Mungkin kita sering dengar julukan “kutu buku” disematkan kepada seseorang yang gemar membaca buku. Apalagi beberapa media menggambarkan si “kutu buku” identik dengan buku-buku teks yang tebal, tingkah laku yang introvert, kaca mata yang tebal pula. Hingga pengaruh tersebut menimbulkan persepsi negatif di masyarakat bahwa menjadi seseorang yang “kutu buku” itu perlu dihindari supaya tidak dikucilkan di lingkungannya.

Di sisi lain sekarang banyak mahasiswa yang terlalu banyak mengikuti kegiatan hingga tidak punya waktu untuk membaca, dengan alasan sibuk terburu-buru mengejar deadline atau bahkan tidak berminat untuk membaca sama sekali. Padahal, dengan kecanggihan teknologi saat ini seharusnya dimanfaatkan secara maksimal oleh mahasiswa untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya.

Buku sekarang tidak harus dalam bentuk buku yang “nyata” dan tebal. Tersedia banyak ebook gratis yang bisa di save di smartphone. Bahkan hampir semua kalangan memiliki smartphone. Di mana pun dan kapan pun berada tetap bisa mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat dan tentunya menambah wawasan kita.

Dikisahkan ada seorang anak miskin di negeri tirai bambu yang bernama Sun kang. Semenjak usia dini sudah tampak kepintarannya. Ia sangat suka terhadap buku, tetapi karena sangat miskin bahkan minyak untuk lampu pun tidak sanggup dibeli. Karena dorongan kebutuhan yang mendesak, maka orangtuanya mewajibkan semua anaknya untuk bekerja, termasuk Sun Kang yang masih kecil.

Setiap hari ia bekerja sampai menjelang malam sehingga pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan juga tidak ada lagi waktu untuk membaca buku karena di rumah tidak ada penerangan. Walaupun seharian lelah bekerja, pada malam hari ia selalu pergi ke luar rumah untuk mencari sinar rembulan pada malam hari untuk membaca buku. Namun, karena sinar yang serba terbatas membuat kedua matanya sering letih dan tak sanggup membaca dengan waktu yang panjang.

Advertisement

Pada suatu musim dingin, turun salju yang sangat lebat. Pada waktu malam hari hujan salju berhenti, dan malam itu terang rembulan sangat baik. Sun Kang berpikir ini waktu yang baik untuk membaca buku. Karena itu, ia pergi ke luar dengan membawa satu buku dibaca di bawah sinar rembulan dan juga terang dari lampu tetangga. Setelah membaca, ia pun merasa lelah dan ingin pulang.

Dalam perjalanan pulang ia tersandung dan bukunya jatuh di atas salju. Karena ingin menyelamatkan bukunya, ia segera bangkit untuk mengambil buku itu walau kakinya terluka. Pada waktu ia hendak memungut bukunya, ia bisa melihat dengan jelas tulisan yang ada dalam buku. Ternyata salju yang padat bisa memantulkan sinar sehingga bisa membuat cahaya lebih terang dari sinar rembulan.

Sejak peristiwa itu tiap malam ia pergi ke luar untuk membaca buku dengan memanfaatkan sinar rembulan dan pantulan cahaya dari salju. Ia terus berusaha melawan dingin agar bisa membaca buku. Padahal, jika orang kedinginan mudah menderita borok di kulit. Jika orang sudah menderita borok tersebut, borok itu tidak bisa sembuh sampai musim dingin usai. Borok itu membuat daging dan kulit terbuka sehingga perih sekali.

Walau harus menderita borok yang sangat perih, Sun Kang tetap pergi pada malam yang dingin hanya untuk bisa membaca buku. Hal itu sama sekali tidak membuatnya berhenti membaca buku. Menurut Sun Kang, hanya dengan sinar rembulan dan pantulan sinar dari salju ia bisa membaca banyak buku. Oleh karena itu, tidak peduli berapa sakit yang harus ia tahan dari borok musim dingin itu, ia tetap akan membaca buku.

Pada akhirnya Sun Kang tumbuh menjadi ahli pikir yang brilian dan menjadi penasihat yang baik untuk membangun kerajaan. Kisah ini berkembang dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Kisah Sun Kang sungguh mengharukan dan sering menjadi cerita yang mampu memotivasi anak-anak di China untuk rindu membaca dan belajar. (sumber ://ciptospd.wordpress.com/2010/03/04/kisah-sun-kang/)

Jika Sun Kang saja dalam kesakitannya dan kelelahannya masih rela membaca lalu mengapa kita tidak menyempatkan membaca buku bahkan pada saat santai?

Hasil survey dari UNESCO pada tahun 2015 menunjukkan bahwa setiap 1000 penduduk Indonesia hanya 1 orang saja yang membaca buku. Miris, bukan? Dibandingkan dengan Negara – Negara lain seperti Jepang yang 10 sampai 15 judul buku tiap tahunnya, sedangkan Amerika Serikat bisa mencapai 20 sampai 30 judul buku.

Kita tentu sudah sangat memahami peran kita sebagai mahasiswa harus menjadi agen perubahan, pemimpin masa depan, kaum intelektual dan sebagainya. Namun sampai sekarang masih ada yang tidak suka membaca buku?

Come on. Let's be a wormbook !