Malam itu ku anggap malam terburuk sepanjang sejarahku. Aku menangis tertahan saat dia yang ku anggap sebagai cinta, yang namanya selalu tarapal dalam do'a, yang deminya aku rela menukar bahagia, dengan kejam meninggalkanku hanya karena aku meminta kepastian kapan akan membawaku pada pelaminan. Oh Tuhan apakah permintaanku ini teramat berlebihan?


Hatiku benar-benar patah, terkoyak kenyataan yang menampar telak. Aku limbung dan tidak tahu kemana mesti mencari pijakan.


Advertisement

Beberapa malam ku habiskan sia-sia hanya untuk menangisi kepergiannya. Lingkar hitam mengitari mata seperti panda, berat badan naik secara tiba-tiba lantaran aku terus meneguk susu coklat demi pelampiasanku atas kekejamannya. Berhari-hari aku seperti zombie yang berjalan tanpa nyawa. Melihatku kelimpungan tak tau arah, ternyata diam-diam orang tuaku menabung resah. Tanpa banyak bertanya mereka mulai mengenalkanku pada banyak pria. Tapi sayang aku malah seperti kehilangan selera. Tak satupun dari mereka yang ku terima pinangannya. Ku pikir karena jengah, mereka mulai memberiku sedikit penekanan.

Dengan dalih kepahaman agama dan pekerjaan yang cukup mapan, mereka mulai menyarankan aku untuk menerima seorang pria. Pria asing yang entah dari mana asalnya datang membawa janji kebaikan. Dan anehnya tanpa pengintaian lebih jauh, kedua orang tuaku justru begitu yakin padanya. Begitu percaya bahwa pria itulah yang terbaik untuk putrinya yang merana. Aku pun hanyut dalam dilema, antara tak suka dan takut mengecewakan orang tua. Diam-diam aku membenci kedatangannya.

Setelah mengalami pertapaan panjang diatas sejadah yang tiap sepertiga malam aku lakukan, pada akhirnya akalku mulai bekerja. Mulai bisa berpikir bahwa menikah bukan hanya perkara suka dan cinta, alih-alih menetapi sunah rasul-Nya. Mati-matian kubujuk seonggok daging yang bersarang dirongga dada agar segera menepis keegoisannya. Memaksa mata untuk menguak realita, bahwa aku bukan lagi anak SMA, ABG labil yang dengan bodoh mudah di butakan oleh cinta. Jika memang ada lelaki datang dengan membawa janji kebaikan, lalu kenapa terus saja kuabaikan. Aku sadar aku harus mulai mengikhlaskan apa yang tak digariskan.

Advertisement

Aku memang pernah remuk redam, tapi bukan berarti aku harus terus berada dalam keterpurukan.

Sembari berusaha memperbaiki akhlak dan hati aku bertahan di tengah keterbatasan. Sembari menghilangkan seluruh dosa dan kesalahan yang dulu pernah kulakukan, niat menikah berusaha ku luruskan. Ku pasrahkan hati ini pada kuasa-Nya lalu ku terima pinangan pria itu.

Perkara rasa, biar Tuhan yang menumbuhkannya.

Hari pertama bersama, kami dihinggapi kecanggung yang luar biasa. Tak tahu harus berkata apa dan berbuat bagaimana. Kami sama sekali tak saling mengenal. Kami dua insan yang nekat naik kepelaminan dengan hanya berbekal keyakinan akan kebaikan masing-masing. Aku meyakini kebaikannya, begitu pula sebaliknya. Pria itu yang lebih dulu membuka suara. Menghujaniku dengan berbagai tanya, sedang aku hanya menjawab seperlunya tanpa balik bertanya. Untungnya ia memiliki kesabaran ekstra dengan tak menyerah begitu saja. Ia terus membuat kami terlibat obrolan ringan setiap hari. Meski tak dapat ku pungkiri hati belum sepenuhnya menerima. Dalam setiap tangkupan do'a, aku mulai mengemis-ngemis pada Tuhan agar segera membabat habis segala egoisme dikepala, dan mulai menumbuhkan cinta pada sukma ku yang nelangsa.

Tak hanya menghujaniku dengan berbagai pemenuh kebutuhan, ia pun membanjiriku dengan kejutan tanda perhatian. Bersamanya benar-benar membuatku hampir tak pernah merasa kekurangan. Kehadirannya seperti mengajarkanku bahwa cinta adalah perkara menerima apa adanya tanpa berhenti untuk terus berusaha menjadi sebaik-baiknya manusia. Cinta memang menerima, tapi bukan berarti kita bisa seenaknya saja bertingkah tanpa memperbaiki sikap kita. Saat masih sukabermain dengan sosial media, ia juga tak pernah mempermasalahkannya. Tanpa lupa untuk selalu mengingatkanku untuk tak melampaui batasan, ia pun kerap memberiku tag pada setiap postingannya. Alih-alih terkekang, disampingnya justru kutemukan pendamping yang membebaskan namun tetap perhatian.

Terkadang aku masih belum habis pikir, bagaimna aku yang banyak cela bisa mendapatkan keberuntungan sebesar ini?

Orang tua memang selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Mungkin inilah pilihan terbaik dari mereka. Atau mungkin juga karena kehilangan yang dulu pernah ku ikhlaskan, telah Tuhan ganti dengan berlipat-lipat kebaikan. Aku pun mulai jatuh hati padanya, meskipun tanpa rencana.

Entah sejak kapan, kehadirnya bak candu. Yang jika semalam saja alpha bertemu, rindu seperti menguliti ragaku. Entah sejak kapan aroma tubuhnya bak ganja. Yang jika semalam saja alpa menghirupnya, inderaku seperti tak bernyawa. Ya, pada akhirnya jasatku tenggelam dalam jeratnya. Jerat seorang pria yang dulu sempat ku benci, namun kini kucintai setengah mati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya