Baiklah kamu, sekali lagi ketika aku mulai menulisi kamu. Kepala penuh oleh kamu. Btw, cuaca di kotaku sedikit basah dan panas.

Kotamu bagaimana?

Dan dalam cuaca yang seperti ini aku tidak sedang rindu, tapi butuh.

Dan kamu tahu. Aku menunggu. Kamu menunggu. Meski terkadang menunggu tak se-inci pun menyeret kita untuk bertemu. Selalu saja hanya berhenti di titik rindu. Tapi ah, kita bahkan tidak sedang rindu. Kita hanya sedang butuh. Aku butuh kamu. Kamu butuh aku. Lalu, kenapa kita tidak bertemu dan menyatu?

Dan adakah yang lebih indah dan syahdu dari dua jiwa yang saling menunggu?

Advertisement

Dan adakah yang lebih mencinta dari dua jiwa yang sama-sama menyimpan satu nama dalam dada?

Dan adakah yang paling nestapa dari dua jiwa yang tak saling menyapa, tapi diam-diam mengucap nama dalam do’a?

Mungkin mereka akan berasumsi dan memiliki persepsi sendiri. Yah, kita punya cara merindu yang terlalu mengiris ulu hati. Ingin bertemu dan butuh segala kamu.

Lalu sebagai pengobat atas segala kecemasan yang rindu hadirkan dia menitipkan Sebagian jiwanya yang belum utuh itu untuk mengabdi pada pemilik semesta. Mereguk semua air kerinduan dan memompa spirit cinta terhadap-Nya. Agar jiwanya tak lekang digerus waktu.

Bukankah sebenarnya hidup ini bisa disimpulkan dalam kalimat sederhana, Biarkan ia mengalir.

Lagipula Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena seseorang pergi, seseorang melukai dan seseorang mengkhianati.

Selalu ada hal baik dari segala ketentuan yang Tuhan tentukan. Begitu pun perihal kamu. Namamu yang menyanding namaku di kitab paling agung sedang dalam proses menuju satu pintu. Kebersamaan. Kita hanya perlu menunggu dan sama-sama berjalan ke titik temu.

Aku menunggu. Kamu menunggu.

Kenapa tidak disudahi saja?

Sebab ruang tunggu telah penuh oleh rindu. Ruang tunggu yang Tuhan sediakan untuk kesabaran. Ruang tunggu yang sengaja aku sediakan untuk kehadiranmu.

Wahai kamu, semoga diammu-diamku ialah jalan menuju kebahagiaan yang Tuhan rencanakan. bukan diam yang menyebabkan rindu terhenti. Juga bukan diam yang menyebabkan perasaan berantakan.

🙂