Keluarga adalah Lingkungan Pertama Bagi Kita Untuk Mengembangkan Diri.


Kita dilahirkan tidak bisa memilih dari keluarga mana kita berasal. Saat itu pula kita dibesarkan dan tumbuh membentuk karakter kita. Tak ada keluarga yang tidak memiliki konflik, mungkin ada dari kita yang dididik orang tuanya dengan keras, ada pula keluarga yang ekonominya kurang, atau mungkin pula salah satu diantara kita menjadi anak broken home.

Advertisement

Namun di sinilah tantangan hidup dimulai. Kita harus belajar menyikapinya dengan pikiran positif, jangan menyalahkan orang tua jika kita merasakan konflik dalam keluarga. Itu sebagai pelajaran bagi kita, apa yang baik dari orang tua patut kita contoh, apa yang salah dan keliru jangan kita tiru. Kembali kepada keyakinan bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada orang-orang yang berprasangka baik pula.


Manusia Merupakan Mahluk Sosial Yang Selalu Membutuhkan Interaksi Dengan Sesama.


Bersosialisasi menjadi lingkungan lanjutan bagi kita untuk belajar mengembangkan diri. Menjalin hubungan pertemanan, berkerabat, bertetangga atau relasi dalam pekerjaan, membuat kita banyak belajar memahami berbagai macam karakter manusia. Tak jarang pula terjadi konflik dalam hubungan tersebut karena perbedaan pendapat, sudut pandang atau mungkin konflik yang timbul karena keegoisan alamiah yang dimiliki masing-masing orang.

Advertisement

Disinilah Tuhan menyerukan agar kita menciptakan keseimbangan antara hubungan kita terhadap-Nya dan terhadap sesama manusia. Seperti pepatah mengatakan,


“kuku yang panjang potonglah kukunya jangan jarinya, jika ada masalah maka putuskanlah masalahnya bukan silaturahminya”.


Jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, janganlah egois untuk meminta maaf terlebih dahulu. Begitupun sebaliknya, kita jangan mempersempit hati untuk memaafkan kesalahan orang lain. Ambil dari mereka karakter yang positif saja, tak perlu yang negatif. Dan tetaplah berbuat baik kepada sesama, meskipun orang lain membenci kita jangan balas demikian pula. Maka kita akan merasakan damai tanpa ada rasa kebencian dihati.


Kegalauan Terbesar Kita Saat Beranjak Dewasa Adalah Ketika Menentukan Pilihan.


Kita hidup dipenuhi dengan berbagai macam pilihan, pilihan untuk masa depan, pilihan untuk cita-cita dan pilihan untuk pasangan hidup. Tak luput pula kita merasakan kegagalan meraih cita-cita dan kekecewaan oleh cinta. Tak ada kesukesan yang diraih secara instan, dan banyak manusia yang takut akan kegagalan.

Justru dari kegagalan kita banyak belajar, kita menjadi tahu apa yang salah dan bagaimana persiapan kita selanjutnya untuk melangkah. Kita jadi dapat berantisipasi agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali.

Demikian pula dengan masalah cinta, tidak ada yang bisa mencegah datangnya cinta kepada siapa hati ini kita tambatkan. Banyak diantara kita yang tersakiti oleh cinta, bahkan yang sudah berumahtangga sekalipun. Janganlah kita berlarut dalam kesedihan, mungkin Tuhan cemburu kepada kita karena kita mencintai seseorang secara berlebihan tidak diiringi rasa cinta Kepada-Nya. Disinilah kita ubah mindset kita, saat kita merasakan jatuh cinta kepada seseorang maka langkah utama yang perlu kita lakukan adalah meminta kepada Tuhan atas dirinya, Tuhan lebih tahu dia jodoh kita atau bukan.

Jangan pernah memaksakan kehendak jika apa pun yang kamu mau tidak terwujud, mungkin saja pilihan mu itu keliru. Tuhan tahu mana yang terbaik untuk kita, maka sertailah Tuhan dalam setiap pilihan kita


Mari Kita Renungkan Lagi, Kita Hidup Karena Tuhan Dan Akan Kembali Kepada Tuhan Pula.


Dunia ini memang sementara. Pada hakikatnya Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya.

Setiap masalah kehidupan yang kita hadapi adalah ujian dari Tuhan, bagaimana kita menyikapinya. Saat kita bahagia, maka berbahagialah secukupnya di sini Tuhan menguji kita apakah kita termasuk orang yang bersyukur atau malah lupa Kepada-Nya. Saat dirundung duka pun Tuhan menguji kita, Tuhan memanggil kita untuk kembali mengingat-Nya. Semua kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup kita adalah teguran Tuhan agar kita mengintospeksi diri, agar kita belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Jangan pernah berpikir takdir Tuhan itu jelek, Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki nasib. Hidup itu bagaimana kita menyikapinya apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Dan kunci untuk menemukan kedamaian dalam hati ini :


“jangan pernah jauh dari Tuhan, mintalah kekuatan dalam diri untuk terciptanya kesabaran, keikhlasan, rasa syukur dan pikiran positif”.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya