Membuka cerita singkat tentang sebuah perjalanan kehidupan yang selalu tumpang tindih di antara realistis, idealis, dan egois.

Untuk dia yang selalu menuntut lebih, bukan karena mereka anarkis, tapi memang realistis untuk menjalani dunia yang nantinya akan banyak isak tangis, bukan hanya gombalan romantis tanpa memperdulikan bensin yg menipis, garam di dapur sudah hampir habis, sampai kebutuhan pensil alis. Semua butuh cicis untuk menjalani dunia yang magis.

Advertisement

Tapi bukan karena kami pesimis, kemudian menjadikan kami terkesan tidak etis. Bukan pula pecundang untuk berani berkata "aku siap meminang", tapi lebih ke moral.


Aku bisa apa? Aku memang begini adanya.


Di saat teman-teman sebaya sudah berkeluarga dan punya karir yang mapan, di sini kami masih berkeliaran siang malam demi sekadar mengangkat drajat, karena kami sadar kami bukan berada pada posisi yang semua serba ada, serba punya dan serba bisa.

Advertisement


Lha, kerja siang malam, sampai sekarang hasilnya mana?


Kami hanyalah kelompok pekerja yang sedang berusaha menjadi orang yang lebih baik dari pada orang tua kami di kampung sana, kalau pun kami bisa melebihi itu semua, itu "hanya" bonus karena jerih payah dan doa orang tua.


Memang namanya juga usaha, menanam durian saja bertahun-tahun baru bisa panen, itu pun kalau tidak kena hama.


Kami pun tidak naif dengan keadaan, karena kami sadar orang tua susah payah memberi yang terbaik untuknya mulai dari fasilitas, pulsa, kehidupan layak, kesehatan sampai pendidikan, tapi kami juga tahu diri bahwa sungguh-sungguh berjuang itu akan terkesan berbeda dengan "mengajak susah bersama".

Silakan, karena dunia tidak selebar daun kelor dan waktu terus berjalan. Tuntutan akan selalu membayang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya