Munculnya berbagai destinasi wisata baru menimbulkan problem yang dilematis. Di satu sisi menjadi kabar baik bagi para traveller, karena makin memanjakan gairahnya dalam berpetualang. Namun di sisi lain, destinasi yang banyak disambangi orang ini berpotensi besar untuk menjadi ramai, kotor dan rusak.

Ya, fenomena ini nggak terhindarkan lagi keberadaannya. Banyak destinasi wisata baru nan keren yang kemudian rusak dalam sekejap. Seneng campur sedih sebetulnya tinggal di Indonesia. Senengnya adalah kita punya banyak sekali potensi wisata yang menjanjikan di mana kita nggak perlu pergi jauh-jauh ke luar negeri. Sedihnya, kita jadi bagian dari masyarakat Indonesia yang punya watak jelek “suka merusak”. Meski kita nggak melakukannya, tapi kita kebagian stigma negatif dan gemes karena ketidakpedulian mereka.

Advertisement

Hipwee Travel mengajak kamu merenung. Gimana kalau kita nggak perlu dikit-dikit pamer foto traveling di Instagram? Apalagi kalau ujung-ujungnya rombongan alay yang datang. Yuk diskusi.

Kebiasaan posting di sosmed ternyata jadi bumerang, makin banyak orang tahu dan makin rame pula tempat wisatanya

IMG_0921

wefie boleh tapi jangan sombong di sosmed, ya!

Nampaknya kebiasaan “sosmed” sudah menjadi attitude yang hampir semua orang lakukan. Parahnya, orang-orang ini sampai melakukan segala cara supaya bisa tetap nge-hits di sosmed.

Bagus sih sebetulnya, ketika kita nge-share tempat keren baru yang belum banyak orang tahu. Karena kita telah berjasa dalam memberi informasi baru buat orang lain. Tapi, secara nggak langsung kita juga mengundang orang untuk datang ke tempat keren tersebut. Sialnya adalah ketika mereka termasuk golongan orang Indonesia yang “suka merusak”, maka kalian telah melakukan kesalahan besar. Kamu punya andil kenapa wisata Indonesia jadi rusak.

Niat hati cari tempat indie buat camping, malah jadi camping berjamaah. Kan bete!

camping berjamaah, sumpek!

camping berjamaah, sumpek! via www.google.co.id

Advertisement

Kayaknya semua orang yang hobi camping bakal cari tempat yang sepi, apalagi kalau objeknya adalah pantai. Salah satu tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk “menyepi”  atau mencari tempat yang asik untuk menenangkan diri. Jika sudah begitu, apa jadinya kalau suatu ketika kita camping, pantai yang kita datangi telah penuh berjubel oleh tenda-tenda lain? Sakit. Bukannya cari ketenangan malah justru pingin pulang. Ini juga jadi salah satu dampak dari postingan-postingan di sosmed yang salah sasaran.

Kalian nggak sedih apa, lihat tempat indah berubah jadi banyak sampah?

hamparan bunga amaryllis rusak terinjak-injak pengunjung

hamparan bunga amaryllis rusak terinjak-injak pengunjung via www.google.co.id

Pulai Sempu jadi bank sampah

Pulai Sempu jadi bank sampah via www.google.co.id

Sebagai seorang traveller yang budiman, harusnya kalian peka terhadap kerusakan yang terjadi di tempat-tempat wisata keren belakangan ini. Semua ini akibat aksi brutal yang dilakukan oleh si traveler alay yang “suka merusak” dan mereka kalian undang lewat sosmed (aaaa tidaaaakk!). Miris memang, melihat potensi keindahan alam di Indonesia yang begitu rupa, seketika berubah menjadi sampah yang menyedihkan. Manusia begini banget ya?

Destinasi wisata jadi kaya pasar, salah satu sebabnya ya karena sosial media. Sayangnya semua tempat jadi ramai dan sangat kotor pada akhirnya

gua pindul kaya cendol

gua pindul kaya cendol via www.yukpiknik.com

Sudah sering diulas mengenai banyaknya traveler dadakan yang traveling secara berjamaah dengan jumlah nggak karuan. Otomatis, tempat wisata jadi kotor, rusak dan tidak bisa dinikmati dengan nyaman. Apalagi semua orang rebutan selfie!

Kira-kira kita bisa ngelakuin apa ya, buat mengurangi dampak traveling yang merugikan alam ini?

traveler alay ke laut aje

traveler alay ke laut aje via jejakku.co

Alam adalah tempat untuk merefleksikan diri. Kita akan merasa seperti sebutir debu dari keindahan dan kekayaan alam.

Inilah perasaan yang seharusnya muncul bagi mereka yang merasa menikmati alam, merasa kecil, merasa tidak berharga. Setelah perasaan ini muncul, kita akan berproses menjadi lebih baik dan memiliki itikad baik untuk lebih berguna bagi alam yang indah.

Lalu bagaimana caranya supaya destinasi-destinasi wisata yang indah ini tetap terjaga dengan baik? Simpel, gunakan sosmed dengan bijak dengan tidak menggunakannya sebagai ajang unjuk diri agar diapresiasi oleh orang lain. Memang hal ini sudah menjadi sifat manusia, tapi setidaknya jangan sampai kita tenggelam dalam kenarsisan yang berujung pada sikap egois dan acuh pada orang lain.

Jikapun kita akan memposting pengalaman fantastis mengunjungi destinasi wisata baru yang juga fantastis, bubuhkan caption supaya orang yang melihatnya tidak hanya terinspirasi untuk datang dan berkunjung tetapi juga terinspirasi untuk menjaga keindahan alamnya dengan baik. Dan tidak alay tentunya.

Liburan nggak papa kok, asal nggak terlalu berlebihan dalam memamerkan. Mungkin sih mikirnya cuma upload foto doang, tapi yakin deh fotomu yang keren bisa jadi rujukan buat ikutan ke sana. Tujuannya pun jadi nyari foto yang keren juga. Hingga akhirnya alam pun kian terabaikan. So, hati-hati ya. Semoga kita nggak berkontribusi dalam upaya kerusakan alam.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya