Pengalaman Kerja di Perusahaan BUMN Ternama. Kerja Kantoran tapi Harus Kokoh Seperti Beton!

pengalaman kerja bumn

*Disclaimer: Ini adalah hasil wawancara penulis dengan narasumber, ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Semua datanya riil, tapi demi kenyamanan beberapa data yang bersifat privat tidak akan kami publikasikan.*

Advertisement

Halo, namaku Lutfi Odie Pratama dan usiaku 25 tahun. Aku bekerja di sebuah anak perusahaan BUMN konstruksi di Jakarta yang bergerak di bidang manufaktur precast, readymix, dan post tensioning. Ya, mungkin kamu masih asing dengannya ya. Kamu pernah lihat jalan layang? Itu dibangun menggunakan beton yang sudah didesain dan dicetak, beton itulah salah satu hasil produksi dari perusahaan tempatku bekerja. Walau kerja ‘kantoran’ tapi sesekali aku terjun ke lapangan.

Panas matahari, debu, lumpur sudah bukan jadi masalah lagi dan aku juga bukan orang yang takut kotor dan jadi hitam karna panas. Kalau kamu anak teknik sepertiku atau ingin terjun ke ke dunia ‘perbetonan’ ini, begini perjalanan lengkapku…

Awal tahun 2017 aku mencoba untuk mengembangkan karir dengan mencari lowongan kerja di beberapa perusahaan BUMN dan anak perusahaan BUMN

Ketrima kerja/ Credit: Lutfi Odie via hipwee.com

Ini bukan pekerjaan pertama, tahun 2016 setelah lulus sidang tugas akhir sembari menunggu wisuda aku sudah mendapat kesempatan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Kota Bandung yang bergerak dalam bidang building maintenance selama 1 tahun. Lalu setelah resign, melalui sebuah aplikasi career center aku mendaftarkan diri ke 4 perusahaan berbeda, perusahaan itu PT PLN, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan PT Waskita Beton Precast Tbk.

Tahapan seleksi penerimaan pegawai dari 4 perusahaan itu secara garis besar terdiri dari seleksi administrasi, tes akademis, psikotes, tes kesehatan dan interview. Aku merasa sangat beruntung pada waktu itu mengingat aku lolos seleksi administrasi dan tes akademis pada keempat perusahaan yang aku daftar. Pada tahapan psikotes dikarenakan adanya jadwal tes yang bersamaan dan dilakukan di 2 kota berbeda yaitu Jakarta dan Yogyakarta maka aku hanya bisa melanjutkan seleksi penerimaan pegawai di 2 perusahaan. Percaya rezeki sudah ada yang mengatur, akhirnya aku lolos pada semua tahapan seleksi dan diterima di PT Waskita Beton Precast Tbk.

Aku adalah lulusan teknik sipil, pekerjaanku saat ini cukup linear dengan jurusan saat kuliah yaitu tentang pembangunan infrastruktur

Pabrik/ Credit: Lutfi Odie via waskitaprecast.co.id

Perusahaan tempatku bekerja memang bergerak di bidang industri yang bersinggungan langsung dengan pembangunan infrastruktur, jadi ilmu yang aku dapatkan di bangku kuliah sangat membantu di dunia kerja. Departemenku adalah supply chain management kantor pusat, gambaran secara umum adalah memastikan kelancaran supply bahan baku dan jasa yang diperlukan untuk mendukung kelancaran kegiatan produksi. Sesekali aku terjun langsung ke plant/pabrik dan ke proyek untuk mengecek dan melihat secara langsung kelangsungan produksi maupun progres dari pekerjaan proyek.

Budaya kerja di sini mungkin cukup formal, namanya juga kerja di korporat. Dari jam kerja sampai pakaian semua harus tertib walau kadang agak sulit hehe

Advertisement

Manufaktur/ Credit: Lutfi Odie via hipwee.com

Aku bekerja 5 hari dalam seminggu, mulai hari Senin sampai hari Jumat dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Hari
Senin sampai hari Kamis wajib memakai baju seragam dengan celana bahan warna hitam, untuk celana bahan aku sendiri merasa kurang nyaman saat memakainya jadi aku pakai celana hitam berbahan jin, ini melanggar ketentuan jadi jangan ditiru ya hehe. Hari Kamis diperbolehkan berpakaian kasual dengan atasan kemeja dan hari Jumat memakai atasan batik dengan celana panjang bebas dan bersepatu.

Saat pandemi Corrona dikarenakan adanya proyek yang idle maka proses produksi perusahaan ikut menurun dan sesuai anjuran dan protokol kesehatan yang berlaku diberlakukan shifting kerja 1 hari bekerja di kantor dan 1 hari berkerja di rumah (work from home) secara bergiliran. Sebelum adanya pandemi dan proyek berjalan normal, sangat jarang aku bisa pulang on time, hampir setiap hari harus lembur.

Walau lembur melulu tapi karena tempat kerjaku di Jakarta dengan UKM yang tinggi maka penghasilanku bisa dikatakan lumayan

Bisa dipakai jalan-jalan/ Credit: Lutfi Odie via www.instagram.com

Penghasilan bulanan yang aku dapat dari gaji, uang makan, dan uang lembur udah bisa buat nutup biaya bulanan seperti makan, transportasi, tempat tinggal/kost sama nongkrong dan nonton di weekend bahkan masih bisa disisihin buat nabung dan investasi. Selain itu juga ada uang dinas, uang jasprod, tunjangan hari raya dan lainnya yang juga lumayan buat tambahan tabungan sama investasi. Fasilitas lainnya ada BPJS Ketenagakerjaan, cuti tahunan 12 hari, pengajuan reimburse untuk perawatan kesehatan di rumah sakit sama biaya kacamata. Selain nominal uang, dari kerjaan ini aku juga dapet pengalaman mengunjungi tempat baru, kota baru, sampai pulau baru. Ketemu sama orang-orang penting dan yang menurutku dia keren.

Banyak banget godaan berbau ‘uang’ kalau kita bekerja sebagai tim pengadaan, bisa jadi suap, gratifikasi, bahkan manipulasi harga. Pernah waktu itu aku ditawari ‘oknum’ supplier untuk ‘membantu’ kelancaran kontrak pengadaan material dengan iming-iming nominal rupiah yang menurutku pribadi itu besar nilainya, apalagi untuk anak muda konsumtif sepertiku. Tapi aku juga sadar risiko dibalik itu, selain dosa perbuatan begitu kan juga ada ancaman pidananya, belum lagi kalau rekan kerja kita ada yang tahu. Yakin aja rezeki udah ada yang atur kok.

Kalau kamu emang pengen banget kerja di bidang ini, kamu benar-benar harus bisa kerja di bawah tekanan, kerja tim di mana nggak selalu opini kamu yang dipilih, latihan nahan ego ketika kerjaan yang dikerjain nggak sejalan sama yang diinginkan, tapi dari situ justru kamu bisa dapat ilmu baru, bisa dapat teman baru, bahkan jodoh pun nggak mustahil~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE