Ternyata, Waktuku Masih Panjang dan Perjuanganku Belum Selesai

Tak akan aku lupa, pelajaran moral dari Ayah dan Ibu mengiringi jalanku

Entah mengapa aku ditakdirkan lahir di keluarga yang menurutku cukup sulit didefinisikan: Ayah yang pendiam namun galak, dan ibu yang lembut yang selalu memperjuangkan hak-hakku sebagai anak. Lahir sebagai anak pertama, kupikir aku akan dimanja. Namun nyatanya jauh dari harapan itu.

Kalau boleh jujur, saat aku kecil, kugambarkan ayah sebagai sosok yang ‘jahat’ dan ibu sebagai sosok pembelaku. Aku teringat bagaimana galaknya sifatmu, ayah. Saat SMP, aku pernah terlibat kecelakaan yang menyebabkan motor yang kutabrak mengalami kerusakan. Setelah kau tahu, matamu langsung melotot merah, melambangkan kemarahanmu yang tertumpah.

Aku menangis sejadi-jadinya, dan ibu memelukku erat sekali dan ikut menangisiku. Itu satu dari sekian banyak lambang kemarahanmu dari kesalahanku, ayah. Jika kemarahanmu timbul dari kesalahanku yang begitu memikat, aku selalu mewajarinya (meski aku sulit menerimanya).

Namun kupikir-pikir, kau juga selalu marah terhadap kesalahanku yang tak seberapa. Kau tentu ingat malam itu, betapa aku menangis tersedu-sedu sambil dipeluk ibu hanya karena bunyi batukku yang menari ditelingamu. Aku sadar bahwa kita hanya keluarga petani, yang memiliki penghasilan setahun sekali, pasti keuangan selalu tipis tiap hari. Namun seharusnya itu bukan menjadi alasan untuk kau memarahiku sewaktu aku kecil.

Namun di balik kejamnya sifatmu, setelah kupikir ulang, kau tak pernah memukulku sekalipun. Bahkan ada banyak sisi baik dari sosokmu. Aku masih ingat bagaimana bahagianya ketika aku dimasukkan kedalam bakul pengangkut tomat yang kau pikul. Aku ngerasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia kala itu. Guratan wajah ibu pun menunjukkan rasa bahagia itu.

Dari sekian banyak kebaikan yang ayah dan ibu lakukan, pendidikan adalah kebaikan tertinggi dari kalian. Di waktu yang tidak bersamaan, kalian pernah menasihatiku bahwa meskipun kita dari keluarga petani, pendidikan harus menjadi yang utama. Ayah, di sela-sela aku membantumu membajak sawah kala SMA, mengingatkan bahwa aku harus menjadi laki-laki yang sukses. Begitu pun ibu Saat ku bonceng ibu sambil membawa tomat yang siap ku jual ke pasar, mengingatkan bahwa aku harus menjadi anak yang sukses dan berakhlak.

Dari sekian banyak fakultas yang siap dipilih, kalian malah memasukkanku ke dunia perfilman dan broadcasting. Aku sudah mengingatkan bahwa jurusan ini akan menghabiskan uang yang tidak sedikit. Aku hampir menolak masuk dunia film, dan memilih masuk jurusan yang murah biaya kuliahnya. Namun ayah dan ibu berkata “Tulang kami masih sanggup mencari rezeki buat kamu”. Jawaban itu yang membuat kuat dan haru.

Ayah, ibu, dunia film dan broadcasting sungguh sangat liar dan keras. Apalagi menjadi seorang penulis dan sutradara. Persaingan begitu ketat. Menghadapi dunia sekeras ini, tak sanggup jika rasanya aku tak mendapatkan didikan dari kalian, dulu. Aku paham sekarang mengapa sedari kecil kau begitu keras terhadapku ayah. Kau ingin mengajarkan bahwa hidup ini keras, dan hanya orang-orang yang kuat mental yang mampu bertahan. Teruntuk ibu, terima kasih atas pelukan hangat yang selalu kau beri. Pelukan ini mengajarkanku bahwa sekeras-kerasnya hidup, masih harus dihadapi dengan kelembutan.

Ayah, ibu, dunia film dan broadcasting memang keras. Namun dari sini, aku banyak belajar dari orang-orang yang menjadi objek filmku. Aku  paham mengapa kalian memasukkanku ke dunia film dan broadcasting: Agar aku melihat dunia luar, mampu menghadapi kerasnya hidup namun tetap memiliki hati sehalus sutra. Dunia ini mengajarkanku untuk menyuarakan nurani yang murni. Kalian mengajariku nurani itu.

Seandainya kalian tahu, ayah dan ibu, jika boleh aku pulang, menemui kalian terasa begitu damai dan berharga. Aku ingin berada selalu di samping kalian, ikut memetik tomat yang siap dipasarkan. Namun perjuangan ini belum selesai. Satu-satunya cara membuat kalian tersenyum lepas adalah, dengan menyelesaikan kuliahku dan masuk sepenuhnya dalam dunia itu.

Aku masih punya waktu panjang buat membahagiakan kalian, bukan hanya sekadar lulus kuliah dan wisuda. Persis sesuai cita-citaku, menjadi seorang penulis dan sutradara, aku ingin menulis sendiri kisah keluarga kita dan menyutradarai semua suasana dan jalan ceritanya. Ku pastikan jalan ceritanya bahagia. Tak lupa juga, pelajaran moral dari kalian selalu ku terapkan di setiap nafasku. Akan kubuat kalian tak pernah menyesal telah melahirkan dan merawatku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pemuda yang hasu belajar ini lahir dan dibesarkan di Lampung Barat. Saat ini mengabdi sebagai guru PNS Jurusan Seni Broadcasting dan film di SMKN 3 Kota Bengkulu.