Beberapa kali dalam tiga hari terakhir ini, Bang Rano menemukan peralatannya dalam keadaan berantakan. Semua yang sudah tersusun di belakang sekolah selalu tercecer ke mana-mana. Ia sudah mengingatkan anak buahnya untuk tidak ceroboh menaruh alat-alat di belakang sana. Awalnya mereka mengiyakan saja. Tetapi, lama kelamaan satu persatu mulai buka suara. Bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengacak-acak peralatan yang telah disusun di sana.

Hari ini, Bang Rano benar-benar tidak bisa menahan lagi emosinya. Kali ini bukan hanya peralatan yang diacak-acak, tetapi sebagian besar triplek yang akan dipakai untuk memperbaiki langit-langit di ruangan kelas sudah terserak dan pecah berantakan.

“Nggak mungkin, Bang kalau kita-kita yang melakukan itu," Yudi memberanikan diri berbicara mewakili teman-temannya.

“Kalau begitu, siapa pelakunya? Bisa rugi kerjaan kalau seperti ini.“

“Kemarin, terakhir yang beres-beres di sini saya dan si Jun. Tapi sebelum pulang, semua rapi," kata Yudi lagi. Jun yang ada di sampingnya mengangguk.

Advertisement

“Mungkin anak-anak, Bang.“ celetuk salah satu tukang.

Sepengetahuan Bang Rano, sejak mereka bekerja di sekolah ini, tidak ada anak-anak yang melintas ke arah kebun belakang sekolah. Bahkan seingatnya, para penjaga sekolah maupun guru tidak ada yang pernah berjalan ke tempat ini. Siang hari, saat mulai bekerja, peralatan masih tersusun rapi. Begitu juga dengan bahan-bahan yang digunakan untuk proyek. Hanya saja, setiap sore saat kembali ke belakang sekolah, semua sudah berantakan.

“Ya sudah, rapikan lagi semuanya! Terus kita bawa saja ke depan gudang sekolah!"

Mereka lalu mulai bergerak merapikan peralatan yang berserakan. Begitu juga dengan bahan-bahan untuk proyek, mulai dipindahkan. Beberapa tukang tampak lega karena mereka memang merasa tidak enak saat berada di belakang sekolah. Seperti ada sesuatu atau mahluk yang mengawasi gerak gerik mereka. Sesekali sempat terlihat peralatan terjatuh tanpa ada angin atau orang yang menggerakkan.

Selentingan mengenai keberadaan mahluk misterius di belakang sekolah memang pernah terdengar. Apalagi beberapa hari lalu, teman mereka ada yang mendapat pengalaman buruk di sana. Tetapi tidak ada yang berani menyampaikan hal ini pada Bang Rano. Mereka takut dianggap mengada-ada.

Setelah semua selesai dirapikan, Bang Rano kembali meminta para tukang untuk bekerja. Hari itu memang ia dan anak buahnya akan lembur alias bekerja sampai malam. Karena menurut Bu Retno sang kepala sekolah, dua hari lagi akan ada kunjungan dari donatur yang menyumbang untuk proyek perbaikan sekolah. Ia berharap saat tamunya datang, sebagian perbaikan sudah mulai terlihat.

Sudah lewat dari pukul enam sore. Tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Perbaikan dipusatkan pada tiga ruangan kelas yang jaraknya jauh dari kebun belakang sekolah. Semuanya bekerja keras mengejar waktu. Peralatan dan bahan-bahan yang ada di depan gudang sekolah, tampak tidak terusik. Tidak ada yang tercecer atau berpindah tempat. Sepertinya, segalanya akan berjalan dengan lancar. Baguslah kalau begitu!

******

“Ayo semua makan dulu,“ ajak Bang Rano. Ia mulai membagikan nasi bungkus yang tadi dibeli oleh Yudi. Para tukang segera berkumpul dan duduk di kursi-kursi yang biasa dipakai oleh murid-murid. Mereka duduk berdekatan satu sama lain. Satu per satu menikmati makanan yang ada di hadapan mereka. Memang hari itu sangat melelahkan. Sesekali terdengar celetukan canda yang ditimpali suara tawa dari sesama tukang. Canda dan tawa terdengar semakin riuh saat Bang Rano meninggalkan ruangan. Ia mengantarkan makanan untuk dua orang penjaga sekolah yang ada di pos depan.

“Kerja sampai malam asal ada uangnya, nggak masalah." celetuk Yudi.

“Benar, tuh! Mau sampai pagi juga, jalan terus. Sudah kayak mesin pabrik," Ujang menimpali.

“Tapi kalo malam, biasanya angker lo!" Jun ikut bersuara.

“Angker apanya? Jadi laki-laki itu harus berani! Jangan dikit-dikit takut, lalu mundur!" kata Yudi menyeruput kopi yang masih hangat.

“Yang berantakin barang-barang kita itu, pasti penunggu di sini!" Jun menduga.

“Biarin aja! Coba kalau ketahuan sama saya, sudah saya jitakin!" Yudi mengeraskan suaranya. Ia memang ingin terlihat sebagai yang paling berani. Beberapa rekannya tampak tersenyum. Namun baru beberapa detik setelah mengucapkan kata-katanya, mendadak lampu di ruangan berkedip dan akhirnya mati. Kegelapan seolah menelan seisi kelas.

Tanpa dikomando, suasana ruangan menjadi hening. Masing-masing hanya dapat mendengar suara nafas atau gumam gelisah dari mereka yang ada di dalam sana. Tidak lama kemudian, terdengar suara anjing menggonggong dari arah luar kelas. Suara gonggongan yang lama-lama melengking seperti lolongan serigala. Lolongan sahut menyahut. Tidak hanya ada satu ekor di luar sana, mungkin ada beberapa.

Di dalam kelas, para tukang tidak ada yang berani membuat gerakan. Berbicara pun tidak. Semua berharap agar lampu segera menyala. Di luar sana, lolongan sahut menyahut membuat bulu kuduk merinding. Seseorang akhirnya bangkit dari tempat duduk, berusaha mengalahkan rasa takutnya. Ia berjalan ke depan pintu kelas untuk melihat apa yang terjadi di luar.

Pemandangan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri membuat sekujur tubuhnya lemas. Tidak pernah ia melihat sesuatu yang lebih menyeramkan daripada apa yang saat ini ia saksikan.

Beberapa ekor anjing berwarna gelap dengan mata yang menyala tampak melolong-lolong di tengah lapangan olahraga. Anjing-anjing itu bergerak pelan mengitari sesosok mahluk. Sosok itu menyerupai seorang anak perempuan. Kulitnya pucat seperti mayat orang yang telah beberapa hari meninggal. Ia berdiri di sana. Kedua tapak sepatunya sedikit melayang di udara. Sosok itu melambaikan tangan ke arahnya. Kedua bola mata anak perempuan itu menatap kosong dengan bibir tersenyum tipis.