Entahlah ketika diam-diam ku lihat airmata di sudut matanya, aku memakimu dalam hati.

Dalam diamnya aku tahu, dia berjuang menahan amarah dan sakit yang kau berikan. Apakah kau tidak melihat semua itu dengan matamu? Apakah begitu tinggi hatimu sahabatku? Senyum di wajahnya ketika aku bertemu dengannya seakan tak pernah ada kesakitan di hatinya. Sapaan lembutnya membuat aku ingin berteriak, berhentilah menjadi malaikat. Tuhan, ataukah dia benar-benar malaikat yang menjelma menjadi manusia? Tak sedikitpun dia mengeluh, seolah engkau tak pernah menjajah hatinya, seolah engkau tak pernah menyakitinya. Tak pernah terucap kata yang tak elok dari bibirnya tentangmu.

Dia selalu diam, namun aku tau di sujud sepertiga malam, air matanya tumpah.

Ingin aku membencimu sahabat, namun cintanya melarangku.

Ingin aku berteriak dihadapanmu, namun tatapan matanya yang lembut menahanku. Senyuman bibirnya membuatku tak bisa berkata-kata. Entahlah aku tak bisa mengutukmu di hadapannya. Diam-diam melihatnya duduk termenung membuatku frustasi. Rasanya hilang akalku melihat dirinya yang selalu menyimpan luka itu sendiri.

Advertisement

Luka yang kau berikan padanya begitu nyata, hingga aku ingin menghapus kesedihannya.

Kali ini, aku berjanji akan melindunginya, membalut semua kesedihannya, janji yang tak pernah bisa aku sampaikan padanya. Aku ingin mengatakan kepadanya, bahwa dia bukan malaikat, marahlah jika ingin marah, berteriaklah jika dada sesak, dan katakan luka hati agar rasa pedih itu menghilang. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku akan menjaganya, aku akan membuatnya tersenyum tanpa luka, aku akan menghapus air matanya dan larilah kepelukanku, akan dibuat semua menjadi indah.

Namun semua keinginan itu hanya dikepala dan hatiku, bibirku kelu. Aku tak bisa mengatakan semua itu padanya karena dia kekasihmu, sahabat.