Aku tidak ingin mengungkit semua tentangmu. Maaf jika terpaksa aku menulis ini, melalui tulisan ini aku hanya ingin kamu sadar bila kamu bukanlah seorang yang sempurna.

Sadarkah, kamu? Bila kelakuanmu itu telah menyakiti hati banyak orang, tanpa sadar kamu telah membuat mereka membencimu. Bukan, mereka bukanya bermuka dua di hadapanmu. Mereka hanya masih berusaha untuk menghargaimu, mereka hanya berusaha memahami sikapmu itu.

Advertisement

Sering kali mereka memendam kesal, begitu juga dengan aku. Namun kami masih memiliki hati untuk tak menjauhimu. Aku, kamu, dan mereka itu sama. Jika kamu butuh kami, kami selalu membantu. Tapi, apa? Apa yang kamu lalukan, jika kami butuh bukannya membantu, kamu malah seakan merendahkan kami.

Lalu, jika kamu yang salah. Apa yang kamu lakukan? Kamu justru lempar batu sembunyi tangan, kamu kerap kali mengelak bila kamu salah. Sering kali kamu juga malah memilih untuk menyalahkan yang lain, padahal jelas kami tahu, kami tahu bahwa yang salah itu kamu.

Kamu selalu katakan jika kamu butuh kami, kami tak mau membantumu. Tapi kami merasa justru terbalik, kamu yang tak mau membantu kami. Kamu ingin dihargai, namun kamu juga tak ingin menghargai kami.

Advertisement

Sadarlah! Sadar, jika semua kelakuan kamu itu salah, bahkan melampaui batas. Kami yang semula merangkulmu, bisa saja melemparmu, melemparmu karena kelakuan kamu sendiri. Segeralah berubah, ubah seluruh sikap tak baikmu itu. Sebelum kami menjauhimu, sebelum kami terlanjur membencimu, membencimu karena kesalahan yang kamu lakukan sendiri. Sebab kami hanyalah manusia biasa, manusia biasa yang tak akan bisa bila di pinta sabar terus menerus.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya