Ah, lagi-lagi sebuah kekecewaan yang harus kamu telan kembali. Kamu diam-diam menangis kamu tidak ingin semua pasang mata melihat, kamu tidak ingin semua pasang telinga mendengar. Hatimu yang kembali hancur berantakan. Bagimu ini mungkin kesakitan yang kesekian bahkan kamu lupa kapan pertama kali kamu memilikinya. Dan kini, ketika kamu mengingat kembali harapan serta kenyataan yang sama sekali tak sesuai dengan perencanaanmu.

Lalu, dengan hati yang tak berbentuk lagi kamu mencoba berdoa, kamu mencoba kembali mengetuk pintu Ilahi, siapa tahu Tuhan masih memiliki sedikit rasa kasihan. Pikirmu, kamu menangisi kesedihan yang sama sekali tidak ingin ditangisi. Untuk apa? Bukankah dia sendiri yang meminta untuk ditanggalkan? Lalu kenapa kamu masih ingin dia tetap tinggal? Ah sudahlah hati, belajarlah untuk menerima segala yang belum menjadi hak milikmu.

Tak perlu mereka-reka bagaimana harapan-harapan itu akan terwujud nantinya. Mesti sekarang kamu sedang menikmati indahnya berharapan dalam angan-angan. Sudahi perih di hati, sesakit apapun kamu. Tisu takkan pernah cukup untuk menghapus airmatamu. Sia-sia bukan? Menangis karena kesedihan pada manusia. Kenapa pada Tuhan kamu pelit mengeluarkan airmata? Padahal kamu tahu bahwa sejatinya cinta hanya padaNya. Percayakan kebahagiaan pada pemilik hati, karena ketika kamu hanya menunggu angan itu tercapai tanpa mengusahakan untuk menggapai.

Seagung-agung apapun doa yang kamu rangkai, tetap tidak akan pernah sampai. Bebaskan hatimu dengan segala prasangka-prasangka yang kamu kira adalah bahagia. Dan satu hal yang harus kamu yakini ialah sebuah kehilangan mengajarkan seberapa tabah kamu mencintai, seberapa tabah kamu mengikhlaskan. Belajarlah menerima bahkan yang tidak bisa kamu terima.

Itulah cara terbaik mendamaikan hati, sebab kesakitan terasa lebih pedih jika terus dipikirkan. Lalu kini, masihkah kamu meratapi segala kurangmu. Ah, sayang sekali. Kamu telah melewatkan kesempatan terbaik. Kadang di balik penolakan, Tuhan, barangkali Ia malah sedang merencanakan kebahagiaan lainnya. Kamu tahu kenapa saya berkoar-koar seperti ini, karena hanya hati yang pernah tertanggalkan yang bisa memahami bagaimana perihnya tertinggalkan. But, kehidupan terlalu pendek jika hanya dilewati dengan kesedihan, kecemasan serta kegalauan yang tak ada habisnya. Kamu harus tahu, sebagaimana kebahagiaan yang cepat berlalu, kesedihan juga bakalan berlalu. Kamu hanya perlu mengokohkan hati kembali. Yang telah hilang lebih memilih mengabdi pada kenang. Relakan kamu tidak perlu meminta pertanggungjawaban Tuhan atas doa-doa yang salah ditempatkan. Sebab nyatanya takdir Tuhan terlampaui indah untuk kamu reka dengan anganmu.

Advertisement

Matahari tenggelam membuktikan bahwa kata tamat tidak seburuk itu. Tuhan amat baik, dia hanya sedang mempersiapkan sebuah kejutan untukmu. Yang kamu bahkan tak pernah memintanya. Lalu, masihkah menyalahkan sebuah pertemuan atas perpisahan? Andai saya dan kamu mengerti bahwa selalu ada hal baik ketika Tuhan memutuskan mempertemukan. Entah sebagai pengisi cerita atau sebagai tokoh utama. Entahlah, hanya dia yang tahu. Kita hanyalah pelakon saja. Sebaiknya kamu jangan pernah lupa, bahwa Tuhan lebih tahu kapan saat yang tepat untuk tercapainya sebuah harapan. Kamu hanya perlu terus berusaha tanpa berhenti berdoa. Dan terus memantaskan diri. Untuk kamu yang percaya, kesedihan akan segera berlalu bersama waktu. Sebagaimana pelangi yang hadir setelah hujan, begitulah cara Tuhan menghibur hati yang berantakan.

Salam bahagia, wahai hati.