Sinopsis

Saya terakhir menonton film horor Indonesia ketika Film Danur keluar, ada banyak harapan baik setelah melihat trailer dan orisinalitas ide film tersebut. Walaupun tidak jelek, saya lebih banyak kecewa dengan Danur, jumpscare banyak mendominasi film tersebut, dan saya masih percaya, film horor luar negeri masih lebih bagus.

Dan datanglah sebuah berita, Pengabdi Setan akan di reboot, saya tambah excited ketika Rapi Film mengumumkan Joko Anwar dibalik kemudi. Bagi yang belum mengenal Joko Anwar, akan jadi bahan diskusi panjang untuk membahas pretasinya di dunia film. Arisan (2003), Janji Joni (2005), Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), Modus Anomali (2012) dan Copy of My Mind (2015). Semua karyanya mendapatkan pujian dunia Internasional.

Dan jujur saya sedikit aneh dengan pilihan Joko Anwar yang me-reboot film Indonesia tahun 80’an. Joko Anwar selalu mengandalkan orisinalitas ide-idenya yang jenius. Dan sekali lagi, Joko Anwar mengejutkan semua orang dengan karyanya kali ini, Pengabdi Setan (2017).

Advertisement

Review (awas spoiler)

Sebuah keluarga sederhana, terdiri dari nenek, ibu, ayah dan 4 orang anak. Keluarga ini sedang diliit masalah uang, karena tidak ada lagi pemasukan dari royalti perusahaan rekaman untuk ibu yang dulunya adalah seorang penyanyi. Selama 3 tahun belakangan, ibu (Ayu Laksmi) sakit misterius, tak bisa bangun. Joko Anwar tidak berbelit menjelaskan latar belakang keluarga ini. Kita akan dengan mudah simpati dengan keluarga ini, adegan Rini (Tara Basro) yang merupakan anak pertama, hanya bisa memasak sedikit untuk makan. Dan adegan ayah (Bront Palarae) marah kepada Toni (Endy Arfian) karena pulang terlambat, bukan karena itu bapak marah, tapi karena motor yang digunakan Toni akan dijual.

Loceng, adalah kunci dari film ini, setelah menonton film ini arti suara lonceng disekitar anda akan berbeda. Ibu yang sakit, ketika mau makan, minum akan memanggil para anggota keluarga lainnya dengan lonceng. Dan apa yang anda pikirkan ketika ibu sudah meninggal tapi lonceng itu masih berbunyi? Iya sesederhana itu dan semenakutkan itu. Ketika ibu sudah meninggal, ayah pergi ke kota mencari uang untuk menebus rumah yang terlanjur digadaikan. Di rumah hanya ada anak-anak dan nenek yang memakai kursi roda. Teror pun dimulai, karena ibu datang lagi.

Pengabdi setan tidak banyak mengandalkan jumpscare, saya catat hanya ada dua adegan, ketika cendela yang tiba-tiba terbuka, dan Ian (M. Adyiat) buang air kecil, yang menepok bahunya ternyata Bondi (Nasar Annuz). Aura rumah dengan pernik-pernik old time (setting film ini seperti film aslinya, tahun 80’an), membuat aura horor tidak sekaget biasanya kita menonton film horor. Rasa takut seperti menjalar dari bawah, seketika itu meledak, meledak berkali-kali sampai kita tidak sadar mulut mengangga sendiri atau kita lompat dari kursi. Semua akting dan elemen di film ini bagai seutas tali yang beda warna tapi saling menyatu. LUAR BIASA !!!

Yang saya catat ada sedikit kekurangan dari film ini. Pertama, artikulasi Bront Palarae. Aktor asal Malaysia ini aktingnya tidak jelek, tapi pengucapan bahasa Indonesianya yang kurang baik. Kasus yang kurang lebih sama dengan Chew Kin Wah, tapi beliau berakting di film ber-genre komedi yang bisa lah sedikit dimaklumi, tapi film horor lain, karena kita butuh konsentrasi tinggi dan seketika bisa buyar karena berusaha mencerna dan berfikir, “ayah ngomong apa tadi?”.

Kedua, ada konsep di film ini yang sama dengan beberapa film di luar negeri. Misal, hantu wanita yang tertawa lebar ketika di-shot berputar, mirip adegan film Insidous, juga hantu nenek yang punya penyakit asma, bila datang akan terdengar suara yang tertahan oleh asma, mirip lagi dengan Insidious. Hanya itu.

Kesimpulan

Menurut saya, Joko Anwar membuat film horor Indonesia naik kelas, Joko Anwar membuat standar tinggi bagi sineas Indonesia. Dengan terpaksa, sineas Indonesia harus membuat film horor lebih bagus dari Pengabdi Setan, karena penonton Indonesia sudah terlanjur dihadiahi Joko Anwar film sebagus Pengabdi Setan, terbaik dari yang terbaik. Pengabdi Setan bukan saja tentang film, tapi rasa tentang kejeniusan Joko Anwar memfilimkan film dengan rasa hati. Di ending film ini kita akan merasakan Joko Anwar memberikan semua rasa baru yang indah, zombie ala Indonesia yang sekarang jadi lebih dekat, twist bertingkat yang akan membuat anda semua menerka-nerka, apakah akan ada Pengabdi Setan 2?

Catatan penulis :

Ada beberapa cerita yang menggantung dalam film ini. Pertama, saat Pak Budiman (Egy Fedly) memberikan sebuah rahasia kepada Hendra (Dimas Aditya), sound sengaja dimatikan, lalu Hendra meninggal dunia, kita tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Kedua, saat Pak Budiman di datangi orang (yang kelihatannya jahat) di rumah susunnya, mengapa dia bisa lolos? Ketiga, saat Rini menanyakan kepada ayah, apa yang dikatakan ayahnya kepada ibunya di malam sebelum ibunya meninnggal dunia, ayahnya belum sempat bercerita, penonton hanya diberi tahu percakapan akhir, “kasihan anak-anak.”

Keempat, adalah kehadiaran Batara (Fachry Albar) dan Darminah (Asmara Abigail) di ending cerita. Just info, di film aslinya tokoh kedua ini ada di tengah-tengah cerita.

Ini hanya tebakan saya ya, buat hiburan saja. Andai ada pengabdi Setan 2. Sebenarnya Pak Budiman memberi tahu Hendra, dalam kelompok penyembah setan, harus ada suami dan istri (Batara dan Darminah).

Sebenarnya ayahnya terlibat, itu jawaban mengapa ayahnya pergi setelah ibunya meninggal, pulang-pulang membawa uang agar keluarganya bisa pindah. Di malam sebelum ibunya meninggal, mungkin ayahnya bilang, “menyerah saja, serahkan jiwa mu kepada setan, kasihan anak-anak.” Kalau mau lebih liar lagi, pengabdi setan, tidak hanya untuk mendapat keturunan, nanti mereka akan bertemu dengan pengabdi setan untuk kekayaan (seperti film aslinya). Semua hanya imajinasi, saya yakin Joko Anwar akan lebih mengejutkan.

Pengulas adalah seorang pecinta film dalam negeri maupun luar negeri, tidak pernah bersekolah film tapi merupakan penikmat film berdosis tinggi ,tapi jujur bukan orang gila. Pengulas hanya mengulas film dengan sejujur-jujurnya dan apa adanya berusaha berimbang dengan kelebihan dan kekurangan film itu sendiri.