Idul Adha selalu ditandai dengan menyembelih hewan qurban.

Ada nilai historis tentang cinta dan perjuangan seorang ayah kepada anaknya dalam Idul Adha. Saat Nabi Ibrahim AS mendapat wahyu untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail. Ibrahim dihadapkan pada pilihan untuk melaksanakan perintah Allah SWT atau mempertahankan anak yang dicintainya. Pilihan yang sangat dilematis. Namun, atas dasar taqwa dan cinta Allah SWT yang melebihi segalanya, Ibrahim siap tunaikan perintah menyembelih putranya sendiri. Hingga akhirnya, Ismail digantikan dengan seekor domba.

Advertisement

Hikmahnya, untuk meraih ridho Allah SWT dibutuhkan pengorbanan. Berkorban harus jadi sikap dasar manusia, yang diwujudkan dengan memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan. Menyembelih hewan Qurban lalu bagikan dagingnya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Qurban juga jangan dari hasil perbuatan “korupsi” sekecil apapun.

Sungguh, qurban tak sebatas menyembelih hewan.

Ada pelajaran penting di dalamnya. Dengan ber-qurban, kita tidak hanya sekedar melaksanakan perintah Allah SWT tetapi juga diberi kesempatan untuk memanifestasikan rasa solidaritas sosial sebagai simbol ketaqwaan. Qurban harus dapat meningkatkan kualitas ketaqwaan manusia, mampu menghadapi segala cobaan dan rintangan dalam hidup. Melalui qurban, kita belajar untuk istiqomah dalam menebarkan kepedulian sosial. Wajib bagi orang yang “kuat” membantu orang yang “lemah”.

Advertisement

 

Di dekat kita, masih banyak orang yang belum tentu dapat menikmati lezatnya daging. Anak-anak yatim, fakir miskin, kaum dhuafa lain. Sementara kita, kapanpun ingin makan daging dapat membelinya. Jika perlu masuk restoran dengan bayaran ratusan ribu rupiah. Jadi, qurban itu dapat menjadi janji “kesetiaan” kita dalam mengorbankan dan menyembelih sifat egois kita, sikap tidak mementingkan diri sendiri, tidak rakus, dan serakah atas dasar cinta kepada Allah SWT. Hari ini, kita harus hidupkan solidaritas dan kepedulian sosial yang lebih nyata, bukan hanya retorika yang terlalu sering didiskusikan.

Berikan qurban kita kepada fakir miskin, baik yang meminta maupun yang tidak meminta. Qurban jangan dinikmati kita sendiri atau komunitas sosial yang punya euforia “nyate” bareng-bareng walau tidak ada yang melarang. Kapan lagi kita ikut “menggembirakan” mereka yang memang perlu ….?

Qurban tidak hanya simbol kesolehan ritual, tetapi juga realisasi kesolehan sosial. Qurban adalah “sedekah” dari yang “mampu” kepada yang “tidak mampu”. Qurban bukan “hadiah” dari yang mampu kepada yang mampu. Niat kita masih perlu diluruskan dalam konteks ini, hati-hati.

Qurban tak sebatas menyembelih hewan.

Karena dengan ber-qurban, kita juga BELAJAR akan 9 makna yang patut kita renungkan dalam hidup yang tersisa. Belajar untuk menjadi insan yang lebih baik di sisa umur kita:

1. Belajar untuk tetap rendah hati atau tawadhu’

2. Belajar untuk tidak gila pujian, hanya Allah SWT yang berhak dipuji

3. Belajar untuk tidak membedakan status dan kelas sosial, semua sama di hadapan Allah SWT

4. Belajar untuk memiliki jiwa dan perilaku kepedulian sosial Belajar untuk siap berkorban dalam ketaqwaan

5. Belajar untuk mencintai Allah SWT diikuti amal soleh.

6. Belajar untuk bersyukur atas apa yang sudah kita miliki

7. Belajar untuk berbuat baik secara individu maupun kolektif

8. Belajar untuk berbaur dengan masyarakat dalam kebersamaan

9. Belajar untuk menyelaraskan ego diri dengan orang lain

Qurban bisa dimaknakan agar kita tetap BELAJAR. Belajar dari masa lalu dan hiduplah untuk masa depan. Bukan menyesali apa yang sudah terjadi. Tapi berpikir dan bertindak optimis untuk masa datang yang lebih baik.

 

Sungguh, qurban tak sebatas menyembelih hewan.

Idul Adha, ber-qurban adalah simbol. Bahwa dalam hidup perlu timbal balik. Apa yang kamu berikan akan kembali, apa yang kamu tanam akan tumbuh, dan apa yang kamu korbankan akan berbuah. Hidup, tak perlu mencari kesalahan orang lain. Tak perllu juga membuka aib saudara kita. Karena QURBAN adalah pertanda cinta, cinta kepada sang Khalik dan cinta kepada sesama.

Sungguh indah, di saat ber-qurban saja kita tetap tidak berhenti untuk belajar. Belajar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Belajar memperbaiki pemahaman qurban kita, bahkan belajar meningkatkan kualitas taqwa kita kepada-Nya. Selamat Idul Adha !! Ber-qurbanlah yang tak hanya sebatas menyembelih hewan ….. #BelajarDariOrangGoblok

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya