Nu-san-ta-ra, ya tepat sekali! Nusantara. Ini adalah julukan yang tepat bagi kita, di mana kita tersebar mulai dari sabang hingga merauke. Dengan tersebarnya kita ini, sekaligus menunjukkan bahwa Nusantara kita adalah Nusantara yang religius, di mana banyak berbagai kehidupan beragama didalamnya. Kehidupan beragama sangat jelas kita rasakan dimanapun kita berada, kita berjalan, dan dimanapun kita menetap.

Pastinya kita semua tahu, Nusantara kita memiliki 6 kepercayaan didalamnya, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Walaupun agama dalam Nusantara bervariasi, hal ini tidak menjadikan kita sebagai negara agama, melainkan ini menjadikan kita negara yang bervariasi dan negara yang semakin mencerminkan sikap toleransi yang kuat antar sesama.

Advertisement

Memang tidak dipungkiri, bahwa bagi sebagian masyarakat, perbedaan ini tidak menyebabkan perpecahan. Namun apa daya kita, beberapa masyarakat juga ada yang menganggap perbedaan ini sebagai perpecahan. Dimana orang-orang yang seperti ini berarti telah melanggar pandangan hidup negara kita, yaitu Pancasila, terutama pada sila pertama.

Ada beberapa bukti nyata mengenai pelanggaran sila pertama yg terjadi di nusantara ini, kita dapat melihat pada kejadian di tahun 2002 yaitu peristiwa bom Bali I yang merenggut 202 nyawa. Peristiwa ini sampai dinobatkan sebagai peristiwa terorisme terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Ali Imron -pelaku dan sutradara pengeboman- mengatakan, sebenarnya aksi pemboman di Bali merupakan efek dari peristiwa Poso dan Ambon. Bom Bali merupakan balas dendam karena banyak umat muslim yang terbunuh akibat konflik di Poso dan Ambon.

Advertisement

Jelas sekali di mata kita bahwa peristiwa ini didasarkan pada agama yang berarti peristiwa ini telah melanggar Pancasila terutama pada sila pertama. Selanjutnya kita beralih pada peristiwa terorisme terbaru di tahun 2018, yaitu ledakan bom pada 3 gereja di Surabaya.

Bom pertama meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, bom kedua meledak di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno, dan bom yang ketiga meledak di GKI di Jalan Diponegoro.

Kapolri RS Bhayangkara Polda Jatim (2018) mengatakan, aksi ini merupakan aksi pada tingkat Internasional, ISIS ditekan oleh kekuatan Barat. Kemudian dalam keadaan terpojok, menyuruh semua sel yang di bawahnya untuk bergerak.

Aksi terorisme tersebut sangat mengerikan bukan? Namun yang lebih disayangkan lagi, selain mengerikan, aksi terorisme juga sudah merusak toleransi antarumat beragama yang telah digambarkan pada sila pertama Pancasila, "Ketuhanan yang Maha Esa".

Akan tetapi, selain terdapat pelanggaran-pelanggaran pada sila pertama, Nusantara kita ini juga memiliki bukti nyata mengenai kasus positif dari sila pertama. Yaitu salah satunya adalah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya Kupang yang sudah mencerminkan sikap toleransi terhadap keberagaman suku, ras, golongan, dan kepercayaan sesuai dengan Pancasila.

H. Abdul Kadir Makarim -ketua majelis ulama Indonesia nusa tenggara timur (MUI-NTT)- mengatakan, warga Kota Kupang, khususnya umat Kristiani, Hindu, dan kepercayaan lainnya, telah memberikan ruang damai dan aman bagi seluruh umat Muslim di daerah itu untuk melaksanakan seluruh rangkaian ibadah puasa selama bulan ramadhan, hingga pada hari raya Idul Fitri.

Hal yang dilakukan kota Kupang ini patut dicontoh, karena memang kita harus memiliki rasa toleransi dan saling menghormati antar kepercayaan sekalipun mereka minoritas. Dengan berlaku seperti kota Kupang, maka Ketuhanan kita akan menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya, jika kita tidak melakukan hal seperti yang dilakukan kota Kupang, maka ketuhanan kita justru akan semakin memburuk. Jangan jadikan Nusantara ini menjadi negara agama dimana banyak masyarakat yang fanatik dan hanya mau mengakui satu kepercayaan sesuai apa yang dianutnya.

Meskipun terdapat beberapa kepercayaan, janganlah jadikan ini alasan untuk menciptakan perbedaan yang menghancurkan. Melainkan, jadikan perbedaan ini menjadi alasan untuk menciptakan persahabatan dan persaudaraan yang ketat.

Ciptakan motto dalam hidup kita, yaitu "Meski berbeda, aku dan kamu tetap bisa bersahabat". Serta, jadikan juga perbedaan ini sebagai kekayaan Nusantara yang patut dijaga keutuhannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya