Tanggal 18 April merupakan hari bersejarah di mana negara kelompok dunia ketiga dan negara yang mayoritas baru mendeklarasikan kemerdekaannya, berkumpul dalam suatu konferensi tingkat tinggi. Konferensi ini selanjutnya mulai dikenal dengan nama Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT-Asia Afrika) atau lebih singkatnya KAA.

Munculnya konferensi ini berawal dari keinginan para pemimpin khususnya dari negara non-blok untuk mengeratkan hubungan ekonomi dan kebudayaan antara Asia dan afrika.

Advertisement

Selain itu, banyaknya negara yang baru lepas dari penjajahan dan merdeka, perlu memberi pernyataan sikap untuk melawan penjajahan agar neokolonialisme oleh negara-negara adidaya maupun negara blok barat dan timur tidak berlanjut.

Pada masa pembentukannya, Indonesia melalui Perdana Menterinya, Ali Sostroamidjojo berperan penting dalam mempelopori diadakannya KAA. Ali sostroamidjojo pada 23 agustus 1953 mengusulkan untuk diadakan pertemuan serta perjanjian kerja sama yang dilakukan antara negara-negara dibenua asia serta afrika.

Beliau merupakan salah satu Diplomat terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Amanat pembukaan UUD 1945 yakni kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, tercermin dalam upayanya dengan mengajak negara-negara khususnya Asia dan Afrika untuk bersatu dan menyuarakan resolusi bagi permasalahan didunia.

Advertisement

Gagasan ini kemudian semakin serius untuk direalisasikan melalui sebuah persidangan di Srilanka, 25 april-2 mei 1954 yang diikuti oleh beberapa negara yakni India, Pakistan, Burma (Sekarang Myanmar) serta Indonesia. Para pemimpin dunia ketiga ini sengaja berkumpul atas kesamaan keinginan untuk memperkuat solidaritas dan melawan kolonialisme.

Di tahun berikutnya, Secara resmi Konferensi Asia-Afrika diadakan. Kota Bandung menjadi saksi mata ketika peristiwa bersejarah tersebut dilaksanakan, dan Indonesia untuk pertama kali membuktikan diri menjadi salah satu negara besar yang patut diperhitungkan pengaruhnya pada dunia kala itu.

Konferensi Asia Afrika kemudian menjadi titik awal bagi hubungan dan keterikatan emosional diantara Indonesia dengan negara-negara Afrika.

Keterikatan Budaya

Terlepas atas dasar kesamaan sebagai bangsa yang pernah merasakan pahitnya penjajahan. Indonesia dan negara-negara afrika ternyata memiliki keterikatan dalam peristiwa-peristiwa sejarah dan memiliki ikatan emosional yang cukup erat.

Sebelum benua Amerika terjelajahi, Afrika diketahui menjadi salah satu benua dengan luas teritori terbesar setelah Asia. Hal ini memicu diadakannya ekspedisi oleh para pelaut Nusantara yang terkenal tangguh melintasi samudera.

Dick-Read (2008) pada bukunya yang berjudul Penjelajah Bahari memaparkan hasil penelitian sejarahnya terkait Pelaut-pelaut Nusantara telah terlebih dahulu menaklukkan samudera Hindia. Pelaut nusantara menjelajah hingga Afrika, jauh sebelum pelaut Eropa, Cina dan Arab memulai ekspedisi mereka.

Perjalanan mereka yang bertujuan utama untuk berdagang meninggalkan bekas. Seperti kesamaan bentuk perahu dan kapal yang digunakan para nelayan Madagaskar yang bentuknya menyerupai kano, perahu bergaya asia yang memiliki penyeimbang dibagian kanan dan kirinya.

Tak hanya Indonesia yang memiliki peran dalam perkembangan budaya. Afrika tentu memiliki peran besar pula untuk bangsa ini yang dahulu disebut Hindia Belanda. Mesir sebagai salah satu negara di benua Afrika tak bisa dilupakan jasanya bagi Indonesia.

Di masa awal-awal membentuk negara, mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan bagi Bumi Pertiwi dan turut membantu dalam meyakinkan negara-negara timur tengah untuk turut mengakui kemerdekaan Indonesia.

Pengaruh Politik

Superioritas Indonesia dalam mengirim wakilnya menjadi anggota dewan organisasi internasional, tak lepas pula dari pengaruh Afrika. Benua hitam ini terdiri atas 54 negara dan menjadi rumah bagi sepertujuh penduduk dunia.

Oleh karena pengaruhnya yang besar, Indonesia yang kerap mendapat dukungan dari negara-negara di Afrika dapat memuluskan langkahnya untuk mengambil bagian dalam organisasi internasional seperti PBB, OKI dan G20.

Nilai persahabatan juga pernah terjadi pada pemimpin-pemimpin dari Indonesia dan Afrika. Soeharto kala menjadi orang nomor 1, mempererat relasi Indonesia dengan Afrika Selatan dengan memberikan bantuan berupa US$10 Juta sebagai bantuan untuk bagi Kongres Nasional Afrika dalam membangun negara yang baru berdiri tersebut.

Presiden Soeharto dan Mandela diketahui pula bersahabat baik karena memiliki visi yang sama. Tokoh dunia penentang politik Apartheid tersebut walau menjadi Bapak Bangsa Afrika Selatan, tetapi terlihat bahwa ia mencintai budaya Indonesia karena sering mengenakan Batik dalam beberapa pertemuan penting dengan kepala negara lainnya.

Negara-negara yang baru berdiri dikenal riskan untuk kembali terpecah. Lantaran tidak hanya berdasar pada kemauan, mendirikan sebuah bangsa mengharuskan memiliki modal untuk membangun pemerintahan, serta sumber daya alam maupun teknologi yang mumpuni demi mempertahankan keberlangsungan negara tersebut.

Dari peristiwa sejarah Mesir yang mendukung Indonesia maupun Indonesia pada Afrika Selatan, dapat disimpulkan bahwa soliditas antar bangsa amat diperlukan dalam mengawali peradaban yang kuat dan berkembang.

Ekonomi dan pembangunan

Kekuatan ekonomi suatu negara kerap menjadi salah satu tolok ukur bagi tingkatan kekuatan dari negara itu sendiri. Menjadi negara yang maju tentunya disokong oleh finansial yang stabil serta pengaruh yang kuat bagi negara-negara lain.

Setiap negara berlomba-lomba menjadi pemain dominan dalam pasar dunia serta menggenjot komoditas ekspornya agar ekonomi negara tersebut kokoh.

Indonesia dengan kekuatan sumber daya alamnya yang melimpah berpeluang menjadi pemain utama, namun alangkah baiknya apabila negeri ini tak hanya mengandalkan hasil alam yang kelak akan habis tetapi juga mengembangkan sumber daya manusianya.

Berbicara mengenai sasaran Indonesia dalam memasarkan produknya menurut data analisis potensi perdagangan oleh kemendag total transaksi perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara kawasan Afrika pada tahun 2014 mencapai US$11,4 Milyar dengan nilai total ekspor oleh Indonesia sebesar US$ 6 Milyar. Angka tersebut berarti hanya mewakili sekitar 3% dari total ekspor Indonesia pada saat itu.

Rendahnya kesepakatan ekonomi tersebut harusnya dapat diatasi dengan menekankan kerja sama perdagangan. Tingginya tarif impor antar Indonesia dengan negara di Afrika menjadi pembatas bagi perkembangan ekonomi. Bea masuk impor kedalam pasar afrika cukup tinggi sekitar 20-40%.

Hal tersebut yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan daya saing produk dalam negeri dan impor.

Peluang kerja sama dengan negara-negara di kawasan Afrika sesungguhnya begitu menjanjikan. Jumlah total penduduk di benua hitam tersebut menyentuh angka hampir 1 milyar dimana 54% nya berada pada usia produktif. sehingga Afrika dinilai menjadi tujuan pemasaran yang akan menguntungkan.

63 tahun semenjak KTT Asia-Afrika berlangsung, Indonesia dan Afrika terus menjalin kerja sama dan tetap menyuarakan kesepahaman pada dunia. Oleh karena sifatnya yang baik dan selalu menguntungkan, maka alangkah baiknya Indonesia lebih serius lagi dalam membina relasi yang baik dengan negara-negara di benua Afrika.

Hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antar negara menjadi modal utama dalam membangun sebuah bangsa.

Sebagaimana salah satu kutipan dari Presiden Ke-2 Indonesia, Soeharto, “Kalau kamu ingin jadi pribadi yang maju, kamu harus mengenal apa yang terjadi, pandai melihat, pandai mendengar, pandai menganalisis”.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya