Saya bukan orang yang paham tentang cerita Dilan dan Milea, saya tidak menonton film maupun membaca novelnya. Tapi terlepas dari itu saya ingin membahas sedikit tentang fenomena yang sedang booming sekarang ini.

Dilan menjadi pembicaraan dimana-mana, ada yang pro dan juga kontra. Kubu yang pro dengan Dilan banyak mengutip tentang quote dalam film tersebut dengan beberapa modifikasi, yang berbunyi, "Rindu itu berat kamu gak akan kuat, biar aku saja" mirip sekali dengan tren ketika film AADC 2 tayang dan banyak yang mengutip 'quote legendaris' Cinta kepada Rangga, "Rangga, yang kamu lakukan ke aku itu jahat!".

Advertisement

Sementara pihak yang kontra memilih untuk membahas kisah cinta Dilan yang seakan kurang masuk akal terjadi di masa sekarang, bahkan salah satu laman menyebut bila film Dilan seolah dibuat dengan setting 1990an untuk penonton di tahun 1990. Dan beberapa orang dari kubu kontra juga kerap mengutip quote-nya namun bertentangan dengan isi film dan ada juga yang membuat meme. Untuk yang terakhir kubu pro serta orang yang sekedar nimbrung dalam tren melakukan hal yang sama.


Kedua kubu pro maupun kontra dan kubu ketiga yaitu yang sekedar mengikuti tren ialah bukti kesuksesan film dan novel Dilan.


Pidi Baiq dan jajaran produser film Dilan telah berhasil mendapatkan media promosi 'ter-hakiki' saat ini yaitu mulut orang lain atau mungkin jempol orang lain. Ya, lihat saja betapa mudahnya film Dilan dikenal banyak orang tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk iklan di sana-sini. Orang yang tidak menonton film atatupun novelnya bahkan seperti sudah tahu betul bagaimana kisah perjalanan cinta romastis Dilan dan Milea, saking seringnya dua "legenda" itu dibahas.

Advertisement

Saya pribadi lebih menganggap ini sebuah fenomena positif, setidaknya film Indonesia menjadi raja di negeri sendiri mengalahkan film asing yang naik layar di waktu yang hampir bersamaan seperti The Commuter dan The Greatest Showman. Itu menunjukkan jika film Indonesia makin memiliki daya saing lebih di tempat asalnya. Dan yang bagusnya lagi, tren genre yang laris pun cukup beragam saat ini, buktinya Dilan tayang saat film romantisme remaja sedang sedikit di bioskop.

Rumah produksi kini tidak membuat film bergenre itu-itu saja hanya karena satu film di genre tersebut tengah naik daun. Mereka lebih kreatif, sehingga dapat memfasilitasi keinginan penonton atas berbagai macam genre serta mampu meraup pasar yang lebih besar bahkan yang belum pernah terpikirkan di benak para produser. Untuk saat ini, film bergenre horor, komedi, dan romantis sedang menjadi primadona dalam mencukupi kebutuhan film nasional.

Untuk sisi positif dan negatif konten dalam film Dilan, saya yakin orang-orang khususnya generasi millenial sudah paham bagaimana menanggapi film percintaan anak muda. Atau mungkin ada yang mau mengulasnya? Jika ada, saya pasti tertarik membacanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya