Ditengah gerusan hujan, saya terus melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah tersayang, tanpa sedikit pun takut basah karena air yang mengenai pakaian yang saya kenakan. Sebab, seringkali saya mendengar syair-syair tentang arti dari hujan, indahnya hujan, dan tak jarang orang berkata bahwa hujan telah menyelamatkan hidupnya.

Banyak bualan-bualan tentang hujan salah satunya adalah bualan yang menjadikan hujan sebagai tameng untuk menyembunyikan kesedihan. Di tulisan ini, saya tak ingin menjelaskan panjang-lebar mengenai hujan, karena yang ingin saya tuliskan adalah kisah dibalik perjalanan pulang tersebut. Ada kisah yang sampai saat ini masih membuat dahi bekenyut, memikirkan persoalan yang tak kunjung usai.

Advertisement

Ditengah-tengah perjalanan tersebut, saya melihat bujang dengan tinggi hampir sejajar dengan saya, sambil membawa payung berjalan satu arah menuju rumah orang tua. Ketika saya berada tepat dibelakangnya, ia langsung menoleh ke belakang dan melihat saya berjalan kehujanan. "Sini berpayung bareng, dak usah malu-malu. Gek sakit" katanya dengan perasaan kasihan, menawarkan pertolongan dengan alasan agar saya tak terkena hujan dan tak sakit. "Okelah" batinku. "Cakmano, lanjut kemano?" tanya ku berusaha mencairkan suasana yang semula hening, dengan bertanya apa yang ia lakukan setelah kelulusan SMA tak lama ini.

"Cak inilah, masih nak luntang-lantung dulu. Nikmati dulu masa luntang-lantung, gek ado saatnyo aku melepas masa luntang-lantung ini" jawabnya sambil agak sedikit cengengesan. "Oh,apo lagi eeh?" batinku lagi mencari-cari pertanyaan lain agar suasana tak kembali hening. "Ohyo, kapan nikah?" tanyaku spontan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya, sebab yang kupikirkan saat itu hanyalah bagaimana suasana tak kembali hening. "Hahaha, belum dulu lah, nak kasih makan apo anak bini ku agek" jawabnya agak terkejut sambil sedikit tertawa mendengarku bertanya hal yang agak aneh untuk diucapkan oleh remaja yang baru saja lulus SMA.

"Galak aku nikah tuh, tapi warisan wong tuonyo untuk aku" lanjutnya. Maka dari sana saya berpikir, banyak sekali masalah pernikahan. Salah satunya ekonomi, hingga saya bertanya-tanya pada diri sendiri, Apakah pernikahan itu harus selalu disandingkan dengan harta? Bukankah pernikahan itu dapat melipat-gandakan rezeki kita? Bukankah pernikahan itu karena-Nya, Sang Pencipta? Disisi lain saya melontarkan pertanyaan yang berlawanan dengan pertanyaan sebelumnya, kenapa banyak pernikahan yang berakhir karena harta?

Advertisement

Apakah faktor utama yang menjadi landasan dalam pernikahan itu harus harta? Apalagi seringkali saya mendengar kasus ditolaknya lamaran pernikahan karena mahar yang tak sesuai dengan yang diinginkan si calon mertua? Apakah hal ini menjadi penyebab maraknya hubungan intim di luar nikah? Sepertinya iya. Banyak hal yang tak saya mengerti tentang pernikahan, pernah saya melakukan percakapan dengan seorang wanita yang dengan percakapan itu membuat saya terus bertanya-tanya arti dari pernikahan sesungguhnya.

"Kita akan berjuang bersama-sama," kata si wanita, yang tak ingin saya sebutkan namanya itu. Lalu saya menjawab dengan merendah "Aku hidup didalam keluarga yang jauh dari kata cukup, kendaraan pun aku tak punya. Apalagi aku harus memulai itu dari nol" ujarku kepada si wanita. "Dengar dan ingat ini, kalu kamu berjuang dari 0, maka aku adalah angka satu yang dapat kamu sandingkan dengan angka 0 itu.

Maka jadilah angka sepuluh sehingga kamu tak perlu risau akan hal itu" jawabnya. "Masuk akal, pernikahan bisa membantu kita dalam berjuang" batinku, sambil membisu sejenak mengernyutkan dahi. Maka dari sini saya berkesimpulan bahwa pernikahan itu tak selalu identik dengan harta, karena dari percakapan itu saya seperti tersadar bahwa ekonomi tak selalu menjadi beban bila dua insan saling mengerti.

Buktinya tak jarang keluarga bisa menjadi keluarga yang berkecukupan setelah mereka menikah. Walaupun tak bisa dipungkiri bahwa banyak juga keluarga yang berakhir karena persoalan harta. Dilansir dari halaman tirto.id, sejak Januari-Juli 2017, sebanyak 6.000 gugatan cerai tercatat di pengadilan agama Cianjur, Jawa Barat.

Dengan alasan gugatan yaitu masalah ekonomi. Menurut saya, keluarga itu akan bisa melewati masalah tersebut kalau dibalut dengan komitmen yang kuat dan matang. Sebab, ijab kabul bukan hanya sebagai simbolis belaka, tetapi ijab kabul adalah suatu momen sakral yang harus dianggap serius. Ijab kabul adalah suatu momen penyerahan tanggung jawab anak dari orang tua wanita kepada pria yang menikah dengan anak dari orang tua wanita tersebut.

Dan tanggung jawab itu meliputi seluruh aspek dari finansial, sandang, pangan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya sampai persoalan kebahagiaan dari anak itu pun menjadi tanggung jawab dari pria tersebut. Bukan hanya tanggung jawab perorangan, tetapi tanggung jawab bersama.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya