May Day atau libur untuk memperingati Hari Buruh Internasional pada hari Jumat lalu dibarengi dengan long weekend yang gak disia-siakan oleh penikmat liburan. Sebagai salah satu daerah tujuan utama, destinasi Yogyakarta pun tak luput dari serbuan wisatawan. Ya, kemacetan di Malioboro maupun ruas-ruas jalan lainnya di Jogja udah jadi pemandangan biasa ketika libur panjang tiba.

Tapi, pemandangan yang cukup menarik tampak dari sebuah foto yang diunggah di oleh laman Backpacker Nusantara di Facebook pada hari Sabtu (2/5/2015). Foto itu memperlihatkan pintu masuk Goa Pindul yang dikerubungi ratusan pengunjung yang sudah siap dengan bannya masing-masing, mengantre untuk melakukan body rafting menyusuri aliran sungai di dalam goa. Wah, kirain demo buruhnya pindah ke sini!

Advertisement

Polemik pengelolaan yang menghasilkan gelombang turisme massal ke Goa Pindul ini cukup menarik untuk dibahas. Sebenarnya, apa sih yang ada di balik membludaknya kunjungan wisatawan ke salah satu objek wisata paling ngehits di Gunungkidul ini?

Goa Pindul, pesona alam yang unik dan menawan di antara tandusnya perbukitan karst Gunungkidul

Eloknya Goa Pindul

Eloknya Goa Pindul via beautifultraveling.wordpress.com

Goa Pindul yang terletak di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo ini diresmikan sebagai tempat wisata sejak Oktober 2010 oleh mantan Bupati Gunungkidul, Alm. Sumpeno Putro. Sejak saat itu, keelokan goa ini tersebar dari mulut ke mulut dan lewat ulasan yang ditulis oleh para travel writer di blognya, menjadikan goa Pindul sebagai salah satu magnet pariwisata yang kuat di Gunungkidul.

Hanya dengan merogoh kocek 35 ribu rupiah, kamu udah bisa menikmati serunya melakukan body rafting di aliran sungai bawah tanah, lengkap dengan pemandangan ornamen-ornamen goa yang memukau. Sebuah harga yang murah untuk mendapatkan pengalaman yang mendebarkan dan unik dibandingkan liburan ke gunung, pantai, atau museum.

Advertisement

Dengan daya tariknya yang menawan, semenawan bodi Roro Fitria, maka gak heran jika wisatawan berlomba-lomba untuk menjamahi lekuk pesonanya. Jumlah pengunjung tentunya berbanding lurus dengan pendapatan yang diperoleh pengelola dan warga sekitar. Nah, inilah yang menghasilkan masalah baru di kawasan Goa Pindul.

Menjamurnya jasa operator di Goa Pindul menimbulkan kemelut di mulut goa

Spanduk penunjuk objek wisata Goa Pindul di sepanjang jalan

Spanduk penunjuk objek wisata Goa Pindul di sepanjang jalan via www.sorotgunungkidul.com

Tak cuma air yang mengalir melalui goa Pindul. Derasnya uang yang mengalir membuat banyak pihak tergiur untuk ikut-ikutan mengais rezeki dari wisatawan yang bertandang ke Pindul. Masih lekat dalam ingatan kita soal sengketa Goa Pindul yang berujung pada penutupan paksa oleh salah satu pihak.

Awalnya, hanya ada satu pihak operator Goa Pindul, yaitu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Bejiharjo atau Dewa Bejo, perintis yang berjasa mengubah goa Pindul menjadi terkenal seperti sekarang. Kini, ada setidaknya 10 kelompok pengelola atau operator  yang ikut mengelola dan menikmati aliran uang di Pindul ini.

Operator-operator wisata Pindul ini punya pegawai yang butuh digaji. Alhasil, timbul persaingan yang kurang sehat antar operator untuk mendatangkan wisatawan, mulai dari perang tarif sampai perang komisi untuk joki. Udah kayak operator seluler aja, deh.

Kalau kamu menuju ke arah Wonosari dari Yogyakarta, kamu akan dengan mudah menjumpai spanduk-spanduk bertuliskan wisata Goa Pindul, lengkap dengan pemandu yang siaga untuk mengantarmu ke sana. Inilah bukti bahwa objek wisata goa Pindul telah menjadi magnet wisata yang luar biasa, namun pengelolaannya tak terkontrol.

Turisme massal di kawasan ekowisata gak cuma merugikan alam, tapi juga pengunjung dan warga sekitar

Turisme massal di Goa Pindul

Turisme massal di Goa Pindul via www.facebook.com

Kita semua pasti terhenyak melihat pemandangan ini. Coba, apa enaknya berjejalan di tempat wisata yang penuh dengan manusia?Alih-alih mendapatkan ketenangan, justru keteganganlah yang didapat.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Goa Pindul mengalami overload pengunjung. Tahun 2013, hal yang sama juga mencuat ke permukaan. Sayangnya, sampai sekarang, masalah ini masih juga belum dibenahi. Padahal, objek wisata Pindul adalah salah satu kawasan wisata minat khusus, bukan kawasan wisata massal seperti taman rekreasi, water park, atau kebun binatang.

Kapasitas Goa Pindul sendiri sebenarnya hanya bisa menampung sampai dengan 200 orang wisatawan setiap harinya. Kenyataannya, di akhir pekan pengunjung bisa meningkat sampai 10 kali lipat.

Goa Pindul, mau sampai kapan?

Goa Pindul, mau sampai kapan? via arifsulistyo.com

Apa jadinya jika keadaannya terus-menerus seperti ini? Gelombang massa yang berlebihan jelas akan berdampak pada lingkungan goa, wisatawan, maupun warga sekitar. Ornamen-ornamen goa yang terbentuk selama ribuan tahun bisa patah dan rusak begitu saja. Kelangsungan biota yang hidup di air sekitar Pindul juga akan terganggu.

Tak cuma alam yang terancam, keselamatan wisatawan juga dipertaruhkan. Goa yang sempit dijejali ribuan manusia, bukan mustahil jika ada yang sesak napas bahkan pingsan karena kekurangan oksigen. Rapatnya pengunjung akan mempersulit evakuasi. Padahal, untuk menyusuri Goa Pindul setidaknya membutuhkan waktu 45 menit sampai 1 jam.

Jika goanya rusak atau terjadi insiden lalu pengunjung menurun, pihak pengelola dan warga sekitarnyalah yang rugi. Otomatis pemasukan mereka pun akan terpangkas. Makanya, kita semua perlu memperhatikan keberlangsungan kawasan wisata agar tetap terjaga dan bisa dinikmati untuk waktu yang lama.

Daripada saling menyalahkan, mari kita berusaha mengupayakan solusi

Kapan kita bisa menikmati Pindul yang ini lagi?

Kapan kita bisa menikmati Pindul yang ini lagi? via www.mklop.com

Gak bisa dipungkiri, pariwisata itu bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ada destinasi dengan keelokan luar biasa yang layak untuk dijelajahi. Tapi di sisi lain, keindahan itu sangat rentan dieksploitasi atas nama kesenangan dan urusan duit. Sebut saja Cagar Alam Pulau Sempu yang mestinya steril dari segala aktivitas wisata maupun Semeru yang tak luput dari gunungan sampah akibat membludaknya pendaki yang mendaki ke sana.

Goa pindul adalah salah satu contoh pengelolaan pariwisata yang masih carut-marut. Menyalahkan pengelola, pemda, bahkan pengunjung memang hal yang mudah, tapi apa itu bakal menyelesaikan masalah? Apalagi, permasalahan yang dimiliki oleh objek wisata ini tergolong kompleks.

Pembatasan kuota serta penutupan sementara untuk pemeliharaan kawasan perlu diupayakan sesegera mungkin. Memang, sebagian operator telah melakukan upaya pembatasan kuota bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Goa Pindul. Tapi, usaha ini juga perlu dukungan dan kekompakan dari operator lainnya. Kalau nggak, wisatawan yang tidak mendapat kuota dari operator yang satu, akan beralih ke operator lain yang bandel.

Untuk itu, pemda sebagai pemegang otoritas juga perlu turun tangan. Bisa dengan cara mengeluarkan peraturan untuk membatasi kuota pengunjung dan menjaga agar semua operator bisa tertib.

Sebagai traveler yang cukup cerdas dan sadar lingkungan, kita juga bisa berperan aktif. Kalau memang suatu objek wisata sudah terlalu ramai, tentu lebih baik kalau kita urung dulu ke sana dan beralih ke objek wisata alternatif. Toh, masih banyak tempat menarik lainnya yang layak dijelajahi keindahannya.

Atau, kamu juga bisa berkunjung dengan melakukan reservasi lewat pengelola resminya, untuk mengetahui penuh enggaknya kuota yang tersedia. Mendatangi kawasan wisata dengan perantaraan joki cuma akan menyuburkan persaingan yang gak sehat serta membuat gemuk operator nakal.

Memang, agar pariwisata di suatu tempat bisa berjalan dengan baik, perlu kesiapan yang matang dari pihak pengelola. Tapi, sebagai wisatawan kita juga punya kontrol untuk mendorong pengelolaan wisata di Indonesia menjadi lebih baik.

Semoga saja, kita bisa kembali menikmati Goa Pindul yang asri dan terjaga.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya