Pagi ini seperti biasanya aku bangun pagi dan menyapamu via line, tapi aku merasakan ada yang berbeda. Kita biasanya menghabiskan waktu untuk sekedar memberi kabar dan apa yang akan kita lakukan masing-masing hari ini. Langit kotaku mendung hari ini seperti perasaan aneh yang aku rasakan. Semakin aneh ketika kamu mulai bertanya apakah aku akan bekerja di kotamu? Akupun dengan mantap menjawab tentu saja karena aku tau disana ada kamu yang aku pikir bisa melindungiku.

Tiba-tiba kamu bilang bahwa kamu tidak ingin menjadi sebuah pertimbangan berat kenapa aku memilih untuk bekerja di kotamu. Berat kurasakan saat membaca chatmu, apa ada yang salah denganku untuk memilih kotamu? Apa aku melakukan sesuatu padamu sehingga terjadi seolah-olah kamu tidak menginginkanku di dekatmu? Semakin ku desak dan akhirnya kamu mengatakan sejujurnya walaupun sampai saat ini kutulis aku tidak percaya dengan alasanmu. Kamu berkata bahwa kamu sudah punya yang lain.

Rasanya aku seperti dihempaskan diatas batu karang yang kemudian merobek seluruh tubuhku, sakit ini benar-benar sakit karena goresan luka di batu karang ini kemudian terkena air laut. Bahkan kenapa tidak kamu bunuh aku saja saat itu dengan menjatuhkanku ke laut dalam? Duniaku seolah berhenti putar, kenapa terjadi seperti ini? Ku harap ini hanya mimpi tapi ini kenyataan. Bahkan aku meneleponmu sambil menangis, tercekat semua pertanyaan-pertanyaanku di tenggorokan seolah ingin mencekikku agar aku segera mati. Tapi aku ingin mendengar penjelasanmu mengapa jadi begini.

Rasanya baru kemarin kau bilang ini untuk tabungan kita, ini nanti untuk kita kedepan, kamu harus bisa mengatur keuangan karena aku tidak pandai mengatur keuangan. Baru kemarin pula ku dekatkan telapak tanganku dengan telapak tanganmu dan kita bergandeng tangan. Tiba-tiba hari ini kamu bilang sudah ada yang lain, itu seperti mimpi buruk dalam tidurku. Dari awal kita dekatpun aku sudah memperingatkan diriku sendiri untuk tidak banyak berharap padamu. Tapi dengan sikapmu padaku akhirnya aku mengalah, aku lebih mempercayaimu daripada feelingku sendiri. Sekarang aku baru menyesal tidak percaya dengan feelingku dan merasakan sakit yang luar biasa. Dari awal aku sudah siap dengan resiko bahwa kepercayaan kita berbeda, aku sudah siap jika kamu meninggalkanku dengan alasan ini. Aku pasti "legowo" jika kamu meninggalkanku dengan alasan ini, tapi kenapa ini alasannya tidak masuk akal, tidak bermutu dan aaarrrghhh membuatku muak. Aku ini punya hati yang rapuh, aku lelah dengan alasan meninggalkanku seperti itu. Aku bukan stasiun kereta yang hanya disinggahi sementara lalu ditinggal pergi.

Apakah ada di dunia ini manusia yang mau diduakan selain manusia yang sudah tidak normal? Tidak ada sayang, ku jamin tidak ada. Kamu seperti dengan sengaja membuatku memiliki harapan tapi kemudian menghancurkannya berkeping-keping dalam waktu tidak ada 1 menit. Kamu berhasil membuka hatiku kemudian menghancurkannya menjadi kepingan yang aku sendiri harus berusaha menyusun dan membekukan hatiku lagi dengan kedua tanganku tanpa bantuan siapapun. Ragamu memang masih disitu, tidak akan pergi kemana-mana tapi hatimu bukan disitu lagi. Seolah-olah aku melihatmu tapi itu bukan kamu lagi. Aku berusaha menjaga hatimu agar tidak terluka lagi seperti sebelumnya, tapi kamu malah menghancurkan hatiku, apakah itu adil? Harus ku korbankan apalagi untukmu.

Advertisement

Kamu bilang kalau jodoh tidak akan kemana, hey aku bukan orang yang akan pasrah dengan keadaan. I am a fighter bukan kiper yang menjaga gawang pada pertandingan sepak bola.Kamu ingin kita seperti sebelumnya tapi kamu sudah menghancurkan hatiku, tidak yakin aku bisa. Aku bukan orang yang kuat untuk menghadapi kenyataan sepertimu, jika aku bisa lebih baik aku pergi jauh darimu selama sekian tahun agar bisa menghapus kenangan buruk bersamamu. Tapi bahkan untuk tidak bertanya kabarmu pun aku tidak sanggup. Kamu tahu dalam waktu 2 tahun ini kejadian seperti ini sudah kualami 2 kali, kejutan macam apa yang akan kamu berikan agar aku semakin merasa terbunuh pelan-pelan.

Taukah kamu aku muak dengan seperti ini, aku lelah sekali, aku ingin tidur nyenyak tanpa mimpi-mimpi bersama orang yang akhirnya akan menghancurkanku. Kali ini aku sudah tidak percaya denganmu karena sekali bohong pasti akan berbohong lagi dan lagi. Bahkan aku putuskan untuk tidak akan bekerja di kotamu agar kamu bahagia dan tidak merasa terbebani dengan adanya kehadiranku karena kehadiranku tidak lagi diharapkan. Terimakasih atas rasa yang pura-pura kamu berikan padaku dan kutelan mentah-mentah sehingga aku sekarang merasa tercekat. Semoga tidak akan ada lagi wanita yang kamu bohongi sepertiku.