Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh hari ini, Hipwee ingin mengangkat kisah anak-anak muda Indonesia yang pantas dijadikan panutan karena kesuksesan-nya. Bencana alam, korupsi, maupun persidangan kriminal saat ini mungkin memang mendominasi pemberitaan nasional kita, tapi jangan sampai segala berita negatif itu sampai buat kita kehilangan inspirasi untuk berkarya. Meski jarang jadi berita utama, masih banyak kok hal positif yang terjadi di negara kita tercinta ini. Salah satunya, kisah sukses 8 anak muda Indonesia yang telah diakui oleh majalah ternama dunia Forbes, dalam edisi anual khususnya, 30 Under 30 Asia.

Dalam liputan khusus tersebut Forbes membuat daftar anak-anak muda berusia di bawah 30 tahun yang digadang-gadang sebagai calon pemimpin masa depan, wiraswastawan sukses, dan agen-agen perubahan di dunia. Di antaranya adalah 8 anak muda asal Indonesia ini. Dengan berbagai latar belakang yang berbeda, mereka berhasil membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus selalu ketika usia sudah diatas 30an. Usia muda tidak berarti harus menjadi bawahan. Supaya kamu terinspirasi untuk berkarya, yuk kenalan dengan anak-anak muda kebanggaan Indonesia ini!

1. Bisnis tak hanya sekadar mengejar untung semata. Berawal dari hobi main game online, Benny Fajarai membentuk Qlapa.com, yang memberi ruang kepada pengrajin lokal untuk bersaing di pasaran

Benny Fajarai via indonesianindustry.com

Sebenarnya, Benny Fajarai bercita-cita menjadi dokter. Namun karena kondisi perekonomian keluarganya, yang mana Ayahnya adalah sopir oplet di Pontianak, Benny memilih untuk mengembangkan minat dan bakatnya di bidang IT. Sejak masih kuliah, Benny dan teman-temannya sudah membangun bisnis yang berbasis IT. Pada tahun 2014, Benny berhasil membangun dan mengembangkan kreavi.com, sebuah platform yang mempertemukan pekerja-pekerja seni meliputi, design grafis, sinematografi, web design, dan sebagainya.

Namun Benny memiliki cita-cita yang lebih besar, kreavi.com akhirnya dijual, dan dia mendirikan Qlapa.com, sebuah platform yang memberi ruang untuk pengrajin-pengrajin lokal untuk memasarkan dagangannya. Kerja keras dan kesabaran adalah moto pemuda berusa 25 tahun ini. Baginya, bisnis bukan semata-mata mencari untung. Harapannya, dengan terciptakan Qlapa.com, pengrajin lokal bisa mengembangkan industri dalam negeri dan membuktikan bahwa kualitas produk lokal tak selalu dibawah merek luar negeri.

2. Pernah menjadi TKW di Hongkong, menginspirasi Heni Sri Sundani untuk ikut aktif memberantas kemiskinan di Indonesia dengan mendirikan Gerakan Anak Petani Cerdas

Advertisement

Heni Sri Sundani via www.astralife.co.id

Demi membantu perekonomian keluarganya, Heni Sri Sundani berangkat ke Hongkong sebagai TKW. Tugas sehari-harinya adalah sebagai pengurus rumah. Namun kesibukannya mencari uang tak membuat Heni melupakan pendidikan. Diam-diam tanpa sepengetahuan majikannya, Heni mengikuti kuliah di Saint’s Mary University yang dia bayar susah payah dengan gajinya sebagai baby sitter.

Selepas lulus kuliah, Heni memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menjadi guru untuk anak-anak kecil di kampung halamannya, Ciamis Jawa Barat. Heni juga membentuk Gerakan Anak Petani Cerdas dan AgroEdu Jampang, yang membawanya pada penghargaan 30 Under 30 Asia. Gerakan ini fokus pada sekolah gratis dan memberikan pendidikan kepada anak-anak yang kurang mampu di daerah pedesaan.

3. Muhammad Alfatih Timur dengan Kitabisa.com masuk sebagai social entrepreneurs, atas komitmennya untuk menghimpun dana demi kegiatan sosial

Timmy (yang kiri) via efekgila.com

Niat awalnya, pemuda kelahiran Padang tahun 1991 ini ingin melanjutkan S2 di luar negeri setelah lulus dari FEUI tahun 2012. Namun ketika meminta surat rekomendasi kepada dosennya, Rhenald Kasali, sang dosen justru menawarinya menjadi asisten di Rumah Perubahan, yaitu tempat bertemunya para agen perubahan. Ide Kitabisa.com muncul ketika Timmy, begitu biasa dia dipanggil, melakukan perjalanan ke Pulau Buru dan hidup bersama masyarakat setempat. Timmy merasa bahwa banyak potensi yang terpendam dalam masyarakat yang bisa dijadikan sarana perubahan.

Akhirnya di tahun 2013, di bawah naungan Rumah Perubahan dan Prof Rhenald Kasali, Timmy mendirikan Kitabisa.com, sebuah situs ‘patungan’ yang mempertemukan para pemberi dana dan orang yang membutuhkan dana. Kitabisa.com adalah platform untuk menggalang dana secara online. Utamanya diperuntukkan bagi ide-ide kreatif yang berguna bagi masyarakat. Hingga kini, Kitabisa.com sudah menggalang dana lebih dari 12,47 M dan mendanai lebih dari 1.154 ide kreatif dari 66.249 pemberi dana. Karena inilah, Timmy diakui sebagai 30 Under 30 Asia untuk kategori Social Entrepreneurs.

4. Di belakang kesuksesan Gojek tidak hanya ada Nadiem Makarim sang CEO, melainkan juga ada Kevin Aluwi. Kemampuan co-founder yang juga merangkap sebagai CFO Gojek ini sudah diakui dunia

Kevin Aluwi via dailysocial.id

Selama ini mendengar kata Gojek pastilah identik dengan sang CEO, Nadiem Makarim. Namun berkat penghargaan 30 Under 30 Majalah Forbes kini, kita tahu bahwa di Gojek ada orang-orang hebat lainnya. Salah satunya adalah Kevin Aluwi yang menjabat sebagai CFO atau Chief Financial Officer. Meskipun menempuh pendidikan di bidang finansial di University of Southern California tak membuat Kevin memilih berkarier di bidang keuangan. Sejak awal, minatnya memang berada di bidang teknologi. Sebelum menjadi CFO di Gojek, Kevin sempat berkarier selama 1,5 tahun di Amerika, kemudian bergabung dalam inkubator Startup Merah Putih, dan juga bekerja di Zalora.

Sebagai CFO, Kevin tidak hanya mengurusi soal keuangan perusahaan saja, melainkan ikut terjun langsung untuk bertemu investor, membangun tim marketing online, tim data serta analisis. Data-data hasil analisisnya digunakan sebagai strategi perusahaan. Bersama Nadiem, Kevin membesarkan Gojek yang dulu pernah diragukan. Namun nyatanya, kini Gojek sudah berkembang menjadi salah satu moda transportasi yang menjadi pilihan masyarakat.

5. Arief Widhiyasa, CEO dari Agate Studio. Perusahaan game yang menjadi tempat anak muda untuk berkreasi sebebasnya

Arief Widhiyasa via www.duniaku.net

Kalau kamu dulu waktu masih kecil sering ditanya ‘Mau jadi apa kamu main game terus?’, oleh orang tua, sekarang Arief Widhiasa bisa menjawabnya dengan jumawa. Game yang katanya bikin anak nggak belajar dan nilainya jeblok justru bisa menjadi bisnis yang menjanjikan dan karya yang membanggakan. Berawal dari lomba pengembangan game di tahun 2007, Arief dan 18 temannya dari ITB berencana menjadikan game sebagai karier profesional. Perjalanan Agate Studio tidaklah mudah. Arief bahkan rela dropout dari ITB untuk mewujudkan mimpinya, sementara para punggawa Agate lainnya harus rela digaji 50.000/orang dengan jam kerja 15 jam.

Empat tahun setelah berdiri, Agate semakin dikenal di dunia internasional. Tawaran kerja sama dari Jepang, Square Enix yang mengembangkan game-game terkenal seperti Final Fantasy, Dragon Quest, dan Kingdom Hearts. Hingga kini 6 tahun dari masa berdiri, Agate Studio sudah berhasil membuat lebih dari 200 game, dengan 20-30 game pertahun. Arief membuktikan bahwa bekerja bisa sambil bersenang-senang.

6.Carline Darjanto pendiri clothing brand Cotton Ink, yang kini sudah memasuki pasaran Malaysia, Singapura, hingga Australia

Carline Darjanto via www.ziliun.com

Sebagai brand fashion yang didedikasikan kepada kaum perempuan, para ladies pasti tidak asing dengan brand Cotton Ink. Mulai dari baju, sepatu, aksesoris disediakan dengan harga yang terjangkau. Nah, para penggemar Cotton Ink, Carline Darjanto-lah sosok di balik brand kesayangan ini. Awalnya, Carline mendirikan Cotton Ink bersama temannya dengan tujuan menambah uang saku selepas kuliah. Awalnya juga, Carline hanya menjadikan cotton ink sebagai side job. Namun karena permintaan semakin membludak, Carline memutuskan untuk konsentrasi membesarkan brand yang dia rintis dari nol itu.

Membesarkan brand dengan seseorang yang memiliki pola pikir berbeda tidaklah mudah. Menyatukan dua pikiran demi kesuksesan brand yang diciptakan bersama juga kunci utama untuk menjaga agar Cotton Ink tetap eksis dan berkembang. Hingga kini, Cotton Ink berhasil meraih banyak penghargaan seperti Cleo Fashion Award 2010, Free! Magazine Award, inStyle Magazine Award, dan yang terakhir tentunya 30 Under 30 dari majalah Forbes.

7. Mesti Ariotedjo membentuk wecare.id, platform untuk berbagai kepada mereka yang memelurkan bantuan medis

Mesty Ariotedjo via hackzingspeed.us

Untuk sosok yang bernama panjang Dwi Lestari Pramesti Ariotedjo ini pasti kamu sudah tidak asing lagi. Semboyan ala Putri Indonesia “Beauty, Brain, and Behaviour” barangkali pantas disematkan kepadanya. Selain sebagai dokter lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Mesty juga seorang musisi sekaligus model. Sebagai musisi, Mesty dikenal dengan instrumennya yang tak biasa, yaitu Harpa dan Flute. Dari dunia modeling, Mesty pernah menjadi brand ambassador Nivea. Sementara dari dunia medis, Mesty sudah berkali-kali menjalankan tugas sebagai dokter di daerah-daerah pedalaman Indonesia, seperti di Flores. Dari pengalamannya menjadi dokter Flores inilah, Mesty menginisiasi wecare.id, sebuah situs penggalangan dana untuk pasien yang kurang mampu, khususnya di daerah terpencil. Selain dari Forbes, wecare.id juga mendapat penghargaan dari Asian Social Inovation Award.

Kombinasi antara kecerdasan, kecantikan, dan kepedulian terhadap sesama menjadikan Mesty sebagai perempuan sempurna idola calon mertua. Meski sempat dekat dengan beberapa pengusaha sukses, konon sekarang Mesty jomblo lho. Nah kan? Jomblo juga bisa berkarya, tak hanya galau di media sosial saja. Hehehe

Itu dia beberapa anak muda Indonesia yang berhasil masuk sebagai bagian dari 300 orang pilihan Forbes. Dunia anak muda yang masih sangat luas dan aktif bisa dimanfaatkan sebagai masa-masa mengembangkan diri sekaligus menyumbangkan sesuatu untuk masyarakat. Kreativitas dan nyali adalah modal utama. Karena berkaca dari kisah orang-orang di atas, tidak perlu hal yang hebat untuk bisa mengguncang dunia. Hal sederhana bisa sangat membantu dan menginspirasi banyak pihak.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!