Ketika seorang lelaki mendekatimu, tanpa malu memegang tanganmu sambil berkata lembut, “maukah kamu jadi pacarku”, atau bahasa kerennya “be my girl please”. Apa yang akan kamu jawab? Apabila kamu jawab dengan pipi merona merah sambil tersipu-sipu, “ya aku mau”. Kuucapkan selamat memasuki dunia khayalmu. Karena kamu hanya akan menjalani sebuah panggung sandiwara yang semu.

Lelaki yang kamu anggap sebagai pacarmu, sejatinya bukanlah siapa-siapa bagimu. Ia tetap orang asing yang kebetulan singgah dalam hidupmu. Cobalah jawab pertanyaanku berikut,”ketika dia asyik masuk dengan wanita lain, mungkin via telepon, sms, chating atau sarana lainnya, mungkinkah kamu cemburu membabi buta kepadanya sedangkan kamu bukan yang memberinya makan?” Ataukah kamu akan menangis sesenggukan semalam suntuk dan tetap membiarkannya dengan wanita lain itu, dengan harapan dia tidak meninggalkanmu?.”

Karena itu girl, kamu tak berhak atas apapun selama hubungan kalian masih sebatas pacaran. Dia mudah saja meninggalkanmu ketika melihat bunga lain yang lebih harum daripada dirimu. Sedangkan dia dengan seribu bujuk rayu mudah saja menodaimu, dengan dalih wujud cinta kasih di antara kalian. Jadi siapa yang dirugikan?

Kamu bukanlah barang tester. Coba sedikit renungkan contoh berikut. Kalau kamu pergi ke toko parfum, lalu memilih salah satu jenis, pasti penjaganya akan memberikan parfum tester kepadamu. Kamu hirup baunya dan kamu cocok, lalu membelinya. Apakah barang yang diberikan oleh si penjaga adalah barang yang kamu coba tadi? Tentu saja tidak, dia akan mengambil barang yang masih baru.

Seperti itulah dirimu jika merelakan dirimu sebagai barang tester lelaki dengan dalih penjajakan. Kamu hanya bahan percobaan saja, apabila sudah menemukan yang cocok, kemudian dipilihlah barang yang baru. Bukan barang tester murahan. Itulah hakikat pacaran sebelum adanya kata halal. Kita tentu sadar, hasrat yang menggelora dalam jiwa butuh penyaluran, rasa cinta dan sayang harus dilimpahkan.

Advertisement

Untuk itulah Islam sudah memberikan solusi, dan sebaik-baik solusi adalah apa yang dipetuahkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam. Beliau bersabda “Wahai sekalian pemuda, siapa saja dari kalian yang telah mampu untuk menikah maka menikahlah, karena hal tersebut lebih menjaga pandangan dan kemaluan, dan bagi yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena itu merupakan tameng” (HR Bukhari Muslim).

Kuatkanlah azzam dalam dirimu, jangan pernah ragu untuk memilih solusi yang telah Allah berikan kepada hamba-hambaNya. Karena segala sesuatu yang Allah gariskan pastilah baik kesudahannya.