Wahai pimpinan DPR, sungguh kami bukan para pembenci yang sensitif dan suka mencari-cari masalah. Lalu sekali tersinggung sedikit sudah marah ke ujung langit. Bukan, sungguh kami bukan seperti itu. Kami hanya mencintai negeri ini dengan porsi lebih.

Jadi janganlah salahkan kami yang kecewa melihat Anda dalam jejeran orang-orang yang seolah bukan siapa-siapa. Demi mendukung orang yang menurut kami juga bukan siapa-siapa dan entah untuk apa. Kami bahkan tak tahu dan tak terlalu mau tahu siapa dan apa maunya Dhonal Trump itu.

Advertisement

Sungguh, kami marah karena bagi kami anda adalah siapa-siapa, wahai pimpinan DPR, Setya Novanto, Fadli Zon. Bagi kami Anda adalah sosok yang mewakili negeri ini, orang-orang hebat yang menjadi citra bangsa. Sehingga apapun yang Anda lakukan, dimana pun Anda berada kami selalu mengira dan berharap itu adalah untuk kebaikan dan kemajuan negeri ini.

Wahai pimpinan DPR, lain cerita jika Anda ada dalam deretan tetamu acara pertemuan atau konsolidasi sebuah perjanjian antar bangsa demi perbaikan global. Jika ada Anda dalam acara seperti itu, sungguh kami pula yang akan menjemput Anda ke bandara. Akan datang kami membawa spanduk pujian tanda cinta. Tentu berbanggalah kami Anda sebagai perwakilan bangsa ini diperhitungkan untuk sebuah keputusan penting global.

Tapi kali ini kami tak habis pikir. Bagaimana bisa Anda meletakkan diri Anda pada sesuatu yang sungguh tak kami mengerti. Kehadiran bentuk dukungan untuk sesuatu yang belum jelas kepastian masa depannya. Bentuk dukungan untuk sesuatu yang belum tentu disukai atau dihargai oleh negeri itu secara resmi sebagai sebuah bangsa. Bentuk dukungan yang belum tentu bisa membawa manfaat untuk negeri kita. Kecuali malah membawa kebingungan dan buruk sangka.

Advertisement

Jika memang Dhonal Trump sudah bisa 99 persen dipastikan menang dan melenggang jadi presiden negeri itu tentulah tak terlalu mengapa. Siapa tahu negara kita dan negara itu semakin karib bersahabat. Lalu banyak pula investasi masuk ke sini dan lapangan pekerjaan terbuka semakin banyak saja. Tapi mengapa yang kami dengar malah sebaliknya? Jika pun Dhonal Trumph dipastikan menang bukankah akan lebih baik tak menunjukkan dukungan untuk apa yang sedang diperdebatkan atau dipertarungkan di dalam “rumah” orang lain? Sebagai etika?

Jikapun Anda, wahai pimpinan DPR, begitu sangat menyukai Dhonal Trump mengapa tak memberikan dukungan dengan lebih elegan saja? Cukup dengan tatap muka enam mata atau cukup dalam hati saja. Sehingga tak ada yang tersakiti atau berpeluang untuk berburuk sangka.

Apakah kami yang terlalu sensitif? Atau kami tak mengerti politik? Entahlah, lagi-lagi kami hanya mencintai negeri ini dengan porsi lebih. Enggan kami ada hal yang membuat bangsa ini bisa dinilai salah atau dicurigai, dibenci. Walau itu hanya sedikit saja.

Belum lagi, dengar-dengar uang kami pula yang Anda gunakan untuk bisa menghadiri kampanye itu, wahai pimpinan DPR. Jika ini bukan urusan negara, mengapa kantong kami yang anda kuras? Padahal tak sedikit dari kami yang harus mengumpulkan rupiah demi membayar pajak kendaraan bermotor atau pajak bumi dan bangunan yang akhirnya sampai pada Anda dalam bentuk tiket pesawat dan kunci hotel di negeri adidaya itu.

Sungguh kami tak mengerti sikap Anda, wahai pimpinan DPR. Apalagi melihat senyum sumringah Anda kala jabat tangan dan foto bersama Dhonal Trump itu. Pedih hati kami dibuatnya. Apakah lebih berarti senyum dia ketimbang kami, masyarakat yang engkau wakili? Ataukah kami yang terlalu bodoh hingga tak tahu bahwa Dhonal Trump akan mengangkat Indonesia dari keterpurukan ekonomi? Apalagi rupiah sudah hampir Rp15 ribu? Entahlah, kami tak mengerti. Jelaskanlah pada kami.

Sekali lagi kami bukannya sensitif, wahai pimpinan DPR. Tapi kami menginginkan negeri ini, bangsa ini diperlakukan sejajar oleh negara lain. Kita sebagai negara yang dihargai, disegani. Bukan seolah mereka superior dan kita bukan hanya apa-apa. Perlakuan itu ingin kami lihat salah satunya dari cara mereka memperlakukanmu, wahai pemimpin kami.

Kami merindukan Anda, wahai pimpinan DPR, diperlakukan layaknya Soekarno di masa lalu. Sosok yang dipuja bak tokoh yang disegani, disambut dan dielukan. Bahkan oleh negara yang dinilai paling adidaya, Amerika sekalipun.

Mengapa bisa kala itu, Soekarno disegani sebegitu dahsyatnya bahkan di masa negara kita belumlah lama merdeka? Bukankah setelah 70 tahun kemerdekaan harusnya kita memiliki lebih dari itu? Ini bukan masalah seberapa banyak kekayaan kita dan seberapa kuat ekonomi kita. Tapi Soekarno memperlihatkan bagaimana seharusnya pemimpin negara berlaku dan diperlakukan. Sosok kokoh, elegan dan disegani. Inilah pula yang kami inginkan dari Anda, wahai pimpinan DPR pun juga semua pejabat lain.

Dan begitulah, inilah suara kami, deretan manusia yang sering Anda bicarakan dalam bentuk angka-angka kala rapat badan anggaran menyusun APBN atau Undang-Undang. Dengarlah keinginan kami, penuhilah dan pahamilah bahwa kami bukannya sensitif. Kami hanya mencintai negeri ini dengan porsi yang lebih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya