Mempunyai sebuah hubungan dengan seseorang tidaklah mudah. Dimulai dari sebuah perkenalan singkat, membicarakan hal-hal umum, bertukar pendapat, hingga akhirnya merasa nyaman satu sama lain. Menjadi seorang perantau memang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, menjadi pribadi yang mandiri juga tidak ada dalam diriku sebelumnya. Menjalani sebuah kehidupan yang tenang dan nyaman, itu sudah cukup menurutku. Aku tidak pernah berfikir bahwa nantinya di perantauan, aku akan mengenal dirimu. Satu hal yang membuatku merasa bersyukur hingga saat ini.

Pertemuan yang tidak pernah direncanakan, perkenalan yang biasa saja, tanpa kesan, tanpa rasa. Awal mengenalmu, aku tidak pernah tau kau akan menjadi sosok terindah untukku hingga saat ini. Aku hanya berfikir apa yang akan aku lakukan dan apa yang harus kuraih nantinya. Kosongnya hati ini yang membuat aku memaksa untuk mencari seseorang yang pantas mengisi, tidak hanya memberi harapan kosong, tanda tanya, teka-teki yang tidak pernah dapat terpecahkan. Harapan yang tidak pernah ada ujungnya, hilang timbul seiring berjalannya waktu.

Harapan itu mulai muncul, saat aku mulai mengosongkan semua ruangan di hati. Tidak pernah aku bayangkan, bahkan awalnya saja aku tidak ingat persis karena apa dan karena siapa sehingga pada akhirnya kamulah yang aku pilih, kamu yang akan aku kenal lebih jauh, kamu yang akan menjadi orang baru yang kusebut dalam doaku. Doa atas pilihan yang aku serahkan jawabannya kepada pemilik hati. Doa yang menjadi awal langkahku untuk mengenal seseorang baru dan berharap tidak berakhir seperti yang dulu.

Memang, sekarang aku dan dia telah menjadi kita. Aku bersyukur tentang itu, Sangat bersyukur! Tidak mudah pada awalnya dan tidak sulit menjalaninya. Segala yang telah kita lalui selama ribuan hari ini telah membuat aku merasa bahwa memang dialah orang yang tepat. Entah seperti harapan yang dikabulkan atau memang sudah saatnya aku menemukan sosok penenang hati. Tepat sekali, Dia lah orangnya.

Selama perjalanan ini, aku belajar untuk memahami bagaimana caranya berbagi, mengalah, beriringan, dan saling mendukung. Meskipun sesekali aku merasa perlu didahulukan. Tidak sedikit perempuan yang merasakan hal ini. Namun semua itu memang bagian dari sebuah komitmen yang telah kita sepakati. Entah dari mana dan mulai kapan. Hanya satu bagian yang penting, kita seiring sejalan.

Advertisement

Selayaknya pasangan lainnya, aku dan dia pasti pernah merasakan hal yang tidak mengenakkan hati. Entah dari sebuah salah bicara, salah bersikap, ataupun faktor diluar hubungan kita. Tidak pernah sekalipun aku berniat untuk mencoba mengakhiri apa yang sudah susah payah kita bangun. Sementara orang diluar sana dengan mudahnya melakukan hal itu bahkan karena suatu alasan tak masuk akal.

Sejak aku mengenal dia dan dia memahamiku, aku berharap tidak pernah ada sebuah masalah yang menyebabkan hilangnya kepercayaan satu sama lain. Dan dia tidak pernah memintaku untuk berhenti merindukannya.