Jangan ditanya kenapa aku mengampil keputusan seperti ini? Karena aku sendiri pun tidak tahu akan jawabannya. Keputusan yang salah tetapi tetap aku ambil juga. Bodoh dan naif itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kepribadianku. Inilah semua konsekuensi yang harus aku jalani akan keputusanku. Apakah aku harus menangis? Meratapi semua kesedihan yang ada ? Entahlah, sampai sekarang pun aku bingung harus berbuat apa. Toh, ini semua tetap harus dijalani.

Aku menjalani hubungan asmara dengan kekasihku kurang lebih tiga tahun, selama itu hubungan kami sering kali dibumbui akan namanya pertengkaran. Pertengkaran? Bukankah itu hal yang wajar? Karena sangat sulit menyamakan persepsi akan dua insan yang berbeda. Tetapi ini berbeda, pertengkaran kami selalu dipicu karena timbulnya kebohongan dari dirinya. Dia selalu berbohong kepadaku. Aku juga tidak yakin, cinta yang diberikan kepadaku selama ini apakah suatu kebohongan ataukah sutau cinta yang tulus? Selain itu dia juga sangat kasar kepadaku, tidak jarang dia main tangan. Bahkan berulang kali dia selingkuh di saat menjelang hari pernikahan kami.

Advertisement

Kebanyakan orang pasti beranggapan aku gadis yang bodoh . Sudah tau seperti itu kenapa juga harus mempertahankan hubungan ini. Aku juga sering kali ingin lepas dari belenggu cinta yang bodoh ini . Cinta yang penuh dengan kepalsuan. Tetapi sangat sulit rasanya. Inilah yang dikatakan kebanyakan orang cinta buta. Ya aku telah dibutakan oleh yang namanya cinta.

Hubunganku dengan dirinya memang sudah mendapat restu dari keluarga masing. Walaupun, keluarganya sering kali ikut campur masalah kami. Setiap kali kami bertengkar pasti keluarganya ikut campur dan selalu menyalahkanku. Alasannya aku sebagai wanita harusnya lebih mengalah dan aku yang tahu sifat dia harus lebih mengerti. Aku sangat gerah akan semuanya. Dia dan keluarganya sama-sama tidak berpihak kepadaku. Ini masih pacaran tapi mereka sudah berbuat seperti ini kepadaku? Apalagi sampai jenjang pernikahan?

Teman-temanku yang mengetahui kondisiku seringkali menasehatiku, mereka sangat sayang, mereka tidak ingin aku jatuh lebih dalam dan terpeleset dalam jurang kesedihan. Mereka berungkali menasehati agar aku berpisah dengan dirinya karena mereka menganggap dia tidak akan pernah berubah. Akan terus berbohong, kasar, tukang selingkuh, matrealistik dan selalu menurut akan perkataan orang tuanya.

Advertisement

Dasar aku yang bodoh ini dan sudah dibutakan oleh cinta yang salah tidak mau mendengar alasan teman-temanku, dengan alasan dia pasti berubah. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk menikah dengannya. Baru sebulan pernikahan kami tetapi disinilah aku temukan karakter dia yang sesungguhnya. Padahal kebanyakan orang umur pernikahan yang baru sebulan itu pasti lagi hangat dan romantis. Tetapi aku malah merasakan kehambaran dari hubungan pernikahan ini.

Dia sama sekali tidak perhatian kepadaku, waktunya lebih banyak dengan keluarganya. Maklumlah, setelah menikah dia berhenti kerja. Aku yang harus mencukupi kebutuhan keluarga kecil kami. Aku yang harus pontang-panting memikirkan semuanya sendiri. Dia sama sekali tidak peduli jika kebutuhan habis, dia hanya diam dan memilih ketempat keluarganya. Sering kali kami berdebat, tetapi selalu diakhiri dengan kekerasannya dan pergi meninggalkan ku.

Tuhan, inilah keputusanku yang salah. Maafkan aku, padahal sudah banyak tanda yang menyatakan dia pria yang salah, yang tidak pantas untuk aku cintai. Tetapi aku dengan angkuhnya yang selalu berdalih akan nama cinta bahwa dia akan berubah. Sekarang, lihat! Apakah kebahagian yang aku rasakan? Apakah dia berubah? Biarkan waktu yang menjawabnya karena aku sudah sangat letih. Yang menguatkan aku hanya karena ada malaikat kecil yang sedang bersemayam dirahimku. Dialah yang menguatkan aku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya