Kepulauan Komodo mengalami over tourism atau kunjungan wisata secara massal dalam beberapa tahun terakhir. Massalnya kunjungan ke Taman Nasional Komodo menyebabkan beberapa kerusakan lingkungan seperti banyaknya sampah di lautan hingga terbakarnya Gili Lawa. Dampak over tourism di Komodo memang tidak main-main. Ekosistem Komodo pun lama kelamaan bisa terancam dengan kedatangan turis yang tidak terkendali.

Untuk itu, muncul wacana untuk menaikkan tiket masuk ke Taman Nasional Komodo. Wacana itu muncul dari Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat. Kira-kira kalau harga tiket naik apakah wisatawan tetap datang ke Pulau Komodo? Yuk simak ulasannya aja deh.

Wacana kenaikan tiket masuk Taman Nasional Komodo dilontarkan oleh Gubernur NTT. Menurutnya, tiket ke Komodo seharusnya mahal karena Komodo adalah makhluk langka di dunia

komodo memangsa kambing via www.reddit.com

Advertisement

“Pulau Komodo itu, kan the one and only. Kita tidak mau orang yang datang hanya untuk mempergunakan potensi yang luar biasa untuk yang murah-murah. Ini, kan, langka, di dunia cuma ada satu, maka dari itu tidak boleh murah,” ujar Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. 

Gubernur NTT, Viktor Laiskodat berencana menaikkan harga tiket masuk ke TN Komodo sebesar USD 500 (Rp 7,5 juta) untuk wisatawan mancanegara dan USD 100 (Rp 1,5 juta) untuk wisatawan domestik. Wacana tersebut tentu bikin stakeholder pariwisata dan traveler terkejut. Kenaikan harga berkali-kali lipat tersebut tentu akan bikin biaya liburan ke sana membengkak terlalu besar. Victor Laiskodat beranggapan untuk masuk ke kawasan konservasi seharusnya harganya mahal.

Viktor Laiskodat membandingkan tiket masuk Komodo dengan Bhutan, negara yang membatasi pengunjung wisata dan menetapkan tarif mahal untuk masuk ke sana

padar island via www.escapejournal.co

“Di Bhutan, kamu harus mengeluarkan uang USD 250 cuma ngeliatin gunung doang. Ini ‘kan langka, di dunia cuma ada satu, maka dari itu tidak boleh murah. Kita tidak mau orang yang datang ke potensi yang luar biasa dengan biaya murah,” ujar Viktor mantap. 

Advertisement

Perspektif Viktor Laiskodat ada benarnya. Kawasan konservasi di beberapa negara di dunia menetapkan tiket masuk yang cukup mahal untuk wisatawan mancanegara. Dengan harga yang mahal, pengunjung pun bisa berkurang namun tetap mendatangkan keuntungan yang cukup besar. Dampak lingkungan pun bisa tereduksi karena wisatawan yang mengunjungi Komodo tidak akan sebanyak seperti sekarang. Bhutan adalah contoh negara yang menetapkan tiket masuk mahal, USD 250 per hari, untuk turis yang mau masuk ke negara tersebut. Sementara Komodo masih menetapkan harga tiket 15 USD untuk turis asing atau sekitar 225 ribu rupiah.

Demi kunjungan wisatawan yang meningkat, Menteri Arief Yahya tidak sepakat dengan usulan tersebut. Menurutnya, kenaikan tiket mendadak akan membuat industri gaduh

festival komodo via www.indonesia.travel

“Harus ada kepastian. Kalau dibiarkan mengambang info ini, para travel agent dan travel operator tidak berani. Dia khawatir sudah terlanjur menjual, nanti angkanya yang 10 Dollar apa yang 500 Dollar. Nah oleh karenanya mohon bantuan rekan-rekan media. Haknya ada di LHK. Jadi LHK yang akan berikan konfirmasi,” terang Arief Yahya.

Menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya, hal ini masih sebatas wacana. Aspek legalnya harus dilihat bahwa ini kewenangan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menetapkan tiket masuk Taman Nasional Komodo. Ia berharap agar tahun depan harganya tidak mengalami kenaikan. Sebagai pihak yang bertanggung jawab dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, wajar jika Arief Yahya ingin harganya tidak mengalami kenaikan demi menjamin industri pariwisata yang stabil.

Kekhawatiran yang wajar mengingat jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara akan jeblok jika tiket masuk Taman Nasional Komodo mentok di angka USD 500 untuk wisatawan mancanegara dan USD 100 untuk wisatawan domestik. Menurut kamu gimana nih, sepakat atau tidak? Tulis di komentar ya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya