Di mal-mal ataupun tempat-tempat umum lainnya, sering kita melihat anak-anak kecil sudah dibekali gadget atau smartphone oleh orangtuanya, atau anak-anak yang tantrum, merengek, dan menangis meminta sesuatu dan akan terus melakukannya sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Terkadang jika orangtua dengan tegas menolak, para balita itu akan merespon dengan renggutan atau ambekan. Mereka seakan sudah tahu bahwa dengan mengamuk mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau, jika strategi menangis gagal.

Entah siapa yang mengajarkan ini, atau dari mana anak-anak belajar sejak dini tentang emosi berupa kemarahan. Bisa jadi orang tua memberikan contoh, tontonan kurang mendidik yang ditonton tanpa pengawasan, atau kebetulan mereka belajar bahwa dengan mencurahkan emosi tertentu, keinginan mereka akan dituruti, sehingga mereka menggunakan cara tersebut ketika meminta sesuatu.

Advertisement

Bukan hanya anak kecil. Remaja, bahkan orang dewasa pun masih bisa tantrum menuntut orangtuanya. Mereka menganggap sudah menjadi kewajiban orangtua untuk memenuhi apapun permintaan anaknya. Ada pula yang menganggap cacat orangtuanya terlalu besar dan tak terampuni, sehingga untuk menebusnya, sang orang tua harus mengabulkan semua keinginan si anak.

Apa benar begitu? Buat saya, bagaimana orang tua memperlakukan kita, baik atau buruk, itu adalah tanggung jawabnya kepada Tuhan. Tapi, bagaimana kita berbakti dan patuh pada orang tua terlepas dari kebaikan dan keburukan mereka, itulah bentuk pertanggung jawaban kita kepada Tuhan.

Siapa kita bertindak main hakim sendiri, beralasan ‘membalas dendam’ atau ‘menghukum’ orangtua kita atas tindakan-tindakan buruknya di masa lalu? Bila kewajiban sederhana seperti mendengarkan nasihat saja kita gagal, bagaimana kita masih punya muka meminta hak-hak kita dipenuhi?

Advertisement

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, bisa jadi terkadang sebagai anak kita tidak terima dan tidak cocok dengan cara orangtua memperlakukan kita. Kita ingin dinasihati dan diperingatkan baik-baik, bukan dengan cara dibentak dan dimaki dengan kata-kata kasar serta menyinggung perasaan, apalagi dilakukan di depan umum (almarhum papa saya sering melakukan itu dulu. Mengingat itu tidak lagi membuat saya marah, hanya menyisakan perasaan sedih).

Kita ingin bersenang-senang dan bebas-sebebasnya seperti teman-teman lain. Bila perlu meski kita berbuat salah, orangtua tidak perlu memarahi kita. Sayangnya, kita sendiri sebagai anak terkadang juga tidak peka. Orang tua sudah berusaha menasihati dengan cara lembut, sembari mengobrol ringan, agar kita tidak merasa digurui. Tapi kita malah menganggap enteng dan mengira nasihat-nasihat itu sebagai kelakar biasa yang tidak perlu ditanggapi serius. Bila sudah begitu, bukankah sudah sepantasnya orangtua menegur lebih keras?

Apa itu kita lakukan karena merasa sudah merupakan kewajiban orang tua melimpahi kita dengan materi? Bahwa sudah menjadi hak-hak kita menerima semua itu? Dan kita hanya ‘menagihnya’? Kalau begitu coba saya ingatkan lagi kalau-kalau kita semua lupa,


  1. Ibu kita melahirkan kita, memberikan kita hak untuk hidup, meski kita tidak memintanya. Ibu memilih untuk melahirkan kita karena telah mencintai kita bahkan sebelum mereka melihat kita.

  2. Karena kita sebagai anak merupakan hasil dari hubungan dua orang yang saling mencintai, anak disebut sebagai buah hati atau buah cinta. Kita menerima hak untuk dicintai dan disayangi. Lagi-lagi, kita tidak memintanya tapi orangtua kita telah memberikannya secara cuma-cuma.

  3. Kita dibesarkan dengan baik, diberi makan cukup dan bergizi, serta dipenuhi semua kebutuhan dasarnya. Kita diberi tempat tinggal dan pakaian layak. Orangtua memberikan hak ini bahkan sebelum kita memahami apa itu rumah, apa itu pakaian, atau mengapa kita harus berpakaian.

  4. Jika orang tua kita dulu berasal dari kalangan menengah ke bawah, kita pasti sering mendengar alasan mengapa mereka ingin kita bersekolah di sekolah terbaik, yang memiliki standar jauh di atas kemampuan kita. Karena mereka tidak ingin kita berakhir seperti mereka, bodoh dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Mereka ingin mendorong kita ke derajat yang lebih tinggi, melalui pendidikan, karena mereka telah merasakan pahitnya menjadi orang bodoh dan tidak mengerti apa-apa. Mereka ingin membukakan kesempatan seluas mungkin bagi kita, kesempatan yang tidak mereka dapatkan karena orangtua mereka tidak mampu. Jadi sekali lagi, hak kita untuk menerima pendidikan telah dipenuhi tanpa kita minta jauh sebelum kita paham betapa penting dan besarnya manfaat bersekolah.

Jika mau, orang tua bisa saja mencatat segala pengeluaran terkait kebutuhan kita untuk ditagihkan setelah kita bisa menghasilkan uang sendiri. Alih-alih, apa yang mereka katakan? ‘Kamu sukses saja Papa Mama sudah senang’, ‘Papa Mama nggak perlu duit kamu, yang penting kamu berhasil’, ’Kamu nggak usah beliin Papa Mama ini itu, ditabung aja buat masa depan kamu’, begitu bukan? Bahkan setelah kita dewasa dan berkeluarga kelak, mereka sebagai orang tua tak bisa berhenti mengkhawatirkan keadaan kita hingga mereka menghembuskan napas terakhir. Saya berani menjamin karena saya telah banyak melihat, termasuk merasakan sendiri hal ini.

Sekalipun kita diberi cukup waktu melunasi ‘utang-utang finansial’ kita, bagaimana dengan utang-utang tak kasat mata, yaitu poin 2? Melalui kata-kata pamungkas yang saya tulis di paragraf sebelumnya, bisa dibilang ‘utang-utang finansial’ kita sudah dihapuskan. Jadi satu-satunya cara kita bisa melunasi sisa-sisa ‘utang’ lain adalah dengan mengembalikan semua poin 2 yang telah kita terima.

Masalahnya, sebanyak apapun yang kita berikan dan sebanyak apapun waktu yang kita punya, poin 2 adalah utang yang takkan pernah bisa dilunasi. Bila diukur dengan uang saja tidak bisa, bagaimana kita berharap bisa melunasinya? Waktu-waktu yang dihabiskan orang tua untuk mengurus kita. Bergadang di tengah malam karena kita terbangun, atau sakit, atau menunggu kepulangan kita dari beraktivitas.

Orang tua kita sering berkata, kebahagiaan anak-anaknya adalah kebahagiaan mereka. Lalu, bisakah kita mengatakan hal serupa, bahwa kita hanya akan berbahagia jika melihat mereka bahagia, bukan dengan bersenang-senang bersama teman-teman ataupun pacar yang kita anggap lebih agung dan penting, padahal tidak terlibat dalam hidup kita sebanyak dan selama orangtua kita?

Terlepas dari dampak positif yang kita terima dari teman-teman kita, mereka tidak menyekolahkan, memberi makan, atau mengurus kebutuhan kita. Malah bisa dikatakan secara sepintas lalu, mereka lebih banyak ‘membantu’ kita menghabiskan uang orang tua kita. Bisakah kita memprioritaskan orang tua kita di atas segalanya?

Salah seorang anak yang saya kenal, sering bersitegang dengan ayahnya sampai meninggalkan rumah selama berhari-hari. Ia tidak ingin bersekolah, sedangkan ayahnya memohon-mohon agar ia tidak berhenti, paling tidak hingga lulus sekolah menengah, karena kuliah bisa dilakukan kapan saja setelahnya.

Ketika pada akhirnya sang ayah terlanjur kecewa dan sakit hati, sang anak gantian meminta melanjutkan sekolah. Sang ayah tak lagi peduli, dan saya tidak menyalahkan beliau. Beliau telah memberi kesempatan, tapi sang anak merasa benar akan pilihan hidupnya. Kini sang anak tak bekerja, tak melakukan apa-apa, pergi berhari-hari tanpa kabar, dan hanya pulang saat butuh uang dan makan, bahkan masih berani menuntut dibelikan barang-barang mahal.

Bagaimana kalian menilai cerita ini? Karena saya belum mencapai tahap parenthood, atau jiwa sebagai orangtua, saya tak mengerti konflik batin sang ayah. Saya akan dengan mudah menjawab, jangan bukakan pintu, jangan beri makan, biarkan dia rasakan sulitnya mencari uang diluar sana sendirian. Tapi sang ayah menjawab ia tidak bisa.

Bagaimanapun ia orangtua, dan sebagai orangtua ia harus memastikan anak-anaknya cukup makan, meskipun anaknya selalu menyakiti hatinya. Kita pasti pernah mendengar idiom ‘don’t bite the hand that feeds you’. Saya pun ingin tahu, bagaimana si anak masih punya muka untuk datang meminta-minta lalu dengan santainya melukai hati orang tua yang telah membesarkan dan memberinya makan?

Seandainya neraca bisa dipakai untuk mengukur seberapa imbang hak dan kewajiban kita sejauh ini, sudah pasti hasilnya timpang sebelah, dimana hak-hak yang telah kita terima lebih berat dibanding kewajiban-kewajiban yang telah kita jalankan. Akui saja. Kita sudah kelewat tidak tahu diri karena telah terlalu banyak meminta, terkadang bahkan melebihi kemampuan orangtua kita. Belum lagi benturan perbedaan apa yang kita mau dengan apa yang orangtua (sanggup) berikan.

Saya belum menjadi orangtua, tapi saya merupakan seorang anak dari orangtua yang sangat hebat. Dan sekarang setelah kehilangan salah satunya, bisa dibilang saya telah menjadi setengah orangtua. Ocehan dan omelan yang dulu sangat saya benci, kini sedikit demi sedikit mulai masuk akal. Mengapa hal-hal yang saya anggap sepele ketika remaja, menjadi masalah yang begitu besar dan mengundang kemarahan orangtua.

Saya dulu benci karena sering dikekang dan tak bisa sebebas teman-teman saya yang lain. Saya iri, saya marah karena tidak bisa seperti teman-teman saya. Tapi kini setelah melihat dari sudut pandang seorang orangtua saya mengerti alasan dibalik sikap-sikap menyebalkan itu. Ini klise memang, tapi benar adanya. Menuruti setiap permintaan dan membiarkan kita memperoleh segala sesuatu dengan mudah, dalam jangka panjang akan berakibat pada kerusakan karakter. Justru sebagai anak kita harus bertanya-tanya jika orangtua tidak menegur atau memarahi kita atas kesalahan yang kita lakukan dan tidak berusaha mengarahkan kita ke arah yang benar.

Sebagai penutup, saya hanya ingin mengingatkan satu hal pada kita semua. Kita akan menjadi tua, orangtua kita suatu saat akan tiada, dan kita akan membangun keluarga serta mengambil alih peran sebagai orangtua. Saat itu, kita akan melihat buah dari karma kita. Apa yang dulu kita lakukan pada orang tua kita, akan anak kita lakukan pada kita, sebab setiap karakter yang mereka miliki, mereka warisi dari kita.

Jadi, anggap saja apa yang kita perbuat pada orangtua kita sebagai investasi. Bukan hanya kita menabung karma baik bagi diri kita sendiri di masa depan, tapi juga karma baik bagi anak-anak kita kelak. Dengan mewariskan karakter-karakter baik pada anak-anak kita, kita juga menghindarkan mereka dari karma buruk melawan orangtua mereka, yaitu kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya