Hai sanak saudara di mana pun berada, sesekali tanyalah kabar kami di sini. Di Sumatera, pulau yang katanya masih hijau dibanding Jawa.

Jika enggan bertanya ya sudahlah tak apa. Tapi bolehlah kami bercerita. Sekarang di sini kami dipeluk asap. Mau kemana-mana harus pakai penutup hidung dan mulut. Jika tak mau paru-paru kami kotor karena asap yang melimpah ruah dari pohon dan semak-semak yang terus menerus ter(di)bakar.

Advertisement

Bukan hanya saat berkendara masker itu tak kami lepas. Kami kenakan juga saat di dalam ruangan, di dalam kelas sekolahan, ruang kampus, kantor. Ah, kami sudah seperti ninja saja. Mau bagaimana lagi, asapnya mengekor kami kemana-mana.

Kota kami jadinya kelam. Cahaya matahari tertutup selimut asap. Kami jadi tak senang, tak nyaman. Belum lagi sudah dibuat kami batuk-batuk karena asap ini. Katanya sih, 10 ribu orang dari kami bisa terserang banyak penyakit. Namanya beragam mulai infeksi saluran peranapasan, sesak napas, iritasi mata, iritasi kulit, pneumenia dan lainnya. Entahlah, kami tak begitu mengerti, itu sih kata pakar kesehatan yang dimuat koran-koran dan diujar-ujarkan di televisi.

Sebenarnya kami lebih takut anak-anak yang malah kena. Kalau kami yang sudah tua-tua ini tak apalah, sudah terbiasa menderita. Lagi pula bukankah anak-anak yang harus dilindungi untuk kelanjutan negeri ini?

Advertisement

Sebenarnya bukan masalah kesehatan saja. Kami juga kesal karena sempat terperangkap pula. Mau terbang ke kota lain tak bisa, pesawatnya tak bisa membawa kami kemana-mana karena tak sanggup melawan asap yang pekat. Padahal kami punya banyak perlu ke kota lain, mulai dari pernikahan famili, menjenguk yang sakit atau pekerjaan.

Jangankan mau terbang, berkendara saja kami susah. Kami tak bisa memandang lebih jauh dari 200 meter. Bahkan di satu daerah cuma bisa 50 meter. Takut juga nanti bisa celaka di jalanan, kecelakaan, wah wah wah. Mau bagaimana lagi? Kami cuma bisa mengeluh dan cuap-cuap marah.

Apakah sanak saudara khawatir dan prihatin dengan keadaan kami? Tak perlulah sampai sebegitunya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali kota kami dilingkup asap. Entah sudah berapa belas, berapa puluh kali, berapa ratus kali. Enggan kami menghitung atau memang sudah luput dan sengaja kami tak menghitung. Kalau katanya para pakar sih, sudah 18 tahun kota kami bermasalah dengan asap. Aduh, sudah lama juga ternyata ya?

Lami kelamaan kami sepertinya memang jadi terbiasa. Asap yang mengasap di kota kami sudah seperti cuaca buruk yang seolah tak bisa dielakkan. Mungkin seperti badai, gempa bumi atau kemarau panjang. Tapi entahlah, kalau tak ada lahan dan pepohonan yang tak terbakar bukankah asap itu tak akan pernah ada?

Ketika kami lihat lagi koran-koran dan televisi katanya malah sumber asap tambah banyak. Dua hari lalu hanya 151 titik api, kemarin 417. Hari ini berapa ya? Entahlah, enggan pula kami mencari tahu, tiada guna rasanya.

Kalau mau dibilang kami sudah terbiasa, sebenarnya tidak juga. Tiap kali kota kami kelabu karena asap semua orang kelimpungan. Terlihat pusing tujuh keliling. Malah ada yang saling caci maki, saling menyalahkan, saling tunjuk, saling tuding. Keluhan dimana-mana. Mulai dari pemerintah sampai rakyat jelata, yang tua sampai yang muda. Itu sudah biasa pula, tiap ada asap juga selalu begitu. Sekarang pemerintah provinsi, kota/kabupaten di tempat kami pusing alang kepalang. Para anggota dewan juga katanya mau mencetuskan daerah kami darurat asap. Walah, walah.

Tapi persis seperti asap yang mengasap di kota kami ini, kelimpungan itu sepertinya juga berwujud asap. Lama kelamaan akan hilang pula, karena dibawa angin atau hujan nantinya. Lalu terlupa begitu sajalah rencana solusi, perbaikan dan pengawasan yang awalnya didengung-dengungkan. Persis bukan seperti asap? Mungkin karena kami sudah terlanjur mencintai asap.

Lagi-lagi ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Berbelas kali, puluhan mungkin ratusan kali. Yah, seperti kata para pakar tadi, sudah 18 tahun kami sering begini, dirangkul asap. Tapi ya seperti asap yang mengasap itu pula kami juga sering tak peduli, mau ada yang membakar hutan kami pura-pura tak lihat saja. Apalagi mau repot-repot melaporkan ke pihak berwenang. Entahlah, sampai kapan kami harus begini?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya