Saya adalah orang yang pemilih dalam hal makanan. Pedas, terong, terlalu banyak micin, dan lain-lain adalah hal-hal yang hampir selalu saya hindari. Sehingga bila menemukan penjual makanan yang cocok di lidah akan sering memesan makanan di penjual itu. Seperti saat saya berada di Manado, butuh waktu hampir dua bulan untuk menemukan penjual nasi yang cocok dengan lidah saya. Kebetulan abangnya berasal dari Jawa Tengah, sehingga kami sering bercakap-cakap memakai bahasa Jawa.

Suatu pagi, saat saya memesan makanan, saya terheran-heran saat melihat menu yang tersaji. Kok tahu bacemnya besar banget ya, lebih besar dari biasanya. Iseng saya tanya ke abang yang jualan,

Advertisement


“Bang, tahu bacemnya kok gede banget?” tanya saya.



“Iya mas, mulai hari ini tahu bacemnya segede itu. Saya lelah hampir tiap hari diprotes orang yang beli di sini. Kok tahu bacemnya kecil banget, beda sama tahu goreng. Terus kok harga tahu bacem sama tahu goreng sama, mau cari untung yang gede ya?"



"Padahal kan mas, cara mengolah dengan cara di bacem beda dengan tahu goreng. Tahu goreng gampang, tinggal cemplungin (masukin) adonan tepung, goreng, jadi deh. Lha kalau di bacem, masih harus meracik bumbu, masaknya lama karena semakin lama dimasak semakin enak, masak kan butuh kompor, gasnya kan juga boros. Tapi biarlah, yang penting saat ini saya untung sedikit dan pelanggan nggak mengeluh,” jawab abangnya tanpa ada jeda menarik nafas.


Advertisement

Saya terhenyak, kata-kata abang penjual nasi sama seperti batin saya, saya ingin beli makanan selengkap mungkin tetapi dengan membayar sedikit mungkin. Mata akan berbinar bila si abang berbaik hati memberi bonus remahan tempe. Atau kadang kita berharap si abang salah dalam memberi kembalian uang kita. Ahhhh, sifat manusia.

Kemudian saya melihat menu-menu yang lain. Saya baru menyadari bahwa ukuran lauknya yang lain juga besar-besar bila dibandingkan dengan warung makan lainnya yang sejenis. Dalam menciduk nasinya pun nggak karuan, bahkan saya dan teman bila memesan nasi meminta hanya setengah saja, kalau boleh seperempat kami akan minta seperempat. Dalam pelabelan harga pun lebih murah dari yang lain. Saya sempat berfikir, ini abang bekerja cari uang atau pingin olahraga?

Kita sering mengeluh akan hidup ini. Kurang ini, kurang itu, senang lihat orang susah, susah lihat orang senang, kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit atau apa pun jargon yang kita kemukakan. Abang penjual nasi tadi memberi kita pelajaran, dengarkan orang bicara, tanggapi semampunya, adaptasi dengan perubahan, aplikasikan tanpa mengeluh apa kesusahan yang sedang kita lalui sembari berdoa dan Tuhan akan memberi jalan rezeki dengan jalan yang tidak terduga.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya