Penduduk Indonesia dipersatukan di abad ke-14 dengan adanya semboyan di kaki Garuda yakni “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu juga, tapi apakah semboyan itu masih cukup kuat untuk menyatukan Indonesia di tahun 2018 ini?


Seperti yang bisa dilihat dari namanya, rasisme, atau perbedaan ras dapat diartikan sebagai suatu tindakan manusia yang membeda-bedakan suatu suku atau turunan, kepercayaan, ideologi, dan lain sebagainya. Rasisme lebih sering terlihat sebagai tindakan membedakan orang karena perbedaan etnis dan warna kulit. Rasisme merupakan salah satu masalah dunia yang banyak dilakukan orang-orang dari setiap negara ataupun daerah.


Advertisement

Rasisme merupakan tindakan yang dapat menyebabkan banyak pengaruh negatif terhadap suatu masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasisme mempengaruhi kesehatan mental orang dewasa kulit hitam di Amerika Serikat, sama seperti trauma. Akan tetapi mari kita perkecil pembahasan kita dan fokus terhadap kasus rasisme seputar Indonesia, khususnya Jakarta.

Pada tanggal 18 Januari 2018, saya mewawancara beberapa murid Sekolah Menengah Atas di Sekolah HighScope Indonesia seputar kasus rasisme. Hal ini dilakukan karena rasa penasaran saya terhadap sudut pandang dari siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) terhadap rasisme, apakah mereka melihat rasisme sebagai hal yang buruk, atau justru sebaliknya.

Murid pertama yang saya wawancara adalah Eddy Supono (nama disamarkan), yang merupakan murid berumur 17 tahun dari keturunan Malang, yang memiliki warna kulit gelap. Dalam wawancara ini, Eddy mengatakan bahwa rasisme adalah tindakan atau perbuatan yang membeda-bedakan ras/suku/agama, dan beliau sendiri cukup sering terlibat dengan kasus rasisme ini.

Advertisement


“Jelaskan rasisme dalam 3 kata.”

“Penistaan, Ternodai, dan Perbedaan”.

“Menurut Anda, apakah perbedaan ras membawa dampak positif apa pun? Mengapa begitu?”

“Walaupun rasisme membawa dampak yang buruk dan negatif di dalam masyarakat, semua hal pasti ada dampak positifnya, mau itu sekecil apa pun. Dalam hal ini, korban rasisme mempunyai kesempatan untuk berjuang dan membawa nama ras dan sukunya ke ‘level’ yang lebih layak.”

“Apa yang akan Anda lakukan jika Anda melihat seseorang bertindak rasis?”

“Biasanya saya akan teriak dan meminta dia untuk berhenti dan meminta maaf atas perlakuannya”

“Apakah Anda merasa rasisme bisa dihentikan? Bagaimana caranya?”

“Rasisme tidak bisa dihentikan, tapi bisa dikurangi dengan memperketat undang-undang pemerintahan tentang perbedaan ras.”


Melihat dari hasil yang didapatkan, saya merasa butuh untuk mewawancara satu orang lagi agar riset saya dapat menjadi lebih terpercaya dan akurat. Saya memutuskan untuk mewawancara Bunga (nama disamarkan) selaku mantan ketua OSIS, dia dapat melihat murid-murid di sekolah ini dalam skala yang lebih besar.

Bunga merupakan anak tertua dari dua bersaudara dan memiliki darah kental Cina. Pertanyaan yang diajukan untuk Bunga merupakan pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan yang diajukan kepada Eddy.


“Tanpa disadari, kita sebagai warga Indonesia juga secara tidak disengaja melakukan tindakan/perbuatan rasisme. Apakah Anda familiar dengan perbedaan ras atau rasisme?”

“Familiar. Sebagai anggota dari ras minoritas, saya telah beberapa kali menyimak atau melihat terjadinya rasisme, khususnya kepada anggota ras dan agama saya” jawab bunga.

“Jelaskan rasisme dalam 3 kata.”

“Penistaan, Hipokrit, Negatif”

“Menurut Anda, apakah perbedaan ras membawa dampak positif apa pun? Mengapa begitu?”

“Tidak ada, karena rasisme merupakan sebuah fenomena negatif yang 'mendewakan' beberapa anggota masyarakat dan menurunkan derajat anggota lainnya. Di samping itu, rasisme juga tidak sejalan dengan paham yang dikenal secara universal, bahwa semua manusia mempunyai derajat yang sama.”

“Apa yang akan Anda lakukan jika Anda melihat seseorang bertindak rasis?”

“Tentunya mengingatkan dirinya untuk berhenti melakukan hal tersebut. Selain itu, saya merasa bahwa saya juga mempunyai kewajiban sebagai anggota masyarakat untuk tidak tinggal diam dan melawan hal tersebut.”

“Apakah Anda merasa rasisme bisa dihentikan? Bagaimana caranya?”

“Tidak bisa. Karena beberapa manusia pada dasarnya ingin selalu merasa lebih superior dan hebat dari yang lain.”


Dapat dilihat dengan jelas di kedua persepektif yang cukup berbeda, bahwa murid biasa maupun mantan ketua OSIS mengaku bahwa mereka pernah terlibat dalam kasus rasisme. Mereka mengaku bahwa rasisme merupakan hal yang sangat negatif yang dapat merusak hubungan antar manusia. Dari sini dapat ditarik garis merah bahwa rasisme tidak memandang siapa orang tersebut, semua orang bisa terjerat rasisme.

Eddy dan Bunga memiliki pandangan yang sama jika mereka melihat aksi dari rasisme. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak akan tinggal diam, melainkan akan melakukan sesuatu untuk menghentikan perbuatan rasisme tersebut. Keduanya juga memiliki opini yang sama dimana rasisme tidak bisa dihentikan karena rasisme merupakan sebuah budaya keserakahan manusia yang terus ada, karena itu rasisme hanya bisa dikurangi.

Berbeda dengan Eddy, Bunga merasa bahwa rasisme tidak memberikan dampak positif apa pun ke lingkungan masyarakat. Eddy memiliki pandangan untuk selalu melihat sisi positif dari segala perbuatan negatif apa pun. Eddy percaya bahwa semua orang memiliki kesempatan dalam hidupnya untuk berjuang dan membawa kehidupannya lebih baik.

Seperti pernyataan yang saya selipkan di awal artikel ini, Bhineka Tunggal Ika merupakan semobyan yang menyatukan masyarakat Indonesia dari berbagai suku untuk tidak memandang perbedaan ras dan menjalin hubungan damai antar satu sama lain.

Jika dilihat dari wawancara yang dilakukan pada abad ke 21 ini, murid-murid di sekolah saja sudah mengenal dan bahkan mengalami tindak rasisme. Ini merupakan perhatian saya terhadap masa depan Indonesia. Anak-anak penerus bangsa sudah dirusak dengan adanya pengaruh rasisme dari lingkungan sekitarnya.


Rasisme tidak selalu terjadi secara frontal, akan tetapi rasisme juga sering dilakukan tanpa kita menyadarinya. Contoh sederhananya adalah dengan menyebut kata bule. Bule adalah kata slang yang umum digunakan di Indonesia untuk menyebut orang asing atau keturunan kulit putih yang ada di Indonesia.


Sebagian masyarakat kita mungkin sudah terbiasa menggunakan istilah bule tanpa maksud menyakiti. Meskipun begitu, menurut KBBI kata bule itu berarti albino. Itulah mengapa ada beberapa orang asing yang tersinggung karena kata ini.

Dari pembahasan diatas, rasisme dapat dikatakan sebagai perbuatan yang merusak hubungan antar manusia dengan cara memecah belah dan membeda-bedakan ras, etnis, atau suku. Tidak hanya menyakiti, rasisme juga dapat menimbulkan adanya kebencian dari suatu pihak terhadap pihak lainnya, dan menimbulkan hubungan yang tidak sehat.

Sebagai warga Indonesia, kita harus berani bertindak dan melawan tindakan rasisme. Kita harus berani untuk mempersatukan dan membawa damai di horizon Indonesia. Kita harus percaya dan menghidupkan kembali semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya