Perjalanan Panjangku Jadi Dokter Kulit Estetik. Bahagianya Bikin Orang Makin Merasa Percaya Diri!

berkarier jadi dokter kulit

*Disclaimer: Ini adalah hasil wawancara penulis dengan narasumber, ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Semua datanya riil, tapi demi kenyamanan beberapa data yang bersifat privat tidak akan kami publikasikan.*

Advertisement

Halo, perkenalkan saya dr. Dikky Prawiratama, M.Sc, Sp.KK berusia 33 tahun dan merupakan seorang Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin yang sudah mulai menggeluti bidang ini sejak Juli 2017 lalu, kini saya bekerja di Erha Derma Center Yogyakarta dan Beauty First Clinic Yogyakarta. Saat melihat seorang dokter kulit mungkin ekspektasi orang-orang akan tinggi, kulit harus mulus dan harus mampu juga membuat orang lain memiliki kulit yang sama mulusnya.

Makanya, pendidikannya pun tak main-main, sama dengan spesialisasi dokter yang lain. Nah, jika kamu penasaran seperti apa perjalanan mulai dari pendidikan hingga karier saya sekarang, berikut adalah cerita selengkapnya…

Ada syarat mutlak yang harus dipenuhi ketika ingin menjadi seorang dokter Sp.KK, salah satunya menempuh pendidikan sampai dapat Surat Tanda Registrasi yang sah

Ada syarat mutlaknya/ Credit: dr. Dikky Prawiratama

Untuk menjadi dokter Sp.KK, sebelumnya kita harus sudah lulus sebagai Dokter Umum (setingkat S1), karena Sp.KK ini adalah gelar profesi setingkat S2. Syarat mutlak jika ingin berprofesi ini tentu saja sudah memiliki Surat Tanda Registrasi sebagai dokter umum yang sah di Indonesia. Syarat untuk kembali melanjutkan pendidikan spesialis terkadang berbeda-beda di tiap universitas akan tetapi secara umum adalah usia tidak lebih dari 36 tahun, sehat secara jasmani dan rohani, serta mampu bekerja dalam tim dan di bawah tekanan.

Advertisement

Banyak suka duka yang dirasakan selama pendidikan, banyak pula cerita selama menempuh pendidikan yang “seru untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang”

Banyak yang seru saat pendidikan/ Credit: dr. Dikky Prawiratama via www.instagram.com

Pengalaman ini membentuk mental saya untuk menjadi lebih tahan banting. Ada sebuah pengalaman paling unik, di mana calon spesialis kulit terkadang akan mendapatkan konsultasi dari bagian lain terkait penyakit kulit. Nah, beberapa kali pernah diberikan konsultasi dari bagian spesialisasi lain sewaktu dini hari di Unit Gawat Darurat, ternyata pas didatangi masalahnya cukup sepele yaitu panu/jamur kulit. Padahal namanya panu kan nggak harus malam-malam datang ke UGD, hahaha.

Mungkin karena itu juga banyak yang beranggapan bahwa menempuh pendidikan ini tergolong mudah dibanding spesialisasi lain, sebenarnya itu sangat tergantung dari personal. Tiap-tiap pendidikan spesialis memiliki tantangan yang berbeda dan tidak bisa disamakan satu sama lain. Bahkan, kalau dilihat dari peluang masuk pendidikan, Sp.KK itu cukup ketat lo. Contoh sewaktu saya masuk pendidikan di tahun 2013, ada sekitar 40-50 pendaftar, tapi yang diterima hanya 4-5 orang. Jadi kurang lebihnya kesempatannya 1:10.

Sebagai dokter Sp.KK tentu saya akan menerima konsultasi terkait penyakit kulit dan kelamin, akan tetapi saya sekarang lebih memfokuskan diri di bidang kecantikan

Fokus estetik/ Credit: dr. Dikky Prawiratama via www.instagram.com

Hal ini tidak menutup kemungkinan siapapun yang ingin konsultasi masalah kulit di luar kecantikan, silakan datang ke klinik. Karena fokus saya sekarang 80-90% di bidang estetik, tentu sebagian besar kasus yang datang pun terkait masalah estetik seperti contoh jerawat, flek wajah, tanda penuaan, atau pasien yang ingin merubah bentuk wajah/beautification dengan tindakan botox/filler/threadlif. Jika ada stereotip mengenai dokter Sp.KK harus berkulit mulus sepertinya memang sudah jadi “kewajiban”, karena kan kita dituntut untuk mampu mengaplikasikan apa yang sudah kita pelajari, setidaknya di kulit kita terlebih dulu sebelum ke orang lain/pasien.

Advertisement

Walaupun gaji seorang dokter cukup untuk memenuhi kebutuhan, namun gaji dokter di sini nyatanya lebih rendah dibanding negara lain

Jadi speaker juga/ Credit: dr. Dikky Prawiratama via www.instagram.com

Sistem penggajian berbeda-beda untuk tiap klinik/rumah sakit, bisa dipukul rata uang duduk atau bagi hasil dengan klinik/rumah sakit. Akan tetapi, untuk setiap tindakan ada istilah jasa medis. Jasa medis adalah porsi yang dibayarkan oleh konsumen/pasien, yang merupakan timbal balik jasa yang sudah dilakukan oleh dokter. Hal ini berlaku untuk semua dokter dan spesialis.

Gaji yang saya terima cukup untuk kebutuhan dari primer sampai tersier dan puji syukur masih ada sisa untuk tabungan dan investasi. Tapi secara umum gaji dokter di Indonesia, masih di bawah standar di negara-negara lain. Bahkan ketika kita menempuh pendidikan baik akan menjadi dokter umum (koas) maupun spesialis, kita tidak digaji lo malah kita harus bayar uang sekolah. Berbeda seperti di negara lain di mana peserta didik dokter umum dan spesialis itu digaji karena kita juga bekerja di rumah sakit walaupun dalam rangka pendidikan.

Kebahagiaan seorang dokter Sp.KK rasanya sederhana, namun di zaman sekarang ada juga yang bikin sedih karena pengaruh media sosial

Penuh passion/ Credit: dr. Dikky Prawiratama via www.instagram.com

Menjadi seorang dokter Sp.KK lebih banyak sukanya karena bisa menolong orang untuk merasa lebih percaya diri, merasa lebih cantik/tampan dan itu adalah kepuasan tersendiri untuk saya ketika pasien bahagia atas kondisi kulitnya. Namun, kini di jaman serba digital dan medsos seperti sekarang, bukannya makin pintar, malah makin banyak yang dibodohi oleh hoaks yang seringnya diberikan oleh para influencer. Alih-alih kulitnya cantik malah jadi amburadul dan untuk memperbaiki kondisi kulit itu selain butuh waktu, juga butuh dana yang besar, kasian kan.  Makanya saya bermimpi untuk memiliki suatu lini produk estetik aman yang bisa dipakai oleh siapapun dan terjangkau, serta mendirikan balai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dokter Sp.KK yang tertarik di bidang estetik.

Untukmu yang ingin terjun di bidang ini, intinya harus rajin belajar dan memang memiliki passion untuk mendalami masalah kulit (bukan hanya estetik), karena kulit itu seperti cerminan diri seseorang dan bisa dijadikan suatu indikator kesehatan seseorang.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE