Butuh waktu memang untuk pulih, tapi bukan berarti harus terus-terusan dalam keterpurukan. Hidup adalah pilihan dan keputusan.

Kamu memilih untuk sebuah kesembuhan dan memutuskan untuk tidak jatuh terlalu dalam.
Tidak perlu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melupakan hari-hari pahit. Waktu terlalu berharga untuk dilewatkan dengan percuma.

Walau kamu dan saya tahu, bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk memulihkan diri. Bukan berarti harus selalu terpaku pada yang lalu, seharusnya kita yang tertanggalkan ini dapat mempelajari satu hal bahwa yang bukan untukmu, sekeras apa pun dipaksakan, tetap saja tak akan menjadi milikmu. Yang kau perjuangkan dengan sepenuh usaha pun jika hatinya bukan lagi kamu, toh percuma. Perjuangkanlah dia yang memang memperjuangkanmu.

Tidak perlu berlarut dalam duka sebab Hidup terlalu pendek untuk dihabiskan dengan kesedihan berkepanjangan.

Hai kamu, ku ceritakan sebuah kisah padamu.

"Adakalanya ketika hatimu sedang berjuang untuk sembuh, Allah akan selalu mengujinya. Bahkan berkali-kali, ia hujamkan cemburu ke ulu hati. Padahal Dia tahu, kamu sedang berusaha merelakan, berusaha melepaskan bahkan kamu berusaha tidak membicarakannya. Namun Allah mengujimu dengan selalu menghadirkan ia dalam ingatan, dalam hatimu bahkan merangkainya dalam harapan.

Advertisement

Saat hatimu mampu bertahan dalam ujianNya, Selangkah lebih dekat Allah padamu. Dan Mungkin Allah sedang memberimu sebuah balasan yang sama, bagaimana sakitnya jika menyimpan cinta yang terlalu pada MakhlukNya. Memberitahumu bahwa Allah sedang cemburu pada hatimu itu. Hatimu yang selalu berkisah tentangnya, Hatimu yang selalu merona kala namanya menjelma, Hatimu yang selalu cemas kala rindu padanya.

Ah hatimu yang dengan mudahnya mendua itu. Mungkin Allah tidak mau kamu terlalu tinggi berangan makanya Dia menolak seseorang yang kamu sebut dalam doa itu. Karena Ia tahu apa yang baik. Maka berbaik sangkalah kamu pada Allah yang maha baik.

Penolakan hanya nama lain bahwa kamu sedang salah jalan.

Hai jiwa, sebenarnya kamu tidak perlu merisaukan angka-angka yang mulai bertambah dalam hitungan dunia itu? Sebab selama kamu terlalu merisaukannya, semakin kamu lupa tersenyum itulah yang membuat wajahmu penuh kerutan.

Ya, saya mengerti mereka yang sedang berbahagia itu akan semakin sering melontarkan pertanyaan 'kapan?'.

Ah, andai kamu tahu wahai teman yang sedang berbahagia. Sakitnya mendengar pertanyaan 'kapan' tsb. Seharusnya kalian tahu, tidak ada perempuan yang bermimpi hidup sendirian. Alasan hawa diciptakan karena Adam merasa kesepian. Lantas, bukankah lebih bermakna jika pertanyaan diganti doa kemudahan?

Mendoakan kebaikan untuk oranglain, setimpal yang kamu dapatkan. Mendoakan bahagia untuk mereka yang belum berbahagia, malaikat mengaminkan bahagia yang sama untukmu juga. Luar biasa sang pencipta bukan?

Bahkan saat kamu masih dalam angan dan doa berkepanjangan, tidak usah tanyakan kapan doa dikabulkan. Karena Allah hanya menyatukan ketika kamu benar-benar siap.

Dalam usahamu untuk merelakan dia yang bukan tujuan, adalah kunci untuk membuka pintu lainnya. Bukankah banyak jalan ke syurga, dan hidupmu tidak perlu berakhir hanya karena gagal selangkah. Kamu punya banyak sekali waktu, tidak usah terburu-buru. Pada waktunya semua akan datang sendiri padamu.

Hatiku pun juga sedang berusaha merelakan bukan melupakan. Karena semakin berusaha melupakan semakin sulit dilepaskan.

“Kamu yang pernah menghiasi huruf-huruf di kepala, Ada masanya ketika usaha merelakan ini berhasil membuat hati menerima segala takdirNya. Dimasa itu, kamu hanya akan menjadi figuran yang pernah mengisi sebuah kisah. Sebab skenario Allah lah yang membuat kita bersua. Maka, masa itu saya telah memahami kenapa ikhlas terasa bermakna ketika hatimu telah lepas dan bebas.

Sebab Proses kebahagiaan akan selalu diperjuangkan oleh anak manusia. Salam bahagialah selalu.