Kedatanganmu bagai takdir dari Tuhan, tepat saat hariku tak berwarna, rumahku tak bertamu, dan hatiku tak bertuan.


Takan ku lupakan saat pertama kali kita bertemu sekitar empat tahun lalu, di pesta ulang tahun Gita, sahabatku. Kita berada di tempat yang sama, namun tak saling kenal hanya sesekali saling sapa. Keelokkanmu membuat tatapku selalu tertuju padamu, rasanya ingin sekali berkenalan namun aku hanya bisa menahan.

Advertisement

Seakan Tuhan mendengar pintaku, tiba-tiba kamu menghubungiku keesokan harinya. Sungguh, hatiku berdebar tak karuan melihat SMS darimu, rasanya ingin teriak sambil menari-nari saking senangnya. Dari situlah kita sakil mengenal, hingga kamu menghipnotisku sampai nyaman itu melekat kemudian saling memberi kabar. Selalu bertemu dan menjadi semakin dekat, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan semua berlangsung baik-baik saja. Sampailah di bulan penuh harap, saat kamu memintaku untuk menemanimu dalam suatu ikatan lebih jauh dari sedekedar "teman" dan tanpa ragu aku meng-iyakan pintamu itu.

Waktu selalu berganti tanpa bosan, banyak sekali cerita yang tersimpan rapih. Tidak banyak yang berubah selain semakin bahagia. Sembari berjalan waktu kesetianmu ku uji. Tanpa kamu sadari, kamu selalu lulus dengan mulus. Begitu pula denganku, yang selalu menjaga hati hanya untukmu. Awalnya kamu cukup diam, lama kelamaan menjadi dirimu sendiri. Sampai akhirnya banyak sekali kejutan yang aku dapat darimu.

Ternyata kamu sangat menyenangkan, punya banyak cara untuk membuat orang lain bahagia. Dan hebatnya lagi kamu bisa menyulap suasana yang sepi jadi seramai di pasar malam. Selama punya kamu aku nggak pernah merasa sendiri, meskipun cuma kamu, tapi kamu sangat sempurna bagiku. Sampai-sampai aku sangat bergantung sama kamu. Entah terlalu sayang atau terlalu nyaman, aku pun tak tahu.

Advertisement

Semakin hari kamu semakin membahagiakanku, membuat jatuh cintaku semakin dalam.

Tapi sayang seribu sayang, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Tepat setahun hubungan kita, aku tak sengaja menghancurkan semuanya. Di malam itu, malam paling jahat yang aku benci sampai detik ini. Aku terpaksa bertemu dengan mantan kekasih yang sudah ku anggap sebagai kakak bahkan sahabatku sendiri. Sebut saja laki-laki itu DURI karena ia bagaikan duri yang menusuk dan merobek hubungan kita hingga hancur (waktu itu).

Kalau ingatanmu masih kuat, coba diingat pada hari itu. Hari di mana aku berada dalam masalah, aku menghilangkan uang orangtuaku yang menjadi alasanku takut untuk pulang. Akhirnya aku berlindung di rumah temanku sampai mendapatkan uang tersebut. Jelas sekali aku sedang membutuhkan bantuanmu, aku menghubungimu tapi kamu tidak ingin diganggu. Aku pun mencoba mengerti dan meminta bantuan kesana-kemari tapi tidak juga dapat, sampai akhirnya aku meminta bantuan duri, mantanku itu. Dengan sigap ia langsung menghampiri keberadaanku dan rencananya ingin mengantarkan aku pulang ke rumah.

Ketika aku dan duri hendak sampai di dekat rumahku, kamu pun lewat jalan yang sama dengan sepupumu. Ya, kita berpapasan di dekat rumahku sendiri. Dan aku pun langsung menunduk berharap kamu tidak melihatku. Belum sampai rumah aku langsung meminta duri menurunkan aku dan menyuruhnya langsung pergi, supaya kamu tidak tahu maksudku. Jantungku serasa ingin copot, kakiku sangat dingin dan mukaku sudah pucat, saking takutnya. Aku pun berlari sangat kencang berharap cepat sampai rumah tapi jalan seakan jauh sekali hingga langkahku tak kunjung sampai. Oh Tuhan musibah macam apa ini, aku terus mengeluh sambil menangis berlarian.

Dan kekawatiranku menjadi nyata. Ketika aku sampai di rumah, kamu menelfonku. Ternyata kamu melihatku. Saat itu juga kamu memutuskan hubungan kita tanpa mendengarkan penjelasanku dulu. Mimpi paling buruk yang pernah aku rasakan adalah kehilanganmu, dan itu terjadi pada malam itu.

Air mataku jatuh sangat deras, duniaku terasa terhenti, hatiku hancur sehancur-hancurnya. Oh Tuhan seperti ini rasanya kehilangan orang yang sangat berarti. Begitu parah hingga tak bisa aku jabarkan bagaimana rasanya. Dari malam yang kelam itu aku tidak bisa melupakanmu hingga 2 tahun lamanya. Banyak laki-laki yang datang silih berganti, tapi hanya berlalu-lalang tak ada yang menetap sampai ke hati. Sulit sekali mencari pengganti yang seperti dirimu. Semua hanya hiasan, agar lukaku tak terlalu dalam.


Apa kamu ingat semua kenanangan yang pernah kita lalui bersama?


Saat terik matahari, kita berlindung di atap rumahmu supaya kulit kita tak gelap karena terbakar matahari. Kala hujan, kita berlindung di pinggir jalan berharap tak kena air dan basah kuyup. Atau pun saat mendung, kita menganggap langit sedang berkabung tapi kita merasa senang di bawahnya. Semua kebersamaan denganmu adalah kenangan. Keluargamu seperti keluargaku, kita terlalu dekat, hingga sulit melupakan. Di tengah kalian aku merasa istimewa, beruntung dan bahagia. Entahlah, apapun yang aku katakan seakan percuma. Karena rasa dan percayamu sudah lama hilang.

Kini kita memang dekat, tapi hanya sebagai teman.


Salamku pada Ibumu, terima kasih karena melahirkan sosok anak yang begitu menyenangkan. Terima kasih karena sempat menganggapku sebagai anakmu tanpa pilih kasih. Terima kasih karena telah menyayangiku dengan tulus selama ini. "


Aku tahu, bukan kamu tak mau kembali. Tapi hatimu yang tak mampu untuk mengulang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya