Enam bulan sampai satu tahun adalah waktu yang masuk akal untuk mempersiapkan pernikahan. Dalam jangka waktu itu kamu dan pasangan bisa cukup cermat memperhitungkan pengeluaran. Perlahan kamu dan dia bisa belajar menyisihkan uang untuk keperluan hidup pasca menikah yang tidak sedikit.

Bukan cuma soal menyisihkan uang saja, jangka waktu setengah sampai satu tahun juga pas untuk menyesuaikan diri dengan berbagai kompromi. Bukankah menikah adalah proses menyatukan 2 kepala yang tidak akan berhenti? Kompromi keuangan macam apa sih yang harus dipelajari?

Jika kamu berencana menikah di 2017 nanti, mulai sekarang biasakan diri dengan kompromi keuangan ini. Biar kehidupan pernikahanmu mulus 🙂

1. Penghasilanmu akan bergeser jadi penghasilan ‘Kita.’ Harus ikhlas nggak beli tas atau sepatu demi printilan rumah

Kamu mesti ikhlas penghasilanmu jadi penghasilan ‘Kita’ (Via Shutterstock) via www.shutterstock.com

Sebelum mengatakan, “Saya terima nikahnya‘ semua kerja keras dan penghasilan bisa kamu nikmati sendiri. Saat tanggal gajian tiba kamu bisa dengan bebas mengatur akan beli apa, mau menghabiskan uang untuk senang-senang macam apa.

Advertisement

Selepas menikah nanti ada satu kompromi yang mutlak harus dijalani. Penghasilan dan apapun yang didapatkan bergeser dari hasil Saya menjadi hasil Kita. Harus ikhlas uang lembur dan bonus dibelikan microwave untuk bikin sarapan lebih praktis, walaupun dalam hati lebih ingin beli tas :”)

2. Beli sesuatu sudah tidak sederhana. Kamu mesti berpikir, ‘Apa ini aman untuk keluarga? Memberatkan nggak ya?’

Ini memberatkan nggak ya? (Via Shutterstock) via www.shutterstock.com

Membeli tas, baju atau buku yang sudah kamu idamkan tidak lagi sesederhana dulu. Setiap mau beli sesuatu kamu mesti berpikir,

Hmmm…ini oke nggak ya buat pengeluaran keluarga? 

Dia keberatan nggak ya kalau penghasilannya dipakai untuk ini?

Dari sekarang kamu bisa melakukan simulasi untuk keadaan macam ini. Setiap ingin beli sesuatu coba tanyakan ke pasanganmu apa yang dia pikirkkan. Apakah keputusanmu membelanjakan uang membuatnya nyaman? Atau dia malah keberatan?

3. ‘Nggak apa. Demi kewarasannya…’ Prinsip ini mesti dipegang setiap pasangan mau jajan sesuatu yang nggak begitu penting

Ya udah nggak papa. Demi kewarasannya (Via Shutterstock) via www.shutterstock.com

Akan ada masa pasanganmu ingin beli gundam cuma karena dia ingin saja. Kali lain dia ingin membeli protein shaker yang sebenarnya kamu juga ragukan keabsahannya. Kamu sudah lebih dari tahu kalau pasanganmu ini gampang bosan dan tidak konsisten dalam soal olahraga.

Sebelum menikah prinsip mengiyakan demi kewarasan pasangan tetap harus dijaga. Bukan karena apa-apa. Kamu menjalin hubungan bukan dengan robot yang tidak punya perasaan. Sesekali agak kendor demi kewarasan bersama akan menyelamatkan.

4. Lapangkan hati demi berbagai pengeluaran tak terduga. Mulai biaya kondangan sampai biaya sosial keluarga

Mulai biaya kondangan sampai biaya keluarga. Harus ikhlas! (Via Shutterstock) via www.shutterstock.com

Selepas menikah nanti hidup bukan cuma soal kalian berdua. Akan banyak pengeluaran tidak terduga. Mulai biaya kondangan, sumbangan untuk keluarga yang sakit, sampai pengeluaran untuk mengadakan arisan di rumah.

Mumpung masih ada waktu barang 6 bulan sampai setahun, lapangkan hati untuk berkompromi bahwa hidup bukan cuma soal kamu dan dia saja. Sisihkan 20% penghasilanmu tiap bulan ke dalam tabungan bersama yang bisa dipakai untuk biaya tak terduga ke depan nantinya.

5. Kehidupan keluarga butuh selera humor tinggi. Coba belajar tertawa saat keuangan sedang mepet sekali

Tertawakan situasi saat kondisi mepet sekali (Via Shutterstock) via www.shutterstock.com

Beberapa orang berpikir kehidupan rumah tangga harus dihadapi dengan serius karena banyak masalah yang bisa muncul di depan mata. Tapi sebenarnya saat sudah menjalaninya, kewarasanmu akan ditentukan oleh selera humormu. Saat kondisi keuangan sedang mepet sekali kamu punya pilihan untuk meratapi keadaan atau malah menghadapinya dengan tertawa.

“Hehe. Duit kita cuma cukup sampai tanggal 25 ya Yang? Ya udah 5 hari sisanya diirit-irit ya. Kayak Kariage Kun hematnya :))”

Toh tertawa nggak tertawa duitnya tetap mepet kan? Mending dibawa ketawa dulu lalu dihadapi dengan pikiran santai…

6. Ganti pertanyaan, “Kok gini sih?” dengan “Menurutmu enaknya gimana?” setiap ada krisis kecil keuangan

Menurutmu enaknya gimana? (Via Shutterstock) via www.shutterstock.com

Akan ada masa kamu dihadapkan pada situasi sulit menyangkut urusan keuangan. Entah karena pasanganmu careless soal mengatur uang sampai karena pengeluaran tidak terduga yang memang tak bisa diperkirakan.

Di saat-saat seperti ini godaan untuk menyudutkan pasangan sering muncul di kepala. Kamu bisa mencecarnya dengan tudingan, ‘Kok gini sih? Kok bisa sih?’ atau memilih mengganti pertanyaan yang lebih konstruktif seperti, ‘Menurutmu kita harus gimana?’ demi membuka perbincangan.

7. Rayakan pencapaian-pencapaian kecil dengan kecup dan pelukan. Kalian itu partner yang harus sering bersulang!

Kalian harus sering merayakan pencapaian (Via Shutterstock) via www.shutterstock.com

Kalian bukan mesin penghasil uang yang berkewajiban menyetorkan penghasilan tiap bulannya ke rekening bersama. Hubungan ini adalah hubungan yang berawal dari kuatnya rasa, kemudian berujung ke kesepakatan untuk hidup bersama. Semestinya perayaan selalu ada dalam tiap langkahnya.

Saat berhasil membeli satu set piring baru yang harganya ratusan ribu, atau berhasil menyisihkan uang 1 juta untuk ditabung bulan itu — rayakan pencapaian dengan kecup dan pelukan. Bersulang untuk keberhasilan kalian!

Kehidupan selepas menikah nanti adalah kehidupan penuh kompromi. Jika sudah menguasai 7 kompromi ini, nafasmu akan lebih tenang selepas berkeluarga nanti.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!