Kota Banda Aceh yang sejak dulu dikenal sebagai serambi mekkah kini mulai memiliki julukan baru yaitu kota seribu warung kopi. Julukan ini bukan tanpa alasan mengingat suburnya bisnis warung kopi di Kota Banda Aceh. Hampir di setiap sudut ibukota provinsi ini dengan mudahnya ditemui berbagai warung kopi, baik yang masih sederhana sampai yang berkelas kafe. Di samping menu yang menggugah selera serta tempat yang nyaman, WiFi juga menjadi magnet yang sangat kuat untuk menarik minat para kaum muda. Tidak heran, banyak warung kopi yang bahkan buka sampai 24 jam yang sebagian besarnya dipenuhi oleh mahasiswa.

Melihat kondisi ini, sangat disayangkan apabila mahasiswa yang menempuh pendidikan di ibukota provinsi ini lebih tertarik duduk berjam-jam lamanya di warung kopi di banding perpustakaan. Padahal perpustakaan merupakan destinasi yang sangat bagus untuk menambah wawasan dan mencari referensi ilmu yang diinginkan. Pustaka Unsyiah sebagai perpustakaan terbaik di Aceh kini memanfaatkan kondisi yang sedang menjadi trend di kalangan kaum muda. Dengan konsep ‘more than just a library’, Pustaka Unsyiah bekerjasama dengan Coffe Cho dengan menyediakan LibriCafe. Dengan adanya LibriCafe, sekarang pengunjung bisa belajar sambil ngopi.

LibriCafe di desain dengan sangat menarik dan sesuai dengan selera mahasiswa yang kekinian. Tidak hanya itu, berbagai menu minuman pun ikut disajikan untuk menambah daya tarik. LibriCafe berada di lantai 1 pustaka Unsyiah yang berdampingan dengan panggung mini. Setiap minggunya di panggung tersebut di adakan Relax and Easy, yaitu acara yang menampilkan minat dan bakat dari mahasiswa Unsyiah seperti bernyanyi, menari, sulap, membaca puisi dan lain lain. Selain itu Di tempat yang sama juga diadakan kegiatan harmony campus. Hal ini semakin memperkuat daya tarik Pustaka Unsyiah sebagai pustaka yang sangat dekat dengan mahasiswa.

Seperti halnya warung kopi yang tersebar luas di wilayah kota Banda aceh, LibriCafe juga menyediakan WiFi gratis bagi pengunjung. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara positif untuk mencari referensi perkuliahan bagi mahasiswa. Apalagi kini Pustaka Unsyiah buka hingga malam hari dan bahkan hari sabtu dan minggu sampai jam tertentu. Ini dilakukan untuk mendukung aktifitas mahasiswa dan membuat pengunjung semakin nyaman di perpustakaan.

Pustaka Unsyiah telah jauh berubah ke arah yang lebih positif untuk meningkatkan minat membaca di kalangan mahasiswa. Apabila dahulunya makanan dan minuman dilarang untuk masuk kedalam pustaka, kini peraturan itu telah berubah. Makanan dan minuman di perbolehkan untuk dibawa masuk dengan kriteria tertentu. Makanan dan minuman yang berminyak dan berbau tajam dilarang untuk dibawa masuk ke dalam pustaka. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terganggunya pengunjung pustaka yang lainnya. Diluar daripada itu, pustaka Unsyiah sangat membantu mahasiswa dalam belajar. Apalagi bagi mahasiswa yang beralasan tidak bisa belajar dalam keadaan haus dan lapar.

Advertisement

Dengan semakin bertambah banyaknya warung kopi dengan konsep yang beragam dan inovasi yang baru, ini menjadi tantangan yang besar bagi pustaka Unsyiah untuk tetap menjadi magnet bagi mahasiswa. Bukan tanpa alasan juga, kampus Unsyiah ingin mencetak mahasiswa yang cinta ilmu pengetahuan, yang tidak hanya rajin duduk di warung kopi tapi juga rajin membaca di perpustakaan. Dengan berbagai fasilitas yang semakin kekinian dan hadirnya LibriCafe bagi pengunjung, di harapkan minat baca di kalangan mahasiswa juga akan semakin meningkat. Jadi, ayo belajar sambil ngopi di pustaka Unsyiah.