari. Tak dinyana, kamu pun tak memberi kabar sampai akhirnya, teman baikmu yang saat itu hadir memberitahuku kamu tak bisa datang.

Dan aku pun baru tau bahwa kamu sudah menikah. Terakhir aku berkomunikasi denganmu sekitar 2 tahun yang lalu, tak ada sedikitpun terucap darimu bahwa kamu sudah menikah. Aku pun bahagia mendengarnya, tapi entah mengapa, aku merasa sedikit sesak menerima kenyataan kamu sudah ada yang punya. Terlebih saat aku tahu, istrimu adalah kekasihmu setelah kamu pisah denganku 7 tahun yang lalu. Ada sedikit rasa menyesal karena aku yang meninggalkanmu, kamu lelaki yang baik, demi laki-laki yang sangat tidak pantas untuk ku pilih.

Advertisement

Aku pun kembali ke Tanah Air bersama teman-teman ku dari negara seberang untuk berwisata sekaligus menjadi penerjemah untuk mereka. Kamu pun sangat antusias karena dapat bertemu denganku kembali. Kamu selipkan kata rindu bertemu aku.


Saat kita bertemu, aku masih merasakan debar yang sama. Kamu pun begitu, terlihat jelas dari caramu memandangku.


Dan aku pun tahu, kamu telah bercerai dengan pasanganmu. Jahatnya, kamu pun menyalahkan aku atas semua yang terjadi selama 7 tahun belakangan ini. "Hidupku mungkin tak akan seperti ini jika kamu tak meninggalkanku. Mungkin aku akan bahagia denganmu jika kamu masih bersamaku," kesalmu padaku.

Advertisement


Bahkan kamu pun masih bisa bercanda, "Kamu nikah aja yuk sama aku?". Tanpa kamu tahu, betapa aku berharap kamu serius dengan perkataanmu.


Beberapa hari di Tanah Air, kamu selalu ada denganku. Kamu menemaniku dan teman-temanku dan aku pun makin merasakan kamu seperti dulu. Teman-teman ku pun meyakini bahwa kita masih memiliki chemistry yang tak pudar. Terlihat jelas dari pancaran mata kita saat memandang satu sama lain.

Di depan ku dan teman-temanku, kamu pun berjanji akan mengunjungiku di negeri seberang, hanya untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersamaku. Rencana jalan-jalan pun sudah dibuat oleh temanku. Pun, saat aku mengantarkanmu pulang ke parkiran terakhir kali pada malam terakhirku di Tanah Air, kamu pun berbisik padaku, "Tunggu aku disana ya, aku akan datang."

Taukah kamu betapa senangnya aku?

Tapi setelah aku kembali ke negara aku tinggal, kamu seakan menjauh dariku. Kamu mulai menghilang. Apa kamu takut kesalahanku yang dulu saat kita terpisah jarak kembali terjadi? Harus berapa kali ku jelaskan, aku 7 tahun yang lalu bukanlah aku yang sekarang. Aku yang 18 tahun bukanlah aku yang hampir 27 tahun. Begitupun denganmu. Kita bukanlah orang yang sama.


Haruskah aku tetap memegang janjimu untuk datang kemari? Haruskah aku tetap berharap padamu Dengan sikapmu ini, membuatku kembali mundur, seperti 7 tahun yang lalu.


Jika ini memang maumu, aku tak akan marah. Hanya 1 yang aku pinta, jangan salahkan aku lagi atas apapun yang akan terjadi di hidupmu jika aku tak kembali padamu. Karena aku pun tak pernah menyalahkanmu atas kesialan yang terjadi di hidupku selepas darimu.

Love, A.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya