Cerita Pengalamanku Sebagai Reporter TV Swasta. Asam Manisnya Tak Tampak Depan Kamera~

pengalaman reporter metro tv

*Disclaimer: Ini adalah hasil wawancara penulis dengan narasumber, ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Semua datanya riil, tapi demi kenyamanan beberapa data yang bersifat privat tidak akan kami publikasikan.*

Advertisement

Hai, namaku Naufal Noorosa! Kini usiaku 25 tahun. Kalau kamu suka nonton berita, kamu mungkin pernah sekelibat melihat wajahku di televisi saat liputan daerah Jawa Tengah atau Yogyakarta hehe… Ini memasuki tahun ketiga aku melanglang ke sana-kemari untuk meliput peristiwa dan menyajikannya kepada kepada pemirsa. Sementara mungkin kamu duduk santai menikmati kabar yang tersajikan, bisa jadi aku sudah melewati banjir, menerjang kerumunan masa dan bergadang demi kabar yang masih segar. 

Terjun ke dunia media lebih tepatnya televisi sudah menjadi rencana bahkan saat aku kuliah dulu. Kini semua menjadi nyata sepaket dengan enak dan asem-asemnya. Tapi pekerjaan ini bukan pekerjaan biasa melainkan juga satu hal yang penuh tantangan, begini petualanganku…

Setelah lulus dan wisuda seperti mahasiswa pada umumnya aku mendaftar ke sana-kemari, paling klik ya dengan yang satu ini

Liputan/ Credit: Naufal Noorosa via www.instagram.com

Informasi tentang lowongan pekerjaan ini justru datang pertama kali dari orang tua, setelah mengecek ke website recruitment ternyata benar adanya. Karena jodoh nggak kemana, setelah ikut recruitment di tiga tempat berbeda akhirnya aku diterima salah satu televisi swasta yang cukup ternama, Metro TV. Walaupun sebelumnya sudah pernah menyicipi dunia kerja namun ini adalah pekerjaan profesional pertamaku.

Advertisement

Nggak ada kualifikasi spesifik saat daftar lowongan ini. Nggak ada harus jurusan ini atau prodi itu karena sebenarnya pekerjaan ini juga nggak terlalu linear dengan jurusan kuliahku. Oh iya, aku lulus dari jurusan Bahasa Inggris, ilmunya tetap berguna untuk pembuatan naskah dan terjemahan wawancara. Tapi, yang perlu diingat bahwa saat bekerja di bidang ini kemampuan untuk kerja di bawah tekanan adalah wajib hukumnya, selain itu kemampuan bekerja dalam tim maupun individu juga harus dimiliki.

Mungkin kamu kepo, apa iya gaji menjadi seorang reporter tak sebanding dengan pekerjaannya? Tergantung bagaimana kamu memaknainya

Cukup buat kencan/ Credit: Naufal Noorosa via www.instagram.com

Pekerjaan yang dilakukan dengan senang hati sudah menjadi kesenangan tersendiri. Akan tetapi, mungkin kamu skeptis karena UMP dua provinsi tempatku mengais rezeki terbilang kecil dibanding provinsi yang lain. Syukurnya, yang aku dapatkan cukup melampaui UMP dua daerah tersebut. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari termasuk kos, makan, dan bensin, juga untuk membeli pakaian dan pegangan untuk berkencan, bahkan masih ada sisa juga untuk tabungan. Walau harus kerja keras bagai kuda, jatah cuti juga tetap ada. Pun dengan berbagai bonus dan uang dinas saat harus ke luar kota, uang makan, uang komunikasi, asuransi, jaminan kesehatan, dan tentunya tunjangan hari raya.

Mulai dari ketemu tokoh ternama hingga jalan-jalan ke berbagai lokasi, mulai dari nunggu narasumber hingga liputan mendadak semua sudah dijalani

Advertisement

Akrab sama Pak Ganjar/ Credit: Naufal Noorosa via www.instagram.com

Selain bisa bilang “Mak, anakmu masuk TV!” ada kesenangan lain menjalani pekerjaan ini seperti menemui berbagai tokoh dari presiden sampai bupati, mengenal mereka lebih dalam bahkan nggak menutup kemungkinan sampai ke keluarganya. Informasi seperti kunjungan kenegaraan juga bisa kita tahu lebih awal. Bonus lainnya jalan-jalan ke lokasi hiburan hingga ke antah berantah, makanya disebut petualangan! Hingga bertemu banyak sekali relasi dengan latar belakang yang berbeda. Pokoknya baik-baiklah ke narasumber karena bisa jadi mereka yang memegang ‘kunci jawaban’ dari informasi yang dibutuhkan.

Akan tetapi, jangan lupakan juga pahit-pahitnya! Berita bisa muncul kapan saja makanya akhir pekan atau hari besar kalau ada jadwal ya artinya harus ngantor, yang mana otomatis waktu untuk kekasih dan keluarga jadi berkurang. Kendala teknis juga mungkin sekali terjadi di mana liputan jadi kurang maksimal. Kadangkala, narasumber yang sudah ditunggu-tunggu justru malah buru-buru karena ada kegiatan lain. Terakhir, bayangkan saja sedang enak-enak mau istirahat eh tahu-tahu ada peristiwa.

Berada di depan kamera mungkin sebuah kebanggaan tersendiri tapi kalau kurang persiapan bisa grogi!

Harus tenang/ Credit: Naufal Noorosa via www.instagram.com

Pekerjaan ini bukan hanya membutuhkan skill untuk mencari berita tapi juga menyampaikannya, latihan adalah hal yang wajib dilakukan. Materi perlu dipersiapkan dan dikuasai sehingga sudah tenang saat kamera ready. Walau liputan bisa dilihat melalui pandangan mata, mencari infromasi terkait dan melakukan wawancara serta mencatat poin yang penting perlu dilakukan. Tapi reporter juga manusia, tempatnya salah dan kadang lupa. Jadi, improvisasi dibutuhkan juga. Setelahnya jangan lupa untuk ditonton kembali agar bisa review. Yang paling penting di atas semuanya, menjadi reporter artinya harus menjaga mood apapun kondisinya saat di lapangan, kuasai diri dan cepat beradaptasi dengan medan.

Kalau ada yang bilang pekerjaan menjadi seorang reporter adalah untuk mereka yang menyukai tantangan, hal ini bisa jadi benar adanya. Kalau ada yang bilang hanya untuk eksis saja di media sosial, aduh mendingan jadi selebgram aja! 🙂

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE