Setiap tempat memiliki cerita. Mungkin itulah yang ada di benak beberapa musisi Indonesia macam Kla Project, Slank, hingga Mocca yang sempat menulis lagu tentang sebuah kota. Hal ini bisa jadi pula karena adanya faktor kedekatan musisi terhadap kota tertentu, sehingga mereka pun begitu dalam menuliskan liriknya. Siapapun juga pasti sepakat dong kalau lagu merupakan bahasa paling universal untuk menceritakan berbagai keadaan. Kamu yang sedang traveling ke beberapa kota berikut, nggak afdol kalau nggak sambil dengerin lagu tentangnya. Ati-ati baper, inget mantan entar. Ciyeeee….

1. Lagu ‘Yogyakarta’ ini begitu monumental. Mendengarkannya di bawah langit Jogja, dijamin bikin kamu ingat dia yang tersayang

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Bakal lebih ‘sahih’ kalau kamu menyanyikannya diiringi musisi jalanan kawasan Malioboro, sambil menikmati segelas kopi jos atau kopi arang. Lagu ini menyiratkan pesan tentang keindahan yang diciptakan kota Yogyakarta, bersama dengan orang tersayang. Ya, kisah tentang seseorang yang memiliki timbunan kenangan bersama orang yang dia sayangi. Karena kenangan itulah, dia selalu ingin untuk kembali ‘pulang’ ke Jogja. Kota yang mempunyai ke’khas’an tersendiri dan selalu mampu menghadirkan senyum abadi. Kamu sepakat?

2. Indonesia memang identik dengan Jogja dan Bali. Kalau Jogja bikin kamu ingat Kla Project, Indahnya Bali sudah membuatmu merujuk pada Slank belum?

Terima kasih Baliku untuk budaya dan alammu
Terima kasih untuk cantik gadismu
Dan kerasnya arak Balimu

Sama halnya dengan Yogyakarya, lagu ini menceritakan betapa indahnya alam yang dimiliki Bali. Alangkah eloknya sunset di pantai Kuta, merdunya gemuruh ombak di tepi lautan. Bali memang se-menyenangkan itu. Tak hanya ‘lukisan’ alamnya saja, budaya Bali seperti tarian yang ditarikan gadis-gadis cantik dapat membuat siapapun tak ingin beranjak dari Pulau Dewata itu. Jadi, kapan kamu kesana?

3. Bersahabatnya kota Bandung juga telah tergambar dalam alunan lagu nan merdu. Bukan hanya ‘Halo-Halo Bandung’ saja, kali ini ada ‘Bandung’ yang dibawakan oleh Mocca

Advertisement

There’s a little city
Covered with hills and pleasant weather
Come on baby i’ll show you around

Single kedua Mocca dari album Home ini menceritakan mengenai keindahan dan kenyamanan kota Bandung. Bandung, bagi mereka, bukan sekadar kota yang membesarkan karir bermusik saja. Namun, kota Kembang ini merupakan cinta dan inspirasi. Karena di kota inilah Mocca meniti karir dari panggung-panggung kecil, hingga kini sudah dikenal di mancanegara. Kalau Bandung punya tempat istimewa di hati para personil Mocca, apa iya kamu juga?

4. Betapapun buruk dan kacaunya Jakarta, ia masih beruntung. Sebab, banyak seniman yang memperlakukan kota tersebut sebagai inspirasi berkarya. Masa iya kamu nggap percaya?

Sepasang muda – mudi
Dengan sedan mewahnya
Perlahan lewati Mahakam
Mal Pondok Indah yang slalu dituju
Mengukur batas – batas kejayaan

Ada berbagai sudut pandang yang digunakan oleh para penulis lirik mengenai Jakarta. Salah satu yang terbaik ialah lagi berjudul ‘Selatan Jakarta’ milik Dewa 19. Lagu ini tepat kamu dengarkan kalau hendak mengingat atau membayangkan seperti apa Jakarta Selatan pada dekade 90’an. ‘Selatan Jakarta’ menyusuri berbagai kawasan pergaulan; Mahakam, Mal Pondok Indah, hingga Kemang. Untuk apa? Seperti dilantunkan oleh sang vokalis, Ari Lasso, demi ‘mengukurn batas-batas kejayaan.’ Ya, ini satu dari sekian banyak lagu ciptaan Ahmad Dhani. Yang bikin heran, kenapa sekarang dia tak bisa lagi menciptakan karya sebagus dulu? #ehh

5. Nggak cuma kota besar macam Jakarta dan Bandung saja yang ada lagunya, bahkan si kota tahu-Sumedang pun ada yang tertarik menuliskan liriknya

Kota leutik camperenik
Najan leutik tapi resik
Ngaliwat Cadas Pangeran
Mmmh, kota Sumedang

Lho kok bahasa Sunda? ya emang ini lagu Sunda. Yang urang Sumedang, bangga banget dong udah dibikinin lagu indah nan syahdu mendayu-ndayu ini oleh Doel Sumbang, sang musisi kebanggaan tanah Sunda. Lagu berjudul ‘Sumedang’ ini mulai populer di awal 1990-an, menceritakan mengenai keindahan alam si kota Sumedang. Dalam liriknya, penyanyi yang bernama asli Wahyu Affandi ini menceritakan hampir secara detail tentang bentuk dan keindahan alam Sumedang. Nah, karena Sumedang sudah terkenal akan keindahan alamnya mengenai lagu ini, maka Pemerintah Kabupaten Sumedang memberi penghargaan kepada Doel Sumbang pada 2011 silam. Nggak cuma lagu soal keindahan alam suatu kota, Doel juga sangat produktif dalam membuat lagu mengenai cerita cinta dan kehidupan. Yang kotanya belum dibikinin lagu sama Doel Sumbang, yang sabar ya…

6. Sunda udah, yang orang Jawa pasti hafal di luar kepala dong lirik lagu Stasiun Balapan-nya Didi Kempot? Nggak mungkin enggak, kan udah melegenda…

Ning stasiun balapan
Kuto solo sing dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke lungamu

Lagu yang satu ini emang legendaris banget, lagu turun temurun beberapa generasi. Coba suruh nenekmu nyanyiin, pasti bisa. Miris sih sebenernya lagu ini, tapi easy listening juga. Lagu dari seorang maestro campursari paling tersohor di negeri ini, siapa lagi kalau bukan Didi Kempot. Awal populer di era 90’an, dan hingga sekarang tetap enak didengar, sama sekali tak membosankan. Mengisahkan tentang kenangan saat berada di stasiun Balapan. Kala itu, di dalam liriknya, sepasang kekasih tengah berada disana. Salah satunya mengantarkan kekasih untuk pergi merantau yang katanya sih cuma sebentar. Eh ternyata, sampai sekarang nggak ada kabar dan nggak pulang-pulang. Ya gimana, yang nunggu ngarep banget dong sang pujaan hati kembali datang melunasi janji-janjinya. Kamu yang bernasib sama, mending nggak usah dengerin deh, daripada nanti pipimu basah.

7. Lagu soal Semarang nggak cuma ‘Semarang Kaline Banjir’ aja kok. Yang anak gaul, udah dengerin ‘Semarang’ nya  be steven steady belum?

Semarang ..kota penuh kenangan,,
Semarang kota perjuangan …
Semarang juga kota pahlawan..

Kudendangkan lagu untukmu Semarang…

huuu…

Sudah sambil nyanyi belum bacanya? Kalau belum, kamu puter dulu videonya, Hihii… Sama halnya dengan para personil Mocca yang tumbuh besar di Bandung, pun begitu dengan anak-anak Be Steven Steady. Grup musik ska asal Semarang ini dikenal dengan lagu-lagunya yang easy listening dengan lirik yang bervariasi, ada yang menggambarkan tentang realita kehidupan, salah satunya tentang keindahan kota Semarang itu sendiri. Dalam liriknya mereka menyebut beberapa icon kota Jamu ini, ada tugu muda, simpang lima, pusat oleh-oleh di Pangandaran, dan beberapa kuliner yang memang Semarang banget. Dengerin lagu ini, siap-siap kangen Semarang ya…

8. Terakhir, kota terbesar nomor dua di Indonesia macam Surabaya nggak mungkin nggak menginspirasi dong? Arek Suroboyo, sebesar apa cintamu kepada Silampukau?

Gelanggang ganas 5:15,
di Ahmad Yani yang beringas.
Sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari.
Malam jatuh di Surabaya.

Rata-rata anak muda Surabaya sekarang mah ngefansnya sama Silampukau. Gimana enggak, hampir semua lirik lagunya itu tentang Surabaya, si kota Pahlawan tercinta. Silampukau, sebuah duo yang berasal dari kota Surabaya yang terbentuk tahun 2009, namun sempat hiatus selama 4 tahun. Akhirnya, 19 April tahun 2015 lalu, mereka meluncurkan album perdana bertajuk Dosa, Kota, Kenangan. Coba dengarkan, dan kamu akan menemukan betapa simplenya aransemen yang mereka gunakan dalam setiap lagunya. Dan bersiaplah heran, karena hasilnya tetap bisa rapi dan nyaman untuk didengar. Nggak cuman satu lagu ini aja yang bercerita soal Surabaya. Masih ada ‘Si Pelanggan’ yang menggambarkan nasib tempat prostitusi terkenal se-Asia Tenggara, Dolly. Dan, selanjutnya kamu dengerin sendiri ya, siap-siap merinding.

Kotamu ada di daftar delapan lagu di atas nggak? Kalau memang belum punya lagu, nggak usah nunggu, kamu aja deh yang menciptakan. Siapa tahu kamu terkenal dan malah dapat penghargaan kaya Doel Sumbang. Hehe. Kalau emang sudah ada, kamu boleh tulis di kolom komentar ya… Selamat bernyanyi dan mengenang!

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!