Bernard Batubara alias Bara (25) adalah seorang penulis muda produktif yang telah terbukti sukses menggeluti renjananya di bidang tulis menulis. Bukan hanya sukses menerbitkan buku, ia kini juga didapuk menggawangi posisi editor di penerbitan Gagas Media Group. Beberapa karyanya juga telah diadaptasi ke film layar lebar.

Apa sih yang ia lakukan hingga bisa menggeluti renjananya sekaligus meraih kesuksesan? Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari perjalanannya? Hipwee melakukan wawancara langsung dengan Bara dan merangkumnya khusus untuk kamu.

Penulis Muda Berbakat Ini Datang Dari Kota yang Bahkan Tidak Punya Toko Buku

Datang dari kota yang tidak ada toko buku via Dokumenpribadi

Bara sudah menunggu sekitar 10 menit di kedai kopi sebuah mall tempat kami membuat janji temu. Penampilannya sangat santai — hanya mengenakan kaus, jumper dan sepatu sneakers. Bara memulai cerita tentang perjalanan menulisnya dari masa kecilnya di sebuah desa bernama Anjungan, yang berjarak 2 jam dari Pontianak.

“Di Anjungan bahkan nggak ada toko buku. Serius. Aku mengenal buku pertama kali dari perpustakaan keliling punya Departemen Pendidikan. Baru waktu SMP aku tahu toko buku. Saat melihat buku yang masih disegel, lihat nama pengarangnya, aku jadi membayangkan gimana rasanya jadi orang ini.

Mereka yang punya buku sendiri, bukunya dipajang, dilihat banyak orang… Sejak saat itu aku pun berkeinginan untuk bisa seperti mereka. Padahal, cara ngirim buku ke penerbit saja aku nggak tahu.”

Advertisement

Saat SMP-lah Bara mulai mengenal bentuk-bentuk tulisan seperti cerpen dan cerbung. Masa SMP ini pun dilewatinya dengan belajar menulis secara otodidak. Baru ketika ia SMA, Bara mulai mencoba menulis novel pertamanya. Draf novel pertama yang telah ia tulis selama 3 tahun itu akhirnya ditolak oleh penerbit, lewat sebuah surat pemberitahuan yang perlu ia tunggu 6 bulan lamanya.

Demi Bisa Menerbitkan Buku Kumpulan Puisi Pertamanya, Bara Harus Rela Cuma Makan Nasi Dengan Lauk Mie Instan Selama Sebulan

Buku kumpulan puisi yang sempat membuat Bara harus hidup “susah” via ibgwiraga.com

Tahun 2007 adalah titik penting bagi Bara. Di tahun inilah ia hijrah ke kota Jogja demi kuliah, dan memutuskan untuk serius menggeluti dunia tulis menulis. Bulatnya tekad Bara tidak bisa dilepaskan dari pertemuannya dengan Teguh Setiawan Pinang, seorang penulis sajak asal Jogja yang ia kenal melalui situs kemudian.com:

“Dulu aku aktif di situs kemudian.com. Di sana aku bisa mengunggah puisi-puisiku, untuk kemudian mendapatkan tanggapan dan penilaian dari orang lain. Nah, T.S (Teguh Setiawan – red) Pinang ini adalah orang yang selalu memberikan nilai 0 buat semua puisiku. Penasaran ‘kan, akhirnya aku cari tahu siapa dia.

Suatu hari, pas aku beli koran Minggu aku lihat namanya di rubrik puisi. Shit! Ternyata puisinya bagus banget! Akhirnya aku tahu kalau dia juga tinggal di Jogja. Akhirnya kami ngobrol lewat Yahoo Messenger. Dialah yang membukakan banyak pintu buatku, khususnya di dunia puisi.”

T.S Pinang (tengah) kritikus keras yang membuat Bara makin giat menulis via www.flickr.com

Perkenalan dengan T.S Pinang membuat Bara makin giat menekuni hobinya menulis puisi. Pada tahun 2010, Bara akhirnya menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya yang diberi judul “Angsa-Angsa Ketapang.” Mencetak buku ini secara indie sempat membuat Bara harus hidup susah.

“Dulu aku cuma punya uang saku 1,2 juta per bulan. Sebagian aku pakai untuk mencetak buku sebanyak 75 eksemplar. Karena mencetak buku ini aku cuma makan mie dan nasi selama sebulan.

Buku itu aku bagikan gratis ke orang-orang yang aku kenal. Ya namanya penulis baru ya, belum mikirin duit.”

Hingga saat ini Bara sudah menghasilkan 6 buku. Hampir semua buku yang ditulisnya masuk kategori best-seller. Ia juga termasuk penulis yang produktif. Hampir tiap tahun, Bara tidak pernah absen menerbitkan karya.

“Apa Penulis Bisa Hidup Cuma Dari Menulis? Bisa Banget!”

Penulis bisa kok hidup cuma dari menulis via denygunawans15.blogspot.com

Bagi sebagian orang, menulis bukanlah pekerjaan yang menjanjikan bagi masa depan. Memilih untuk melakoni profesi sebagai seorang penulis sering dipandang sebelah mata, sebab pekerjaan ini dianggap tidak bisa menghasilkan banyak uang. Pertanyaan klise ini saya ajukan juga ke Bara. Ia menjawabnya dengan sangat bersemangat.

“Bisa! Bisa banget! Kalau kamu mau hidup dari menulis, kamu harus sadar kalau pekerjaan menulis itu cakupannya sangat luas. Gak cuma buku — kamu bisa menulis skenario atau jadi copywriter di agensi periklanan. Semua itu pekerjaan penulis ‘kan?

Kalau mau cuma hidup dari menulis buku juga bisa. Intinya, kalau seseorang mau hidup cuma dari menulis maka dia harus memperlakukan menulis sebagai profesi. Nggak bisa cuma sekedar buka laptop-ketik-udah. Kalau mau hidup dari menulis ya harus profesional. Gimana caranya? Kamu harus konsisten berkarya, mempelajari pasar, belajar promosi, hingga belajar self-branding.

Hingga saat ini, Bara sudah menerbitkan satu kumpulan buku puisi, dua kumpulan cerpen (“Radio Galau FM” dan “Milana”), serta tiga novel (“Kata Hati”, “Cinta”, dan “Surat Untuk Ruth”). Itu saja sudah membuktikan bahwa dia bisa hidup dari menulis.

Namun Bara mengakui bahwa ia belum memilih sepenuhnya menggantungkan hidup pada profesi novelis dan cerpenis. Usianya yang masih muda membuatnya ingin terus mencoba-coba. “Aku terpikir ingin menjadi sutradara,” katanya. Adaptasi novel-novelnya ke layar lebar memang membuatnya lebih bisa mengenal dunia tersebut.

Tips Dari Bara Buat Anak Muda yang Masih Gatal Ingin Menggeluti Renjananya:

1. Mau Tahu Apa Passion-mu? Teliti Hal Apa yang Paling Tidak Bisa Kamu Tinggalkan Dalam Hidup

Selain menulis, Bara juga giat ikut kegiatan pembacaan puisi via www.bisikanbusuk.com

Sebelum memutuskan menggeluti sesuatu, pastikan dulu jika hal tersebut memang merupakan renjana yang menjadi panggilan terdalammu. Bara telah membuktikan keampuhan secara tekun menggeluti renjana dalam perjalanan karir menulisnya. Ketika ditanya bagaimana seseorang bisa tahu apa yang menjadi renjana mereka, Bara menjelaskan dengan sederhana:

Passion itu sesuatu yang bikin senang. Setiap kamu melakukan hal itu, hatimu pasti gembira. Kalau kamu dilarang ngelakuin itu, mending kamu nggak usah hidup, deh!”

2.  Kalau Kamu Suka Sesuatu, Gali Pemahaman Tentang Hal Itu Sedalam Mungkin

Banyak membaca jadi cara Bara memperluas pengetahuannya soal menulis via twitter.com

Keseriusan seseorang menggali renjananya bisa dilihat dari upaya orang tersebut untuk menambah pengetahuan. Saat kamu merasa tertarik di suatu bidang, tantang dirimu untuk terus memperdalam ilmu. Jangan merasa cepat puas. Selalu paksa dirimu untuk mencari tahu lebih banyak lagi.

Bara membuktikan ini lewat usahanya mencari tahu siapa itu T. S. Pinang. Hingga hari ini Bara pun masih terus berusaha memperkaya dirinya dengan pengetahuan baru. Di blog pribadinya, Bara banyak membongkar plot dari buku yang ia baca. Ia juga mengaku banyak mengambil ilmu tentang membentuk plot cerita dari berbagai film yang ia tonton.

Bahkan saat kami bertemu, di sisi meja tempatnya duduk bertengger manis Kafka on the Shore karangan Haruki Murakami, salah satu penulis favorit Bara.

3. Menjadi Idealis Bukan Berarti Kamu Gak Bisa Komersil

Jadi idealis bukan berarti kamu gak bisa komersil via twitter.com

Saya sempat menanyakan kenapa novel dan buku kumpulan puisi Bara terasa jauh sekali berbeda.Dalam novel-novelnya Bara lebih banyak bermain di cerita romantis khas remaja, sementara puisi-puisinya terasa lebih kritis dan tidak jarang mengangkat permasalahan sosial. Apakah dalam novelnya Bara berusaha mengikuti selera pasar, sehingga ia meninggalkan gaya menulisnya yang terasa lebih “matang” dan “berisi”?

Contohnya saja di puisi berjudul “Menyapa” yang ia bacakan pada Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) lalu:

“apa kabar? / masa remaja lahir lewat layar sentuh // kata-kata hanya bit-bit digital, mudah dihapus dan disesuaikan / orang-orang semakin akrab dengan kepalsuan dan hal-hal semu // “

Bara menjawab pertanyaan ini dengan lugas,

“Aku gak sepakat ketika orang-orang memisahkan idealisme dan menjadi komersil. Padahal 2 hal itu sangat bisa digabungkan. Dengan menjadi idealis, kita juga bisa jadi komersil kok! Saat berusaha menuruti keinginan pasar, kita masih bisa memasukkan idealisme.

Contohnya, di novel ‘Syarif dan Nur’ yang sekarang masih sedang dalam proses editing, aku menggunakan “bungkus” fiksi romantis yang bisa diterima remaja. Tapi bukan berarti aku kehilangan idealisme. Justru aku memasukkan isu pembakaran hutan dan pembalakan liar yang jadi problem utama orang-orang di Pontianak. Bukunya sih teenlit, tapi disitu aku tetap punya ‘agenda’.”

4. Cara Terbaik Meyakinkan Orang Tua Adalah Lewat Karya yang Kamu Hasilkan

Membuktikan diri lewat karya-karyanya via twitter.com

Bara mengaku beruntung memiliki orang tua yang sangat membebaskan anak-anaknya. Sejak lahir sampai sekarang Bara mengatakan orang tuanya tidak pernah berkata “jangan!” pada pilihan-pilihan yang dia ambil. Namun, mereka tetap mengarahkan Bara ke arah yang mereka harapkan:

“Papaku sebenarnya pengen aku jadi Polisi. Sementara Mama menyarankan aku jadi PNS. Untunglah di tahun 2011 ‘Radio Galau FM’ terbit, diterima pasar dengan baik, hingga difilmkan. Saat itu aku bilang ke orang tua, ‘Abang gak mau jadi polisi. Masih mau nulis.’ Ya karena karyaku ada, terlihat, dan dilihat banyak orang — orang tuaku percaya kalau aku gak main-main.”

5. Walau Jurusan Kuliahmu “Gak Nyambung”, Jangan Pernah Merasa Waktu Belajarmu Sia-Sia

Tidak merasa jurusan kuliahnya sia-sia via twitter.com

Bara tidak pernah mengenyam pendidikan menulis secara formal di bangku kuliah. Latar belakangnya pendidikannya justru Teknik Informatika. Tapi Bara percaya bahwa jalannya menjadi penulis tidak akan terbuka jika dia tidak pernah kuliah di jurusan IT.

“Kalau gak kuliah di IT, mungkin aku gak kenal sama kemudian.com, gak pernah ketemu T.S Pinang, dan gak pernah kenalan sama dunia menulis puisi. Aku rasa jalannya memang harus lewat IT.”

Walau tidak semuanya, ilmu yang didapatnya di bangku kuliah masih tetap bermanfaat sampai sekarang. Ia bisa menciptakan tampilan blog yang menarik juga karena ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah.

6. Musuh Terbesar Kita Dalam Mengejar Passion Sebenarnya Adalah Diri Sendiri

Musuh terbesar mengejar passion adalah diri sendir via icity.indosat.com

Menurut Bara, tantangan terbesar dalam mengejar passion justru bukan datang dari orang lain, melainkan diri sendiri. Ia pun mengamini hal ini dalam pengalamannya berkecimpung di dunia menulis. Terkadang Bara merasakan keengganan yang saat kuat saat harus membuka laptop dan mulai menulis.

“Iya, terkadang harus memaksa diri sendiri. Sadar aja kalau dalam diri kita itu ada orang lain. Orang lain inilah yang bisa bikin kamu marah, gak fokus, dan pengen ngelakuin hal lain. Kamu harus bisa melawan dia dan memaksa dirimu buat melakukan kewajiban. Aku sering banget bilang sama diri sendiri, ‘Tulis lah, Man, tulis!’

Selain itu, kamu juga bisa menetapkan deadline. Dengan ini, kamu jadi tahu apa aja yang harus dilakukan agar deadline-nya nggak meleset.”

7. Buat Anak Muda yang Merasa Passion-nya Menulis, Ketahuilah Kalau Menulis Itu Seperti Maraton

Menulis itu seperti lari maraton via twitter.com

Pertandingan lari maraton adalah perumpamaan yang digunakan Bara untuk menggambarkan proses seorang penulis dalam menghasilkan karya.

“Kayak Murakami bilang, nulis itu gak bisa buru-buru kayak lari sprint. Tapi gak bisa kelamaan juga. Harus steady, butuh stamina dan daya tahan yang besar. Seorang penulis gak bisa menggebu-gebu di awal, dia harus menjaga energinya hingga akhir biar karyanya bisa selesai.

Menulis itu jalan yang sangat panjang. Kamu harus tertatih-tatih, sempoyongan, kecapekan, berdarah-darah nyari ide, mempertahankan momentum, dikejar deadline, dihambat pekerjaan dan urusan lain. Tapi kalau kamu emang mau, kamu akan bisa melewati semua itu dengan rasa senang. Kalau dipikir-pikir, penulis itu masokis kali ya?”

8. Kalau Kamu Mau Sukses, Move On! Stop Mengenang Kejayaan Masa Lalu

Hiduplah di masa sekarang, jangan mengenang kejayaan masa lalu via twitter.com

Menjelang akhir percakapan kami, saya menanyakan apa kiatnya agar bisa bertahan dalam dunia penulisan yang makin riuh dengan penulis pendatang baru. Bara pun mengamini ketatnya persaingan di dunia yang digelutinya ini. Setiap saat ada penulis baru yang datang, tema tulisan mereka pun bisa senada dengan tema yang Bara tulis.

“Intinya sih jangan merasa cukup. Buat dirimu tidak cepat puas. Jangan juga mengenang kesuksesan yang sudah lewat. Penyakit orang baru sukses ‘kan gitu, ketika lagi redup suka mengenang keberhasilannya yang udah lewat.

Untungnya aku cepat move on dalam hal karya. Daripada mengenang aku pernah nulis apa dulu, di otak lebih sering kepikiran apa buku selanjutnya yang bisa kutulis.”

Percakapan kami malam itu masih menyisakan gaungnya hingga hari ini. Sosok Bara sebagai penulis muda yang sangat passionate terhadap hal yang digelutinya memang kuat terasa. Menyitir pendapat T.S Pinang tentang Bara di Angsa-Angsa Ketapang, “Penyair Bernard Batubara menunjukkan kesungguhannya sebagai seorang penempuh. Ia belajar dari banyak sumber, minum dari banyak sumur, guna mencari tubuh dan jiwa sajak-sajaknya sendiri. Sebuah pencarian yang takkan singkat, tetapi tampaknya Bernard telah menetapkan niatnya.”

Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga sudah menemukan niat untuk bisa mengikuti kesuksesannya?