Salam…
Apa kabar? Semoga engkau tak membaca tulisan ini dengan dada berdebar. Ini hanya surat bernada hambar, yang mungkin akan membicarakan perasaan hatiku panjang lebar.

Aku tak tahu kapan tepatnya perasaan ini hadir, menelusup ke hati yang semenjak dahulu tertutup tabir. Pun telah kupagari agar tak ada seorangpun yang hadir.

Namun, sejak melihatmu pertama kali, tak dapat kupungkiri hatiku terjatuh dalam sekali. Apa mungkin aku menyukaimu pada pandangan pertama? Entahlah. Dahulu, hal-hal semacam ini begitu absurd di telingaku.

Apakah karena fisikmu? Aku rasa bukan. Aku telah banyak berjumpa dengan lawan jenis, yang wajahnya terlalu rupawan bahkan untuk dideskripsikan. Teman-temanku pun mengomentari bahwa rupamu biasa saja, standar. Tapi entah mengapa ada suatu hal menarik yang tak bisa kujelaskan. Aku menangkap sesuatu yang sedemikian kuat terpancarkan. Ditambah keahlianmu di bidang lain membuat kadar kekagumanku meningkat tajam.

Dan Tuhan Maha Baik. Aku dikondisikan untuk dekat denganmu. Dengan mudah memandangimu. Terbiasa oleh kehadiranmu. Ikut tertawa melihat candaan garingmu. Namun juga khawatir serta bertanya dalam hati apa gerangan yang terjadi saat wajahmu kusut sekali.

Advertisement

Aku abai dengan perkataan sekeliling yang menjelek-jelekkanmu. Aku tutup mataku dan telingaku, hanya demi melihatmu sosok manusia yang tetap aku suka. Karena bagiku wajar kau memiliki salah dan cela. Kau juga manusia.

Aku berusaha dekat denganmu. Lewat berbagai upaya yang setelah kupikir-pikir begitu absurd bisa terlakukan olehku. Dari mencari perhatian dengan berlaku ketus padamu, mengkritik sikapmu, sampai menawarkan kebaikan yang begitu saja kau anggap lalu.

Tapi sayang Tuhan masih tak berkenan mendekatkan kita. Kau masih saja dingin. Untuk merespon saja kau tak ingin. Apalagi membalas perasaanku yang diam-diam mulai menyakiti batin.

Sekarang aku bisa apa? Sekeliling menasehatiku untuk melupakanmu. Dengan cara mengingat segala kekuranganmu. Semua sikap tak acuhmu membalas pesan-pesanku. Setiap tatapan beku yang mampir saat mata kita beradu.

Tapi aku tak bisa. Segala pengampunan terhadap apa yang hatiku berikan padamu semakin menunjukkan bahwa aku menyayangimu. Tak masalah kau melakukan kesalahan setinggi gunung-gunung itu. Karena setelah aku berbusa-busa memarahimu, aku pasti akan langsung luluh mendengar permintaan maafmu.

Tapi aku harus sadar. Kau tak mungkin terus kukejar. Setelah kau menunjukkan rasa tak nyaman karena terlalu seringnya aku bertanya kabar. Akupun harus merelakanmu serta melupakanmu meski itu butuh waktu tak sebentar.

Doakan aku agar aku bisa menjauh darimu. Karena akupun juga ingin bahagia. Dan aku harus tahu diri serta mengikhlaskan bahwa itu tidak berarti dengan kita harus bersama.

Tulisan ini untukmu. Sebuah ketidakmungkinan yang takkan pernah kudapatkan meski selalu kusemogakan dalam setiap doa-doa panjang yang kupanjatkan.