Siapa pun pasti ingin bahagia. Karena bahagia adalah “tujuan” dari semua orang.

Tapi, kemungkinan untuk berbahagia lambat laun menjadi sulit untuk diraih. Sebab yang meminta bahagia tidak terlalu sungguh menginginkannya.

Hai… lantas hanya karena satu jalan tertutup. Kamu berhenti lalu merutuki diri karena tidak mampu? Bukankah masih ada kaki dan tangan yang dapat membantumu mendaki?

Wahai kamu yang hatinya sedang dan masih berharap pada waktu untuk menghapus semuanya. Ah percayalah, itu adalah pekerjaan sia-sia sebab sampai kapanpun yang bisa menghapus kenangan adalah kamu sendiri jangan menjadikan waktu sebagai pengalihan.

Lagipula daripada memaksa hati untuk melupa, lebih baik membiarkannya menikmati sakitnya sampai batas yang kamu berikan. Setelahnya, bangkit lalu berlarilah. Bukan malah kamu merutuki diri lantas menutup semua celah pada hati. Ah kasihan sekali hatimu pasti ia susah bernafas bebas kembali.

Advertisement

Saya tidak sedang menertawakan kamu. Saya mengajak kamu menertawakan kesedihan. Kenapa kamu mau menangisinya lama-lama, toh lebih baik tertawa dan mulai membahagiakan diri kembali.

Bahagia juga tidak sederhana yang sering mereka defenisikan. Oh ayolah, bahagia itu anugerah paling agung. Semua berhak bahagia. Mereka bahagia. Kamu kapan?

Ya, setelah mengalami kondisi hati yang terluka kembali sangat sulit bagimu untuk memulai. Ah tapi, semua belum usai kenapa kamu malah memilih untuk tetap bercerai berai?

Hatimu, anugerah paling indah. Mari berbahagia.

Jika kamu melihat ada sebagian orang yang semestinya bahagia karena telah dianugerahi kemampuan untuk memiliki semua keinginan tapi mereka tidak bahagia, mungkin karena ia asyik dengan “cara menuju kebahagiaan” dan bukan kebahagiaan itu sendiri.

Sekarang, katakan pada hati bahwa sedang adanya tak lagi merupa apapun. Lantas kenapa kamu musti nestapa selalu.

Mengharap pada yang salah yang datang dengan izinmu. Relakan segala yang pernah singgah, mulailah melangkah.

Walau dalam setiap putaran waktu telah benar benar mengajarkanmu banyak hal. Perihal kekecewaan dan keikhlasan. Perihal merelakan dan menatap masa depan.

Sekarang ucapkan kembali dalam hati. Sebab adamu tak lagi merupa apapun. Aku harus mulai, bahagia tanpa paksaan siapapun. Bukan karenamu tapi karena aku menginginkan.

Pada suatu ketika misalkan banyak suara-suara membawamu kembali pada kenangan dan ingatan ingatan itu. perihal debar, harapan serta impian. Biarkan mengalir. Jangan memaksanya hilang. Sebab kenang takkan hilang kecuali kamu terkena penyakit hilang ingatan. Hihihi selamat, kamu.

Dan wahai kamu. Dua kutub tersebut letakkan saja sebagai takdir semesta. Biarkan semesta yang membuka tabir rahasia-Nya. Nanti.