Mencari pasangan hidup tentu bukanlah hal yang mudah. Sering kali seseorang dipertemukan untuk orang yang salah, hingga akhirnya bertemu dengan sosok cinta sejati. Namun, ada juga seseorang yang langsung bertemu dengan orang yang tepat untuk menghabiskan waktu hingga maut memisahkan. Tentu hal ini merupakan dambaan bagi setiap orang dan sering kali diinginkan pada momen first love.


Bukan cinta kita yang salah, namun kesiapan dan kematangan mental yang belum kita miliki membuat cinta kita tak berarah


Advertisement

Ketika seseorang mulai merasa suka terhadap orang lain, tentu ada beberapa hal yang membuatnya tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai si do'i. Dalam tahap menjalin hubungan, tentunya kita menginginkan bahwa pasangan kita adalah pasangan yang tepat kita pilih untuk melangkah selanjutnya. Namun tahukah Anda bagaimana menentukan apakah pasangan kita memang sudah cocok atau belum untuk kita? Let's check this out!

1. First Impression bukan jaminan He/She is the one !

First Impression atau biasa disebut pandangan pertama merupakan langkah awal dalam menjalin hubungan. Ketika seseorang saling bertemu kemudian saling berinteraksi, maka terjadi bentuk-bentuk persepsi pemahaman antara satu dengan lainnya. Hal ini akan memutuskan bagaimana kelanjutan dari interaksi kita. Apakah hanya sekedar berteman, bersahabat, mungkin melanjutkan interkasi yang lebih intens atau mengakhiri interak? Hal itu tergantung bagaimana hubungan awal yang tercipta.

Advertisement

Namun, jangan terpaku pada pertemuan pertama. Interaksi yang dilakukan antar seseorang yang saling membangun hubungan satu sama lain ini diciptakan seindah mungkin, tanpa memperlihatkan kekurangan satu sama lain. Tingkah laku serta tutur kata diatur sebaik mungkin agar menciptakan kesan positif terhadap pasangan. Seringkali seseorang justru menampilkan sisi pada dirinya yang terlihat tidak natural.

Membuat pasangannya merasa aneh dan tidak nyaman. Namun yang perlu diingat adalah ketika kita mulai menjalani hubungan lebih lanjut bagaimana seseorang ini bersikap pada kita. Apakah ada yang berbeda ketika first impression dengan next impression ? Hal ini perlu kita kaji untuk mengetahui seberapa jujur pasangan kita ketika awal bertemu. Jadi, jika pasanganmu tidak merubah sikapnya sejak awal, ini membuatnya memiliki 1 poin positif bahwa dia memang apa adanya.

2. Komitmen yang disepakati

Komitmen merupakan salah satu tonggak berjalnnya suatu hubungan. Ketika kamu dan pasangan kamu mulai membangun hubungan dengan komitmen untuk saling bersama, maka pegang komitmen tersebut. Tentunya, komitmen tersebut dibuat tidak hanya berdasar "hal apa yang menguntungkan bagi kita?" namun "hubungan kita akan dibawa kemana selanjutnya?"

Jika pasangan kamu sudah memegang komitmen ini kuat-kuat, maka kamu bisa tersenyum manis karena ada hal yang membuat pasangan kamu akan bertahan dalam segala kondisi hubungan. Namun, hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana bentuk komitmenmu ini akan berjalan? Apakah hanya sekedar menjalani hubungan yang "lihat nanti saja" ? Apakah menjalani hubungan dengan perjanjian-perjanjian tertentu? Atau menjalani hubungan dengan komitmen menjadi Satu untuk Selamanya? Sepertinya hal ini perlu kamu tegaskan kembali pada pasangan.

3. Perlakuan pasangan terhadap Saya

Seringkali cinta membutakan seseorang. Membuat seseorang tidak mempedulikan keadaaannya, namun hanya keadaan pasanganlah yang dipikirkan. Hal ini membuat adanya pihak yang dirugikan dalam suatu hubungan. Pentingnya membina hubungan dalam mental kedewasaan mampu menghindarkan seseorang dari sikap yang kurang memuaskan yang dilakukan oleh pasangan.

Jika seseorang berlaku yang tidak menyenangkan terhadapmu, maka perlu kita cari tahu mengenai apa yang membuatnya berlaku tidak menyenangkan. Perlakuan pasangan di awal memang tidak bisa kita jadikan patokan untuk perlakuan selanjutnya. Namun, dari sini kita mampu memahami bagaimana pasangan memahami kita dan bagaimana pasangan menganggap kita dalam kehidupannya.

4. Sejauh mana lingkungan mengetahui hubungan kita ?

Yup! Hal ini terlihat remeh namun sangat diperlukan. Cinta yang terarah tentunya membutuhkan bentuk "pengakuan" dari lingkungan sekitar, baik itu lingkungan sosial maupun lingkungan keluarga. Jika seseorang memang serius dalam menjalin hubungan, dia tidak akan ragu lagi untuk mengenalkan pasangannya kepada lingkungan sekitarnya. Semakin kita mengenal lingkungan pasangan kita, semakin kita tahu bagaimana "tabiat" pasangan kita sehingga mampu menjadikan pertimbangan tersendiri dikala kita ragu akan sikapnya. Eksistensi kita dalam lingkungan pasangan juga perlu kita ketahui.

Lingkungannya akan membawamu memahami pasanganmu lebih jauh. Ketika lingkungan menolakmu, bukan dirimu yang salah. Namun, ada hal dalam dirimu yang nampaknya tidak bisa satu arah dengan pasanganmu. Bila hal ini terjadi, tak perlu khawatir. Kamu hanya perlu mencari tahu apa yang menyebabkan kamu tidak diterima dalam lingkungan pasanganmu. Jika penyebab tersebut bisa kamu selesaikan, maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Namun jika tidak, maka kamu perlu membicarakan kembali dengan pasangan.

5. Bukan mencari lagi, tetapi membenahi yang salah

Ini salah satu kunci paling penting dalam membangun cinta yang terarah. Ketika suatu hubungan telah memiliki komitmen dan seketika itu pula salah satu dari pasangan melupakan komitmen tersebut, terciptalah konflik dalam hubungan mereka. Ketika konflik semakin memuncak, banyak pasangan yang memilih untuk menyerah terhadap keadaan dibandingkan untuk membangun hubungan yang lebih kuat.

Perlu diingat bahwa pasangan yang saat ini kita miliki bukanlah barang yang seenaknya dapat berganti. Bukan pula hadiah yang jika tidak kita inginkan dapat kita tolak. Pasangan kita adalah cerminan diri kita. Ketika pasangan kita berbuat salah, meninggalkannya bukan satu-satunya solusi. Kesalahan pasangan kita mencerminkan kesalahan kita juga. Entah dalam bersikap ataupun permasalahan lain yang tidak ditegaskan dalam suatu hubungan.

Maka dari itu, perbaiki pasangan kita jika salah. Nasehati dan bimbing pasangan kita agar menjadi benar. Pertahankan pasangan kita jika dia masih mendengarkan ucapan kita.

Sekian dari saya. Sekedar sharing untuk kawan-kawan mengenai pengalaman pribadi yang saya punya. Jika ada kata yang kurang berkenan, saya siap menerima kritik dan saran. Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Ditunggu ya artikel selanjutnya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya