Dilansir dari alodokter.com, hormon ini mempengaruhi perilaku seseorang. Hormon ini sendiri sering dikaitkan dengan berbagai kenikmatan duniawi yang sudah ada. Hormon dopamin terletak di saraf kita, kelebihan hormon ini dapat menyebabkan schizophrenia (suatu penyakit yang berhubungan dengan mental seseorang) sedangkan kekurangan zat ini dapat menimbulkan penyakit parkinson yang membuat penderitanya mengawang-awang.

Hormon ini sendiri baik dan berguna, jika ada di dalam tubuh dalam takaran seimbang. Hormon ini membuat kita lebih bahagia dan termotivasi untuk hidup juga membantu memperlebar pembuluh darah dan memperlancar proses buang air kecil. Sayangnya, ‘kebahagiaan’ yang diberikan oleh hormon ini kerap disalahgunakan oleh berbagai pihak untuk mendapatkan uang.

Advertisement

Hormon ini terletak di makanan yang kita makan dengan jumlah seimbang, tetapi juga terletak di berbagai psikotropika dengan jumlah lebih mantap. Psikotropika ini kerap digunakan atlet-atlet tidak bertanggung jawab, untuk menyemangati mereka dengan tujuan memenangkan lomba. Oleh sebab itu penyelenggara lomba kerap menjalankan tes doping kepada atlet-atletnya.

Pihak lain yang tidak bertanggung jawab adalah penjual psikotropika kepada masyarakat melalui pasar gelap, mereka menjualnya dengan harga sangat mahal sekaligus meracuni generasi dengan berbagai obat yang membuat ketagihan.

Dopamin tidak hanya bersembunyi di zat-zat yang dilarang pemerintah, melainkan bersembunyi di suatu zat adiktif legal di seluruh dunia yaitu nikotin. Nikotin dan zat-zat yang sudah saya sebutkan tadi tidak benar-benar mengandung dopamin, mereka sebenarnya memicu reaksi kimia di otak yang menyebabkan pengeluaran hormon dopamin yang membuat kita ‘bahagia’.

Advertisement

Kembali ke nikotin, nikotin terkandung di semua jenis rokok bakar (tembakau) dan beberapa jenis cairan untuk rokok elektrik (vape). Nikotin memerlukan waktu hanya beberapa detik untuk mencapai otak dan orang itupun mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan dari hormon tersebut.

Tanpa disadari, bermain game maupun menggunakan media sosial juga menyebabkan otak kita untuk memunculkan hormon dopamin. Itulah sebabnya banyak orang menjadi gadget addicts, sebutan untuk orang yang ketagihan terhadap perangkat elektroniknya karena ada suatu aplikasi di dalamnya.

Produksi hormon dopamin saat kita bermain game sama besarnya dengan media sosial, oleh sebab itu kadangkala kita tidak bisa menghentikannya meski sudah bermain untuk waktu yang cukup lama.

Solusinya atas ketagihan berbagai hal yang sudah disebutkan adalah untuk mengurangi penggunaannya. Kita juga bisa menggantinya dengan aktifitas yang lebih produktif ataupun menyehatkan yang juga memicu hormon dopamin, olahraga misalnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya