Bahwa sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.

Saya pernah gagal, kawan. Lalu apa, hal pertama yang saya lakukan? Menangiskah?

Apapun yang saya rasakan hari ini, adalah karena saya kecewa. Kecewa lantaran usaha saya yang sudah mati-matian dirasa sia-sia dan tak ada hasil. Selain saya yang dikecewakan, saya pun telah mengecewakan orang-orang yang telah mendukung dan mendoakanku secara penuh. Bagaimana dengan orang tua saya? Saudara saya? Dan bahkan kawan-kawan yang telah menaruh harapan besar terhadapku?

Apa yang bisa saya perbuat?

Kukabari orang tua saya, saya tak mengatakan bahwa saya telah gagal. Namun saya menceritakan tentang sebuah permisalan yang seandainya saya gagal ataupun tidak lulus, karena saya tak berani menceritakan kegagalanku. Saya tersayat melukai harapan mereka. Yah, saya tersayat.

Advertisement

Bagaimana jawaban mereka atas cerita permisalan yang saya lontarkan?

Saya meyakini bahwa orang tua saya adalah malaikat penjaga saya. Mereka sama sekali tak menunjukkan rasa kecewa ataupun terlukai. Mereka justru memberikan asupan motivasi untuk saya, bahwasanya apapun hasilnya nanti itu adalah rezekimu. Dan jika memang ini belum jalannya barangkali jalan yang lebih baik telah dipersiapkan untuk saya. Kuncinya adalah satu, ikhlas. Ikhlas dengan apapun yang diberikan karena jalan saya masih panjang, masih ada banyak hal baik yang bisa diperbuat. Dan satu lagi pesan terakhir sebelum menutup perbincangan di telepon, kamu jangan minder dan tetap semangat dengan apapun hasilnya nanti, karena orang tua selalu beroda untuk kebaikanmu.

Cucuran air mata seketika membasahi pipi hingga tak dapat berkata-kata. Saya menangis, namun ini bukan berarti saya jatuh. Ini adalah proses awal untuk kebangkitan atas semangat hidup saya. Akan kubuktikan bahwa aku bisa lebih baik dan lebih sukses dengan jalan yang lain. Akan kujalani tiap proses yang ada. Aku tak akan mengecewakanmu lagi, bapak ibu.

***

Sepenggal cerita tentang kegagalan yan pernah saya alami. Memilukan memang, keika kita merasa kecewa dan mengecewakan oran lain. Dengan nasehat orang tua, aku meyakini bahwa rencana Allah selalu berakhir dengan lebih indah. Jika yan kau dapakan belum indah, iu erari elum sampai akhir. Kulanjutkan langkah selanjutnya sampai akhirnya saat masuk pada sebuah yayasan pendidikan yang sedang saya geluti sekarang. Sungguh, ini berkah. Ini lebih indah dari yang saya bayangkan. Berada dalam lingkunan yang dekat dengan nasehat-nasehat kebaikan menujuNya. Disini say belajar untuk tidak hanya mampu memberikan mau’idhoh khasanah (nasehat) tetapi berusaha menjadi uswatun khasanah (Teladan) bagi orang lain teruama anak didik yang menjadi penerus selanjutnya.

Bahwasanya hati harus memiliki rasa yang sejati. Agar mimpi terpatri dalam hati. Pastikan langkahmu maju tanpa terhenti oleh hal kecil yang kau besar-besarkan. Berhentilah memanjakan raga, berjuanglah dengan kau gandeng pengorbanan karena jalanmu masih panjang. Buatlah hidup lebih berati dengan mandiri tanpa melukai siapapun termasuk diri sendiri

Jangan malu saat gagal, memangnya siapa di dunia ini yang tak pernah gagal?