"Mana nih seragam buat gue?"



"Kapan lo nikahnya? Asik dapat seragam dong nih gue? Masa gue nggak dapat sih?"


Advertisement

Adalah dua pernyataan dari beberapa orang yang sering banget didengar ketika ada seorang teman yang hendak mau menikah. Sebenarnya nggak ada yang salah dengan bagi-bagi seragam. Akan tetapi, jika diamati, baik dari pengalaman mau pun cerita orang lain, terjadi pergeseran 'tren' penikahan di Indonesia yang sadar tidak sadar dipengaruhi oleh media sosial.

Di zaman seperti sekarang, tak dipungkiri media sosial memang cukup membantu dalam banyak hal. Karena, di sana banyak sekali informasi yang dapat ditemukan, mulai dari informasi yang cukup sepele hingga yang bermanfaat. Namun, semenjak media sosial menguasai kehidupan kita atau bahkan diri kita sendiri, secara tidak sadar sudah banyak pergeseran-pergeseran dalam kehidupan.

Salah satunya ialah adanya pergeseran 'tren' pernikahan di Indonesia. Mulai dari pergeseran budaya, kebiasaan hingga ke tren-tren lainnya. Misalnya, jika diperhatikan, di pernikahan "masa kini" pasti kamu akan menemukan bridesmaid dan bestman dari si pengantin. Sama sekali tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja tanpa sadar kita telah mengikuti kebiasaan budaya lain. Dalam hal ini, mengadopsi budaya Barat.

Advertisement


Entah sejak kapan tren tersebut mulai naik daun. Diiringi juga dengan adanya pembagian ​attire guide, packaging khusus, will you be my bridesmaid card, ​dan lain sebagainya, yang tanpa kamu sadari berujung pada kebutuhan media sosial juga, betul?


Sekarang, tanpa disadari (lagi) hampir semua orang mempersiapkan konsep pernikahannya berdasarkan apa yang mereka lihat di media sosial. Entah hanya sekadar untuk mencari inspirasi atau menjadikannya sebagai "patokan". Kalau kamu pernah mengucap seperti ini,


"Wah ini lucu banget konsepnya, pokoknya nanti di pernikahan gue harus begitu."

​atau

"Ih lucu banget berseragam kayak gitu, lucu pas difoto. Nanti gitu juga ah."


Artinya, kamu telah menjadikan media sosial sebagai kiblat dari konsep pernikahanmu nanti. Bukan membangun konsep pernikahan berdasarkan 'jiwa' kamu, yang menjadikan pernikahan kamu tuh 'kamu banget'. Jadi, sebenarnya konsep adanya bridesmaid dan bestman itu untuk apa sih? Apa sekadar minta seragam, di kasih, datang ke acara, foto-foto lalu pulang tanpa melakukan apa-apa?

Mari kita kembalikan pengertian makna dari bridesmaid dan bestman pada jalurnya yang benar, supaya nggak ada lagi misconception mengenai ini. Kembali lagi, sama sekali tidak ada yang salah dengan menghadirkan bridesmaid dan bestman ​di pernikahanmu. Yang salah adalah, ketika kalian berpikir kalau bridesmaid dan bestman hanya sebagai ajang bagi-bagi seragam agar nantinya terlihat lucu dan bagus ketika difoto.

Lalu, kalian yang nggak mendapatkan seragam, entah karena memang kalian nggak masuk ke dalam hitungan, terhambat ​dana, atau alasan lainnya, menjadi minta-minta untuk diberi seragam. Kemudian muncul rasa ketersinggunan. Apa lagi kalau kalian memintanya dengan cara yang (mungkin) ​annoying.

​Dari kisah nyata yang pernah dialami seorang teman, hal tersebut justru malah menjadikannya beban bagi mereka. Padahal, masih banyak sekali hal yang harus dipersiapkan untuk pernikahan, nggak hanya sebatas soal perseragaman aja. Karena setiap individu itu berbeda, mungkin ada yang bisa menanggapinya dengan santai tapi ada juga yang serius, hingga menjadikannya beban pikiran.


"Aduh, si A minta bahan lagi. Kasih nggak ya? Pingin sih kasih tapi ​budget ​nggak cukup, tapi dia nagih. Duh, gimana ya?"

"Aduh, si B minta bahan lagi. Tapi nggak ada waktu lagi untuk belinya, kalau nggak di kasih nanti dia bete lagi sama gue."


Tanpa kita ketahui, bisa jadi ada beberapa dari teman kalian yang pernah berucap seperti itu dalam hatinya. Yang pada akhirnya dia dengan susah payah mencarikan bahan dengan warna yang sama, karena warna yang sebelumnya sudah habis, di sela-sela menuju harinya. Untuk mengurusi hal lainnya aja sudah pusing, ditambah dengan 'todongan' kamu.

Padahal, sebenarnya bridesmaid dan bestman ​adalah among tamu. Kalau di budaya Barat, mereka adalah dayang-dayang dari si pengantin, penabur bunga, atau penerima tamu. Jadi, bukan hanya sebagai ajang bagi-bagi (atau nagih-nagih) seragam aja, lalu kamu hanya 'mejeng' di pernikahannya. Parahnya, jika kalian hanya meminta diberikan seragam tanpa menawarkan bantuan apa pun.

Kalau kalian memang mau mengadopsi budaya Barat ke dalam 'tren' pernikahan di Indonesia, maka adopsilah dengan yang sebenar-benarnya. Secara keseluruhan, jangan tanggung-tanggung. Karena bridesmaid dan bestman ​berdasarkan budaya Barat itu lebih dari sekadar seragam. Mereka adalah teman-teman terdekat yang menawarkan bantuan, baik dari segi dana mau pun tenaga, dan waktu tentunya.

Mereka yang membantu mencarikan vendor, dresses, dekorasi, catering, dan lain sebagainya. Bahkan, berdasarkan cerita yang dialami oleh temannya teman yang berkewarganegaraan asing, mereka adalah orang-orang yang memberikan "amplop" dengan nominal terbesar. Ibarat kata, mereka turut menyumbang untuk membiayai pernikahan sahabatnya.

Setelah para sahabat menawarkan bantuan, sebagai tanda terima kasih itulah si pengantin memberikan seragam untuk para sahabatnya yang telah berkontribusi besar untuk hari spesialnya. Karena tanpa mereka, acara pernikahannya mungkin tidak akan berjalan dengan lancar. Dan, tentu agar acara pernikahannya terasa semakin berkesan dilengkapi oleh para sahabat yang sudah meluangkan banyak waktu dan tenaga untuk dirinya.

Namun sayang, terjadi pergeseran makna dari bridesmaid dan bestman ​ini di Indonesia. Seakan, jika diamati, pembagian seragam menjadi 'kebiasaan' yang (harus) dilakukan oleh si calon pengantin tanpa ada makna berarti. Karena kebiasaan inilah, ketika mendapati seorang teman yang tidak melakukan hal tersebut maka teman lainnya 'menagih', semata-mata hanya agar terlihat lucu dan kompak ketika difoto. Yang berujung pada kebutuhan media sosial juga.

Tidak ada yang salah dengan bagi-bagi seragam, jika diberi ya silakan diterima. Namun jika tidak, baiknya tidak perlu meminta, apa lagi hingga menagihkannya. Kalau kamu bisa membantu meringankan beban temanmu, kenapa harus memberatkan dengan meminta seragam, betul?

Jangan sampai pergeseran-pergeseran ini justru malah membebankan orang lain, apalagi kalau itu hanya sekadar untuk kebutuhan media sosial. Ada baiknya saling membantu daripada menambah beban. Jadi sekarang, kalau ada teman yang mau menikah, kalian bakal nagih bahan atau menawarkan bantuan, nih?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya