Identitas Buku

  1. Judul: Arabian Nights (Kisah 1001 Malam)
  2. Penerjemah: Husain Haddawy dan Disunting oleh Muhsin Mahdi
  3. Penerbit: Penerbit Qanita
  4. Tebal: 700 halaman
  5. Cetakan: Pertama, Oktober 2016 (edisi kedua)
  6. ISBN: 978-602-402-046-0
Advertisement

Berbicara tentang Kisah 1001 Malam pasalnya bukan hal yang baru lagi di dunia sastra. Kisah 1001 Malam salah satu karya sastra yang sampai saat ini banyak diminati dan dibaca oleh khalayak umum.

Pun, diterjamahkan ke dalam sejumlah bahasa di dunia, salah satunya bahasa Indonesia. Walaupun begitu hingga saat ini belum diketahui dengan pasti naskah aslinya.

Kisah 1001 Malam diawali dengan cerita Syahzaman yang dikhianati oleh istrinya, yang pada akhirnya Syahzaman membunuh istrinya tersebut. Setelah itu dia menghabiskan waktunya di kediaman saudaranya yaitu Syahrayar. Suatu ketika Syahzaman melihat pengkhiatan istri kakaknya tersebut dan menceritakannya.

Advertisement

Syahrayar tentu saja tidak percaya pada awalnya, namun karena usulan yang diberikan oleh Syahzaman akhirnya mereka berdua sepakat untuk berpura-pura pergi ke luar kota dan tengah malam kembali ke kediaman Syahrayar menunggu hingga pagi menjelang untuk membuktikan apa yang dikatakan oleh Syahzaman tentang kelakuan istri Syahrazar itu benar.

Ketika mengetahui bahwa apa yang dikatakan Syahzaman benar, tentu saja Syahrayar merasa murka dan marah, hal ini membuat dia membunuh istri dan selir-selirnya, dan dia berjanji untuk menikahi seorang gadis hanya untuk semalam dan akan membunuhnya keesokan harinya.

Demikian ini yang membuat Syahrazad—anak dari wazirnya, meminta pada ayahnya untuk dibawa kepada Syahzaman, pada awalnya kehendak Syahrazad ditolak oleh anaknya karena tidak ingin anaknya mengalami seperti gadis-gadis lainnya, namun karena kegigihan Syahrazad dengan terpaksa ayahnnya mengizinkan dan membawanya kepada Syahrayar.

Keinginan Syahrazad tentu saja beralasan, dia ingin menghentikan kelakuan Syahrayar yang menikah hanya semalam dan membunuh gadis tersebut kebesokannya, dengan bantuan adiknya Dinarzad, Syahrazad mampu menunda kematiannya dengan cara memceritakan hal-hal yang aneh, indah, dan takjub setiap malamnya.

Kisah inilah yang menjadi pengantar awal dari Kisah 1001 Malam yang sangat menakjubkan dan penuh dengan keindahan-keindahan cerita yang ditawarkan di dalamnya.

Dalam Kisah 100 Malam tema yang diangkat secara keseluruhan cerita adalah tentang kehidupan. Baik digambarkan dengan kehidupan nyata manusia maupun penggambaran cerita tentang kehidupan binatang serta jin. Tokoh sentral yang terdapat dalam Kisah 100 Malam adalah tokoh Syahrayar raja yang merasa sakit hati terhadap pengkhianatan istrinya serta Syahrazad yang mencoba menghentikannya.

Kisah 1001 Malam merupakah cerita berbingkai di mana di dalamnya mengandung cerita lain (pelaku atau peran cerita itu bercerita) yang menjadi ciri khas dari kisah ini dan menggunakan alur maju, seperti disinggung di atas bahwa cerita ini diawali oleh kisah Syahrayar dan Syahrazad. Selain kekhasan dari cerita berbingkai itu sendiri, ciri khas yang terdapat dalam Kisah 100 Malam hampir selalu menampilkan syair yang disitir oleh tokoh dalam cerita, sebagai contoh di bawah ini.

Lalu si pedagang mulai menyitir syair berikut ini:

Hidup punya dua hari: yang satu kedamaian, yang satu kelesuan,

dan punya dua sisi: kekhawatiran dan kebahagian,

Tanyalah dia yang mengejek kita dengan kemalangan,

"Apakah takdir, kecuali yang patut dicatat, menindas?

Tidakkah engkau lihat bahwa badai yang mengamuk, mengembus

Hanya menyerang pohon-pohon yang paling tinggi,

Dan di antara banyak ladang yang hijau dan tandus,

Hanya yang berbuah lebat yang tertimpuk bebatuan,

Dan dari bintang-bintang yang tak terhitung di kolong langit,

Tiada yang gerhana kecuali bulan dan matahari?

Pikirkanlah baik-baik tentang hari-hari itu, ketika sedang indah,

Lupa akan keburukan-keburukan yang ditakdirkan untuknya.

Engkau terpedaya oleh malam-malam yanng tenang,

Namun di tengah ketenangan malam kesedihan mencekam."

(Arabian Nights, 2016: 71)

Kisah 1001 Malam merupakan cerita berbingkai tentu saja latar yang digambarkan pun berbeda-beda, misalnya latar tempat yang digambarkan saat seorang pedagang yang bertemu jin di padang terbuka—dalam kisah malam pertama, atau pula latar tempat di kediaman raja Syahrayar. Hal ini pula berlaku terhadap latar waktu maupun suasana di dalam Kisah 1001 Malam ini.

Sebuah cerita tidak terlepas dari amanat atau nilai moral apa yang ingin disampaikan penulisnya kepada pembaca, seperti halnya Kisah 1001 Malam ini. Nilai moral di dalam Kisah 1001 Malam dapat kita lihat dari cerita-cerita yang diangkatnya baik secara ekplisit maupun implisit, salah satu nilai moral dalam kisah ini adalah "jangan salah perhitungan".

Secara keseluruhan Kisah 1001 Malam sangat layak dibaca, digemari, dikagumi, dan diceritakan ulang. Bukan sekadar merepresentasikan tentang kehidupan sosial pada masanya, namun cerita yang diangkat dalam kisah ini merupakan sebuah permasalahan yang sering kali ditemui diberbagai situasi. Kisah 1001 Malam membuat pembaca—saya sendiri, mencoba merefleksikan diri dan mencoba menjadi lebih bijak dalam melakukan suatu pilihan.

Kisah 1001 Malam menimbulkan ektase tersendiri bagi pembacanya. Saya pribadi—selaku pembaca, menyukai cerita berbingkai di dalam Kisah 1001 Malam ini, juga mengagumi sosok Syahrazad yang digambarkan sebagai sosok perempuan yang berani dan mengambil pilihannya sendirinya, serta kebajikan-kebajikan yang terdapat di dalamnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya