Kali ini, entah pada sore yang ke berapa aku lebih memilih menghabiskan waktu bercengkrama dengan senja. Mungkin hanya aku dan senja yang tahu pada dialog yang sedang aku dengungkan. Karena senja masih saja menjadi peluruh di setiap tanya yang belum sempat terjawab dan menjadi penenang di saat ribuan tanya mencoba menghujaniku.

Pada hal-hal yang membuat hati tak menentu, aku hanya bisa terdiam untuk sebuah jawaban.

Advertisement

Pernah aku menginginkan sebuah alasan tapi bukankah dalam beberapa hal yang kita rasakan tak harus selalu beralasan. Lalu aku putuskan untuk membisu, atau lebih tepatnya menerka bersama keheningan.

Jika senja diijinkan untuk berbicara, mungkin senja mampu mengartikan senyum yang tersimpul tiap kali senja menampakkan warna jingganya. Atau memaknai kedatanganku dengan simbol kesendirian. Ah, yang benar saja? Bukankah senja telah menawarkan sedikit waktunya untuk bernapas sejenak. Dengan ditemani angin sepoi, segala tanya yang sedang bergejolak pada yang tersimpan kian menipis bak ditelan malam yang dingin.

Namun di sisa waktu sebelum langit menjelma menjadi dingin, aku berulang kali menuturkan segala hal yang aku rasa dalam kecap yang tak dapat aku hitung.
Sesekali aku berhenti sejenak, hanya untuk memastikan apakah senja masih sama dengan yang kemarin?

Advertisement

Keelokan-keelokan yang selalu ditawarkan oleh senja membuatku enggan untuk berhenti memandangnya.
Pernah berpikir bahwa senja mungkin lelah mendengar segala keluh kesah.
Tapi warna jingganya membuatku yakin akan kesetiaannya. Tanpa perlu aku meminta kesediaan waktu, senja masih dengan baik hatinya untuk tetap menjadi pendengar setiaku.

Dan dalam beberapa waktu aku sempat dihadapkan pada situasi yang membuatku ingin menyerah.
Dimana aku ingin meninggalkan jejak perlahan pada pohon tempatku bersandar. Tetapi senja selalu saja meluluhkan kegundahan yang sedang aku renungkan. Senja seolah berkata bahwa akan tetap sama dan selalu sama.
Dengan segala yang telah ditawarkan oleh senja, masihkah aku ragu untuk meninggalkan keindahan di setiap detiknya?

Perlahan aku mulai mencari suatu alasan agar aku tetap duduk termenung menghabiskan sisa-sisa kelelahan hariku.
Hingga aku dapat memahami bahwa senja akan selalu menampakkan marumnya diufuk langit jinggaku.
Dan aku dibuatnya terpaku, pada segala hal yang tak pernah terlintas dibenakku.

Yang aku tahu, senja selalu hadir dengan kehangatan yang sama. Dengan keteduhan yang tak dapat aku simpan sendiri. Dengan begini, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada senja yang selalu hadir tanpa aku minta.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya