Kisah Karierku Jadi Fotografer Kelahiran. Standby 24/7 Menangkap Momen Pertama si Kecil di Dunia

birth photographer indonesia

*Disclaimer: Ini adalah hasil wawancara penulis dengan narasumber, ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Semua datanya riil, tapi demi kenyamanan beberapa data yang bersifat privat tidak akan kami publikasikan.*

Advertisement

Halo, perkenalkan namaku Rizka Amalia Windriani dan biasa dipanggil Amel. Sekarang usiaku 25 tahun, dan aku berprofesi sebagai seorang birth photographer untuk Bukaan Moment area Yogyakarta. Sebelumnya aku pernah kerja di salah satu butik di Jogja sebagai admin media sosial dan juga fotografer produk. Jadi, dulu waktu SMP aku dibelikan kamera DSLR sama papaku sebagai kado ulang tahun, dari situ aku jadi suka motret apapun yang ada di sekitarku. Pertama cuma upload ke Friendster dan Facebook pada saat itu, ternyata banyak teman yang lihat dan kepengin difotoin.

Aku nggak pernah menyangka kalau bidang ini bakal diseriusin sampai sekarang, karena dulu motoin orang pun nggak pernah dibayar, paling cuma ditraktir makan atau dibayarin uang bensin aja. Itu baru awalnya, yuk simak kisah pengalamanku sebagai fotografer kelahiran atau birth photographer berikut ini!

Pekerjaanku di bidang birth photography mungkin tak begitu sesuai dengan jurusan, tapi ilmunya sangat relevan. Pun, pilihanku jadi fotografer karena jumlah perempuan di bidang ini masih sedikit

On duty/ Credit: Rizka Amalia W via hipwee.com

Aku kuliah di UIN Sunan Kalijaga, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Kalau diliat dari jurusan kan sebenernya kaya nggak nyambung gitu ya. Padahal sebenarnya aku ambil konsentrasi Broadcasting, jadi yang aku pelajari di kampus malah banyak tentang dunia penyiaran, baik di depan maupun di belakang layar termasuk belajar jadi kameramen, sutradara, produser, tim lighting bahkan sampai ke belajar editing dan produksi secara keseluruhan. Di pekerjaanku sekarang, aku pun melakukan semua sendiri mulai dari shooting gambar hingga editing. Jadi, rasanya sangat relevan dengan teori dan ilmu yang aku pelajari selama kuliah.

Advertisement

Keputusanku untuk menjadi seorang fotografer adalah karena fotografer cewek di Indonesia jumlahnya kalah sama fotografer cowok, ditambah lagi fotografer lahiran cewek itu lebih jarang ada. Aku sebagai seorang perempuan jadi merasa tergerak. Masa iya cuma sedikit perempuan yang serius bergelut di bidang ini? Aku sendiri juga pernah melewati proses melahirkan, aku merasa ini adalah proses yang sakral dan sangat menunjukkan kalau perempuan itu kuat dan berdaya. Jika hanya jadi fotografer biasa, rasanya kurang kuat message untuk menyampaikan pesan itu. Makanya, aku tertarik buat gabung di Bukaan Moment karena lewat karyaku aku bisa empowering women dengan cara yang lebih menarik dan bisa diterima masyarakat.

Banyak tantangan dan berbagai pengalaman bekerja di bidang ini. Bahkan kadang-kadang bikin ikutan was-was

Ikut was-was/ Credit: Rizka Amalia W via hipwee.com

Jujur nggak gampang buat jadi birth photographer, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga yang bekerja. Jadi fotografer lahiran itu nggak kenal waktu. Mau pagi, siang, malam, subuh, hujan maupun panas, weekend maupun weekdays pokoknya harus selalu stand by ketika dipanggil sewaktu-waktu. Belum lagi kalau saat sudah tiba di rumah sakit, masih harus sabar menanti bukaan demi bukaan hingga bayinya lahir. Bisa menjaga emosi dan menjaga mood di jam berapapun di hari apapun dalam kondisi bagaimanapun itu yang berat.

Bahkan ada juga cerita saat harus menginap di RS. Jadi, waktu itu aku dikabari kalau sudah bukaan 4 sekitar jam 12 malam, ternyata untuk sampai ke bukaan 10 itu lumayan lama. Jam 4 subuh aku udah ngantuk buanget, ditawari buat tidur dulu di kamar sama ibunya klien. Beliau juga baik banget,ngasih makanan, minuman, selimut segala macam. Tapi karena aku juga nggak tenang, was-was, jadi cuma tidur ayam. Nggak mungkin pulang dulu karena jarak dari rumah ke RS di Bantul itu sekitar 1 jam. Sampai akhirnya bayinya lahir sekitar jam 10 pagi, aku baru pulang sampai rumah jam 1 siang. Jadi 12 jam lebih ada di RS, teman-teman lain di Bukaan Moment bahkan ada yang sampai lebih lama lagi daripada itu!

Advertisement

Menjadi orang asing yang masuk ke ruangan dan menjadi saksi momen ‘bersejarah’ merupakan hal yang aku syukuri

Hari bersejarah/ Credit: Rizka Amalia W via hipwee.com

Walaupun bukan keluarga, teman, bahkan kenal sebelumnya pun nggak sama sekali, mereka mau menerima orang asing untuk hadir ditengah hiruk-pikuk ini. Bisa ketemu sama berbagai macam karakter manusia melalui Keluarga Bukaan, semua selalu menerimaku dengan baik tanpa terkecuali. Ditambah lagi dengan semua itu, aku bisa menghasilkan uang untuk menjalani hobi dan passion-ku secara profesional. Siapa yang nggak suka? 😁

Kalau dukanya, ketika kehilangan momen. Pertama, momen lahiran kadang begitu cepat, jadi waktu aku sampai RS bayinya udah keburu lahir dan nggak sempat mengabadikan momen sebelumnya. Kalau itu, ya sudah di luar kuasaku, mau gimana lagi.

Membuat hobi menjadi pekerjaan saja sudah menyenangkan, apalagi kalau bisa menghasilkan uang. Akan tetapi, jumlahnya tak bisa dipastikan

Hobi jadi cuan/ Credit: Rizka Amalia W via hipwee.com

Tak ada jawaban pasti akan berapa banyak project dalam satu bulan. Banyak yang melenceng jauh dari hari perkiraan lahir (HPL) yang misal harusnya bulan Oktober tapi ternyata maju jadi September. Tapi, rata-rata dalam 1 bulan bisa 2 sampai 3 lahiran, kalau pas ramai ya bisa 6 lahiran dalam 1 bulan, tapi ini khusus untuk Jogja. Kalau di Jakarta bisa lebih banyak lagi. Nah, untuk harganya kalau pricelist dari Bukaan Moment, paket dokumentasinya mulai dari 4 jutaan.

Menurutku dengan perkembangan zaman dan juga makin banyaknya millennial parents saat ini, birth photographer adalah karier yang cukup menjanjikan. Harapannya ya semakin banyak orang tua yang sadar betapa pentingnya mengabadikan momen sekali seumur hidup yang terjadi, nggak bakal bisa keulang lagi. Dengan semakin tinggi tingkat kesadarannya, maka akan semakin banyak juga fotografer perempuan di Indonesia yang diberdayakan. Pastinya aku pun akan semakin menua, tim Bukaan Moment juga akan mengalami regenerasi nantinya. Kalau aku sih ya harapannya karier ini bisa bertahan lama, bisa lebih banyak lagi berkarya dan bantu orang tua untuk bikin hadiah terindah buat anak mereka kelak.

“We have to feel the moment, own it, and deliver it with love.”

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE