Manusia adalah makhluk paling sempurna dibanding dengan makhluk lainnya. Berkat kesempurnaanya, ia dapat berpikir dan berperasaan, baik suka maupun duka. Saat melihat orang lain berduka, maka ia pun ikut berduka. Saat orang lain bahagia, ia pun juga merasa bahagia. Inilah alasan sederhana kalau manusia itu adalah makhluk sempurna ketimbang makhluk lainnya.

Akan tetapi adakalanya ia berada di suatu kondisi yang abnormal, yang tidak seperti biasanya. Artinya, kadang sebagian mereka merasa bahagia atas keterpurukan orang lain, dan sebaliknya, kadang merasa bersedih bahkan marah saat orang lain bahagia bersama kesuksesan yang diraihnya. Atas dasar ini, hidup seseorang merasa terbebani lantaran seringnya berperasaan negatif terhadap orang lain, atau lebih tepatnya, iri atas apa yang dimiliki orang lain.

Advertisement

Jika perasaan semacam ini masih saja dipelihara dan dipertahankan singgah di ke dalaman hatinya, bukan tidak mungkin kegalauan dan gundah gulana sangat senang ‘parkir’ dalam dirinya. Hal lumrah yang kerap terjadi di kehidupan sehari-hari adalah, ketika ada tetangga rumah beli mobil atau motor baru dan segala keperluan hidup lainnya, maka ada saja tetangga rumah lainnya yang merasa tidak suka, itu disebabkan adanya sifat iri dan sederet sifat negatif lainnya yang masih dipelihara.

Amat mustahil bagi orang yang ingin hidup bahagia, tanpa ada beban, tapi masih suka menyimpan rasa iri terhadap orang lain. Yang ada, hidupnya akan selalu diwarnai ketidakbahagiaan. Setidaknya, bagi orang yang mendambakan ketenangan dan kedamain dalam hidup, harus berani membuang jauh-jauh perasaan-perasaan negatif itu dari dirinya. Dan mau mengubah mindsetnya, dengan selalu ikut bahagia saat orang lain bahagia, dengan mengatakan, “Aku bahagia melihat temanku berhasil. Semoga Aku juga bisa seperti dia.” Nah, ungkapan seperti ini terlihat adem ayem. Sama sekali tidak ada unsur iri. Justru secara tidak langsung, ungkapan semacam itu menunjukkan dorongan untuk diri agar menjadi lebih baik lagi tanpa mendiskreditkan orang lain, atau tidak menjadikan orang lain sebagai ‘bahan iri' untuk dirinya.

Mungkin, tidak hanya kegalauan yang kita rasakan saat memendam rasa iri terhadap orang lain. Bakan, kemungkinan besar akan timbul niatan-niatan negatif dengan mendiamkan orang lain, atau tidak menyapa, bermusuhan dan bahkan melakukan penyerangan secara fisik. Kalau kita sudah tahu, bahwa sifat iri itu adalah ‘pangkal’ dari setiap kegalauan yang menyiksa kita selama ini, maka menafikannya dari hidup kita adalah cara tepat demi menyambut hidup yang lebih bahagia dan tak lagi terbebani.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya